Peluang Usaha Era Santri Milenial: “Santri Mandiri Prestasi Negeri”

by Oktober 21, 2017
durasi baca: 3 menit

almunawwir.com (Krapyak) – Departemen Pemberdayaan Ekonomi Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak gelar kegiatan berbasis santri entrepreneur sekaligus salah satu agenda Open Recruitment Anggotanya. Agendanya berupa Talkshow Bisnis bersama wanita tangguh “Pejuang Bisnis dari Nol”. Tujuannya menciptakan Santri Mandiri Prestasi Negeri”. Kamis (19/10).

Dalam agenda ini, Direktur departemen pemberdayaan ekonomi Pondok pesantren Al-Munawwir, Muhammad Kholis Habibi menyampaikan bahwa tujuan diselenggarakannya acara ini yaitu : Pertama, untuk menjaring kader muda ekonomi khususnya santri Almunawwir. Nantinya mereka diberdayakan untuk bergabung di departemen pemberdayaan ekonomi.

Kedua, membuat jejaring atau koneksi antar santri yang memiliki atau sedang merintis usaha. Disamping kewajibannya untuk menuntut ilmu di pondok ini. Ketiga, menumbuhkan jiwa kewirausahaan kepada santri sehingga dapat lebih mandiri. Selain niat sebagai pondasi utama di luar modal material, para pebisnis pemula juga harus memahami beberapa aspek yang mempengaruhi bisnis. Hal-hal seperti passion diri, segmen pasar, produk, marketing, peluang dan bahkan ancaman harus di kuasai dengan baik guna kelangsungan bisnis tersebut.

Kegiatan ini bertempat di Aula G dan di mulai pukul 16:00 waktu setempat, dengan menggaet pembicara sekaligus pembisnis muda Muna Munawarsari, owner dari jogjakartour.com, Departemen Pemberdayaan Ekonimi berusaha memberikan pengertian, bahwa di era sekarang ini santri milenial harus mampu menciptakan inovasi baru dan terjun secara langsung di bidang kewirausahaan.

Dalam dialog ringan ini, Muna menyampaikan bahwa seorang santri saat ini tidak hanya bertugas mengaji namun juga harus mengembangkan diri pada dunia ekonomi, salah satunya menjadi seorang pembisnis muda.

Selain itu dalam dunia bisnis, ia juga mengingatkan bahwa uang bukanlah segalanya. Perempuan kelahiran Purbalingga menceritakan betapa ia banyak berjuang. Ia harus membangun bisnis dengan pondasi hutang yang tidak kecil. “From Minus tapi nggak ngenes,” ungkapnya. Sontak mengundang tawa peserta talkshow. Dengan adanya hutang tersebut ia akhirnya tetap teguh untuk melanjutkan bisnisnya.

Muna juga berpesan bahwa dalam berbisnis seseorang jangan lupa melibatkan peran Allah SWT dalam setiap langkahnya. Ia menyampaikan banyak kisahnya dalam melibatkan Yang Kuasa dalam setiap bisnisnya.

Selain talkshow bersama Muna Munawarsari, juga ada presentasi hasil usaha kelompok ekonomi. Kelompok telah di bentuk minggu lalu. Presentasi tersebut menjadi agenda pertama sekaligus ajang kompetisi yang diadakan Departemen Pemberdayaan Ekonomi.

Dalam presentasinya, masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk menyampaikan jumlah modal. Hasil dan laba mereka dari hasil penjualan produk selama empat hari dihitung dari hari minggu hingga kamis. Dari tujuh kelompok diambil satu kelompok yaitu kelompok tujuh sebagai pemenang dengan hasil laba sebesar 250.000. Pemenang mendapatkan paket hadiah dari departemen pemberdayaan ekonomi.

Adapun untuk ke ke-enam kelompok tersebut, kelompok satu mendapat laba sebesar 141.400. Kelompok dua, 110.000 Kelompok tiga sebesar 144.500. Kelompok empat 8.000. Kelompok lima 181.500 dan kelompok enam 223.400.

Dari serangkaian acara ini, diharapkan nantinya santri bisa mendapatkan banyak motivasi dalam dunia wirausaha sekalipun bukan pada bidang studinya. “Dengan terselenggaranya acara ini harapan kami nantinya akan semakin tumbuh dan berkembang santri-santri mandiri yang berjiwa entrepreneur.” ungkap Fakhtul Tsani Rohana.

Acara yang berdurasi kurang lebih dua jam tersebut memberikan banyak kesan dan pesan bagi peserta sekaligus Santri Krapyak. “Indonesia akan mengalami bonus demographic dan pasar bebas asean. Maka dengan adanya acara ini santri terlebih saya akan mengerti dan paham bahwa dunia bisnis harus kami tekuni untuk tetap bisa bertahan hidup di era modernisasi ini,” ucap salah satu peserta Talkshow.

“Program ini luar biasa sekali, sangat-sangat membantu, hingga mampu menggerakan fikiran teman-teman untuk terus kreatif, membantu santri-santri yang belum pernah bekerja hingga mengetahui bagaimana rasanya mencari uang, penggemlengan mental ada disana”. ungkap Rini, salah satu peserta kegiatan ini. Seusai kegiatan ini peserta disediakan satu angket formulir open recruitment dan diakhiri dengan sesi foto bersama. [Aninda/Sa’adah]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.