Obituari KH R M Najib Abdul Qodir: Kembalinya Pembawa Al-Qur’an kepada Sang Maha Pencipta

by Februari 21, 2021
durasi baca: 3 menit

 

KH. R. Muhammad Najib Abdul Qodir. Ilustrasi by @vckyyhr

Oleh: KH. Muhammad Habib A. Syakur*

Almunawwir.com – Saya mengenal beliau sejak tahun 1973, ketika itu saya kelas 3 Madrasah Ibtida’iyah di Klaten, ikut kakak saya KH Drs. Ja’far A. Syakur (Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Srimpi Karangmojo Gunungkidul) mondok “pasanan” di Krapyak. Mas Ja’far waktu itu kelas 3 MTs Krapyak.

Saya mondok “pasanan” hanya betah 11 hari, tetapi saya sudah merasa mencicipi ilmu membaca al-Qur’an dari Mas Najib (panggilan al-Maghfurlahu KH R. M. Najib Abdul Qadir) saat itu. Saya lupa, apakah saya lulus bacaan Surah al-Fatihah atau tidak. Tetapi nama Mas Najib sangat membekas di dalam benak saya.

Baru pada tahun 1976 saya benar-benar menjadi santri Krapyak. Saya tidak mengaji al-Qur’an kepada Mas Najib, tetapi kepada al-Maghfurlahu KH. Ahmad Munawwir di Komplek L. Ketika itu Mas Najib, kalau tidak salah, masih mondok di Kudus untuk mengkhatamkan Qira’ah Sab’ah kepada al-Maghfurlahu KH. Arwani Amin Kudus. Setelah Mas Najib boyong dari Kudus, baru saya mengaji al-Qur’an kepada beliau.

Perlu diketahui, pada saat itu panggilan “Gus” untuk putra-putra Kiai Krapyak belum populer. Akan tetapi setahu saya, setelah al-Maghfurlahu boyong dari Kudus, panggilan “Gus” baru disematkan kepada beliau, dan beliaulah satu-satunya putra Kiai Krapyak yang saya panggil dengan sebutan “Gus”.

Ketika mengaji al-Qur’an kepada beliau, saya betul-betul memperhatikan cara membaca beliau. Bagaimana menepatkan makharij al-huruf, shifat al-huruf, ahkam tanwin wa nun taskun ‘ind al-hija’ (hukum tanwin dan sukun ketika bertemu huruf hija’iyah), ahkam al-mim al-sakinah (hukum mim sukun), madd, fawatih al-suwar, ghara’ib al-qira’ah dan lain-lain.

Saya sangat terkesan dan mencoba membaca sebagaimana ketika beliau membaca huruf “jim”, “shad”, “syin” dll yang tidak sama dengan bacaan kebanyakan orang. Begitu juga bacaan huruf-huruf qalqalah ketika sukun.

Baca Juga: Katib ‘Am PBNU: Barokah dan Atsar KHR. M Najib Abdul Qodir, sebagai Pijakan Menghidupi Wadhifah-Wadhifah dan Menghidupkan Ilmu

Bahkan yang sangat menarik adalah ketika beliau membaca “isymam” pada ungkapan “La ta’manna” di Surah Yusuf, saya merasa hati saya bergetar, karena bacaan “isymam” beliau sangat menusuk hati dan terasa sangat sesuai dengan alur ceritanya. Saya membayangkan kakak-kakaknya Nabi Yusuf AS ketika berbicara kepada Nabi Ya’qub AS dengan intonasi dan nada suara sebagaimana yang beliau baca.

Metode Pengajaran

Metode pengajaran al-Qur’an yang dilakukan al-Maghfurlahu KH. R. M. Najib A. Qodir memang tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh Guru beliau al-Maghfur lahu KH. Ahmad Munawwir, yaitu dengan metode sorogan.

Metode sorogan adalah metode yang mana santri membaca al-Qur’an, baik bi al-hifzh (hafalan) maupun bi al-nazhr (membaca dengan melihat mushaf al-Qur’an), di hadapan guru, sedangkan guru mendengarkan atau menyimak bacaan santri itu. Jika terjadi kesalahan bacaan/hafalan guru membetulkannya.

Metode sorogan ini di dalam ‘Ulum al-Hadits biasa disebut dengan al-Qira’ah ‘ala al-Syaikh. Namun, ada hal yang istimewa yang dilakukan oleh al-Maghfur lahu KH. R. M. Najib Abdul Qodir, yaitu beliau mempercayakan kepada santri-santri tertentu yang menurut beliau sudah memiliki kompetensi yang cukup dalam bacaan/hafalan al-Qur’an untuk menyimak bacaan santri lain yang masih pemula. Istilah kerennya beliau memilih beberapa santri untuk menjadi asisten beliau dalam mengajar al-Qur’an.

Dengan demikian, santri terpilih itu sudah mulai belajar untuk menjadi pengganti beliau atau paling tidak sudah memiliki pengalaman mengajar al-Qur’an sebagaimana yang beliau lakukan. Jadi santri itu dipersiapkan untuk menjadi pengajar al-Qur’an pada masa yang akan datang.

Santri beliau yang menjadi asisten tidak berhenti pada proses pembelajaran di Pondok Pesantren dengan metode sorogan saja, akan tetapi juga berlanjut pada acara-acara semaan al-Qur’an, baik yang rutin maupun temporer.

Misalnya pada pengajian rutin Ngad Pahingan (Ahad Pahing) NU Bantul. Pada pengajian rutin yang sudah berjalan lebih dari 60 tahun itu, beliau mendapat jatah semaan al-Qur’an sebagai pembuka pengajian rutin lapanan (setiap 35 hari sekali) tersebut. Untuk hal ini biasanya asisten beliau adalah para santri yang sudah khatam al-Qur’an 30 Juz bi al-hifzh.

Baca Juga: 40 Hari Wafat KHR. M. Najib Abdul Qodir, KH Said Asrori: Lisanuhul Qur’an, wa Qalbuhul Qur’an

Mengikuti MHQ Internasional

Kira-kira tahun 1980an awal, Departemen Agama RI pertama kali memasukkan cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) di dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).

MTQ Nasional waktu itu digelar di Propinsi Aceh. Cabang MHQ 30 Juz Krapyak betul-betul berkibar, karena Juara I dan Juara II dari Krapyak. Juara I Kang Umar (asisten al-Maghfur lahu KH. Ahmad Munawwir) dan Juara II Gus Najib (panggilan akrab beliau saat itu).

Kang Umar, kalau tidak keliru, santri komplek L dari Indramayu yang setiap shalat Tarawih di bulan Ramadhan selalu di samping imam Tarawih waktu itu, al-Maghfur lahu KH. Ahmad Munawwir, untuk menyimak bacaan al-Qur’an imam.

Gus Najib yang Juara II Nasional diajukan untuk mengikuti MHQ Internasional di Syria, dan seingat saya Gus Najib masuk dalam 5 besar dunia, dan MHQ Internasional ini adalah MHQ yang pertama kali diikuti oleh peserta dari Indonesia.

Cerita ini saya tulis, karena waktu itu saya sangat bangga dengan capaian yang diperoleh oleh al-marhum al-maghfurlahu, yaitu 5 besar dunia. Berarti Pondok Pesantren Krapyak memang berkelas dunia.

Berita tentang hal ini, waktu itu, saya tulis di Majalah berbahasa Arab yang diberi nama ‘Ukazh hasil karya santri-santri MA Krapyak di bawah bimbingan al-marhum KH. Zainuddin Maftuhin, Lc, dan penulis menjadi salah satu Dewan Redaksi.

 

*Pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul Yogyakarta

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *