Obituari KH. Atabik Ali: Pak Bik dan Kamus Al-Ashry

by Februari 22, 2021
durasi baca: 2 menit

KH. Atabik Ali berjabat tangan dengan Menag RI Lukman Hakim Saifuddin. Dok: Istimewa

Oleh: KH. Muhammad Habib A. Syakur*

Almunawwir.com – Awal tahun 1990an hampir setiap malam saya berada di ndalem KH. Atabik Ali, atau yang saat itu kami para santri Krapyak memanggil al-Maghfurlahu dengan sebutan “Pak Bik”.

Saya dipilih dan diperintahkan oleh beliau untuk mengetik kamus yang sedang beliau tulis. Saya diperintah tanpa diberitahu apakah akan dibayar sebagai upah jerih payah saya mengetik kamus itu atau tidak, yang penting saya melaksanakan perintah dan bangga melaksanakannya.

Kenapa saya bangga? Karena saya satu-satunya santri yang dianggap “ahli” mengetik Arab maupun Latin. Kata orang, kalau saya mengetik itu dengan “merem” (memejamkan mata).

Di samping itu, saya bisa menggunakan mesin ketik modern pada saat itu, yaitu mesin ketik elektrik yang hasil ketikannya sangat tajam. Selama ini kalau saya mengetik di Kantor Pondok Krapyak maupun di Kantor Madrasah hanya dengan mesin ketik manual yang jika salah harus dihapus dengan tipe-x.

Tidak hanya itu, ternyata menggunakan mesin ketik elektrik hanya berjalan sangat singkat, mungkin kira-kira 1 bulan. Ternyata Pak Bik membeli Komputer super canggih saat itu, yaitu Komputer Macintos, yang bisa dipakai untuk menulis Arab.

Ba’da shalat Isya’ adalah waktu “ngantor” saya di ndalem Pak Bik. Biasanya sampai jam 10 atau 11 malam saya memasukkan data calon “Kamus Al-Ashry” itu.

Semalam saya bisa menulis calon kamus itu kira-kira 10 lembar tulisan tangan. Kosakata yang dimasukkan dalam calon kamus itu banyak kosakata yang tidak biasa saya baca, karena ada kosakata khusus kedokteran, arsitektur, ekonomi dll. Dan baru saat itu saya melihat Kamus Arab-Inggris, antara lain adalah Kamus Al-Mawrid.

Baca Juga: NU DIY Siapkan Relawan Santri untuk Pemulasaraan Jenazah Covid-19

Urutan Kamus Al-Ashry yang ditulis oleh Pak Bik abjadnya sama dengan dengan kamus-kamus yang beredar saat itu, yaitu dimulai dengan huruf alif dan diakhiri huruf ya’.

Akan tetapi kamus ini berbeda dengan kamus-kamus yang lain, yaitu tidak menggunakan pokok kata yang diikuti derivasinya, atau mudahnya tidak menggunakan isytiqaq sharfi (pecahan kata sesuai kaidah sharaf) tapi huruf apa pun permulaan kata yang dipakai sebagai acuan urutan.

Sehingga siapa pun bisa menggunakannya tanpa harus mengetahui tashrifan yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja, terutama orang-orang pesantren.

Jika ada kata متعلم misalnya, orang langsung cari di bab mim yang diikuti ta’ dst. Orang tidak perlu susah-susah mencari akar katanya, yaitu علم.

Kamus ini sangat cocok bagi siapa pun yang biasa membaca Arab walaupun belum mengetahui teori sharaf. Dan ternyata, saat saya di Mesir pada tahun 2005-2006, beberapa kawan di Mesir menyatakan bahwa mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Mesir senang menggunakan Kamus Al-Ashry ini, karena mudah mencari terjemah kata tertentu dengan tanpa harus tahu ilmu sharaf.

Oh iya. Ternyata Bu Nyai Hj. Maryati (istri al-Maghfurlahu) pada saat-saat tertentu sering ngasih amplop kepada saya yang isinya tidak perlu diketahui oleh khalayak.

Kamus Al-Ashry adalah jariyah al-Marhum al-Maghfurlahu KH. Atabik Ali yang dipakai oleh berbagai kalangan. Beliau menulisnya biasanya di sepertiga malam terakhir, di saat kebanyakan orang tertidur lelap dengan mimpi-mimpinya.

اللهم أعل درجته في جنتك. آمين

 

*Pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *