NISFU SYA’BAN : HISTORISITAS, KEISTIMEWAAN DAN AMALIYAH

by Maret 17, 2022
durasi baca: 5 menit

Bulan Sya’ban seperti yang sudah maklum diketahui termasuk bulan yang mulia. Bulan ini diapit oleh dua bulan yang juga sangat mulia, yakni bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Banyak keistimewaan di dalamnya, bahkan ada beberapa kejadian penting yang terjadi pada bulan ini yang cukup fenomenal dan monumental bagi umat muslim.

Diantara peristiwa penting di bulan Sya’ban adalah terjadinya peralihan kiblat (Tahwil al-Qiblat) yang semula menghadap ke Baitul Maqdis dialihkan menjadi menghadap ke Ka’bah. Imam al-Qurtuby dalam kitabnya al-Jami’ li ahkam al-Qur’an mengutip Abu Hatim, beliau menjelaskan bahwa umat muslim sebelumnya sudah melaksanakan ibadah sholat menghadap Baitul Maqdis selama 17 bulan 3 hari terhitung sejak diturunkannya perintah sholat setelah peristiwa Isra’ Mi’raj. Kemudian Allah mengalihkan kiblat kearah Ka’bah  pada hari Selasa bertepatan dengan tanggal 15 Sya’ban.

Peristiwa lainnya yang terjadi pada bulan ini adalah adanya rekapitulasi dan pelaporan amal yang bersifat lebih besar dan lebih luas dalam masa setahun. Sekalipun pelaporan amal ini tidak hanya khusus ada di bulan Sya’ban tapi pelaporan pada waktu ini lebih luas cakupannya dibanding waktu pelaporan amal yang lain. Dijelaskan dalam beberapa riwayat hadis memang ada beberapa waktu pelaporan amal yang bersifat harian dan mingguan. Masing-masing mempunyai urgensi dan hikmahnya tersendiri.

Peristiwa berikutnya yang terjadi pada bulan ini adalah diturunkannya ayat tentang perintah bershalawat pada Nabi Muhammad saw. Inilah yang kemudian melatarbelakangi sebutan bulan shalawat disematkan pada bulan Sya’ban. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa perintah shalawat kepada nabi melalui Surat al-Ahzab ayat 56 turun pada bulan Sya’ban kedua tahun Hijriyah.

Dari beberapa peristiwa tersebut, yang paling sering diperingati oleh umat muslim adalah Nisfu Sya’ban terutama pada malam harinya. Dari segi makna sangat jelas bahwa yang dimaksud adalah hari ke 15 dari bulan Sya’ban. Pada malam Nisfu Sya’ban inilah pelaporan amal dilakukan oleh para malaikat untuk disetorkan kepada Allah. Dijelaskan pula oleh ulama’ bahwa pada hari ini juga akan mulai dibuka catatan amal baru yang akan diisi selama setahun kedepan.

Secara historis, permulaan perayaan malam Nisfu Sya’ban sebenarnya sudah dimulai oleh  kalangan sahabat. Al-Waqidy dalam kitab Futuh asy-Syam, beliau menceritakan bahwa dalam pasukan Abdullah ibnu Ja’far yang akan melakukan ekspansi ke Syam ada seorang sahabat bernama Watsilah ibnu Asqa’. Pada suatu malam yang bertepatan dengan malam Nisfu Sya’ban, Watsilah  berkata pada Abdullah ibnu Ja’far bahwa malam tersebut adalah malam Nisfu Sya’ban, malam yang sangat agung dan mulia. Beliau menyampaikan sebenarnya ingin memperingati Nisfu Sya’ban dengan beribadah sepanjang malam tetapi berhubung perjalanan perang ini lebih penting maka dia tidak bisa melaksanakannya.

Dari riwayat di atas setidaknya menjelaskan bahwa kalangan sahabat sebenarnya sudah memulai memperingati malam Nisfu Sya’ban dengan amaliyah ibadah. Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathaif al-Ma’arif menjelaskan bahwa sejarah mencatat tradisi menghidupkan malam Nisfu Sya’ban ini mulai populer pada masa kalangan Tabi’in di Syam. Diantara yang mempopulerkan peringatan Nisfu Sya’ban adalah Khalid ibnu Ma’dan, Makhul dan Luqman ibnu Amir. Mereka punya amaliyah masing-masing dalam mengisi dan menghidupkan malam Nisfu Sya’ban. Akan tetapi pada masa itu tidak sedikit ulama’ yang menolak peringatan malam Nisfu Sya’ban dengan diisi amaliyah tertentu, diantaranya adalah Ulama’ Hijaz yang mengingkari hal ini dan menganggapnya sebagai perkara bid’ah.

Terlepas dari historisitas serta kontroversinya, realitanya sampai saat ini banyak umat muslim yang memperingati malam Nisfu Sya’ban dengan berbagai macam amaliyah. Tidak hanya itu bahkan para ulama’ banyak yang menaruh perhatian khusus dalam masalah Nisfu Sya’ban, terbukti dengan banyaknya karangan kitab yang membahas tentang hal ini. Diantaranya kitab al-Idhoh wa al-Bayan Lima Ja`a fi Lailat an-Nishfi min Sya’ban karya Ibnu Hajar al-Haitami, kitab Ma Ja`a fi Syahri Sya’ban karya al-Hafidz Abu al-Khatib Dihyah al-Andalusy, kitab Fi Lailat an-Nishfi karya Imam al-Ajhury, kitab Husnu al-Bayan fi Lailat an-Nishfi min Sya’ban karya Abdullah Muhammad al-Ghimary dan masih banyak lagi kitab lainnya yang serupa.

Keistimewaan malam Nisfu Sya’ban sendiri banyak diriwayatkan dalam beberapa hadis. Meskipun memang harus diakui banyak hadis dhaif terkait hal ini, akan tetapi ada beberapa hadis yang kualitasnya masih bisa diperhitungkan sebagai dalil. Salah satunya, berikut hadis yang diriwayatkan oleh Mu’adz ibnu Jabal:

عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ عَنِ النبِىِّ ِ قَالَ يَطّلِعُ اللهُ عَزّ وَجَلّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلِاّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (رواه الطبراني(

Dari Mu’adz bin Jabal, “Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah memperhatikan hambanya (dengan penuh rahmat) pada malam Nishfu Sya’ban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyahin (orang yang menebar kebencian)”. (HR Thabrani)

Tentunya keistimewaan terbesar malam Nisfu Sya’ban karena pada malam tersebut amal-amal dilaporkan, bahkan nabi saja dalam suatu riwayat mengharapkan ketika pelaporan amal beliau ingin dicatat dalam keadaan berpuasa. Adapun hadis di atas menunjukkan bahwa pada malam Nisfu Sya’ban Allah akan menurunkan banyak rahmatNya serta akan mengampuni dosa para hambaNya. Selain itu, malam ini juga diyakini sebagai malam yang mustajab, dimana doa doa yang dipanjatkan lebih berpotensi untuk diijabah oleh Allah. Pada malam ini pula Allah akan melapangkan orang yang sedang kesusahan, dan akan ditulis ketentuan rizqi dan amal dalam setahun ke depan.

Mengenai amaliyah apa yang dianjurkan dilakukan untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza fi Sya’ban menjelaskan selain melakukan puasa di siang harinya juga dianjurkan untuk membanyak doa (termasuk doa Nisfu Sya’ban yang sudah sangat masyhur), memperbanyak membaca dua kalimat syahadat, serta memperbanyak istighfar.

Ada juga amaliyah sholat sunnah Nisfu Sya’ban, akan tetapi menurut jumhur ulama’ amaliyah ini tidak berdasar. Bahkan Imam Nawawi dan Ibnu Hajar al-Haitami berpendapat bahwa sholat dengan niat khusus Nisfu Sya’ban termasuk bid’ah. Adapun sholat sunnah mutlak yang dilakukan pada malam Nisfu Sya’ban tanpa niat khusus menurut jumhur ulama’ justru hukumnya boleh saja dilakukan.

Selain amaliyah yang sudah disebutkan di atas, ada amaliyah yang sudah menjadi tradisi banyak pondok pesantren yakni membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali setelah sholat maghrib pada malam Nisfu Sya’ban. Pembacaan Yasin pertama diniatkan meminta dipanjangkan umur dalam ketaatan, pembacaan Yasin kedua diniatkan meminta perlindungan dari musibah serta kelancaran rezeki. Pembacaan Surat Yasin yang ketiga diniatkan untuk meminta kebesaran hati dan husnul khatimah.

Amaliyah pembacaan Yasin tiga kali dengan niat seperti yang sudah dijelaskan di atas sebenarnya banyak mendatangkan kritik bahkan ada yang menghukumi bathil. Sayyid Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki secara berani membela dan meng-counter kritikan tersebut. Beliau secara tegas berkata dalam kitabnya Ma Dza fi Sya’ban:

اقول: ان هذه الدعوى هي بنفسها باطلة، لانها مبنية على قول لادليل له، وفيه تحكم وتحجير لفضل الله ورحمته 

والحق أنه لامانع ابدا من استعمال القرأن، والأذكار، والأدعية، للأغراض الدنيوية، والمطالب الشخصية والحاجات والغايات والمقاصد بعد اخلاص النية لله في ذلك.

“Aku berkata : Sesungguhnya tuduhan ini sendiri yang bathil, tuduhan ini tidak didasari dalil malah justru terkesan menghukumi dan menghalangi karunia dan rahmat Allah. Sedangkan yang benar menurutku, tidak ada larangan menggunakan bacaan al-Qur’an, dzikir, doa-doa untuk tujuan duniawi, permintaan pribadi, hajat, tujuan dan maksud tertentu setelah adanya keikhlasan niat karena Allah dalam melakukan hal tersebut.”

 

Terlepas dari hal di atas, mari kita hidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan mengisinya dengan amaliyah positif yang bernilai ibadah. Tutup laporan dengan amal baik serta awali lembaran catatan juga dengan amal yang baik. Kita bisa memilih amaliyah mana yang akan dilakukan selagi amaliyah tersebut masih didukung oleh pendapat jumhur ulama’. Jadikan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam romantisme seorang hamba beribadah pada Tuhan. Wallahu A’lam

 

Mohammad Abdullah Rifqi, S.Ag, alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak dan alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2018 Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, menekuni Kajian Fiqh, Kajian Al-Quran dan Kajian Keislaman.

 

Editor: M ‘Ainun Na’iim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.