Ngaji Tanqihul Qoul: Mengaku Cinta, Apa Buktinya?

durasi baca: 2 menit

Rasulullah saw telah bersabda bahwa ulama adalah pewaris para Nabi. Tidak berlebihan jika dalam hadis lain Rasulullah saw mengumpamakan bahwa siapa saja yang mengunjungi orang alim maka sama saja ia mengunjungi Rasulullah saw. Barangsiapa yang bersalaman dengan orang alim, maka sama saja ia bersalaman dengan Rasulullah saw. Barang siapa yang duduk bersama orang alim, sama saja ia duduk bersama Rasulullah saw. Mereka akan bertemu dengan Rasulullah saw kelak di hari kiamat.

Mencintai para orang alim (ulama) sudah barang tentu akan dicintai Allah swt dan Rasul-Nya. Perihal mencintai orang alim, Rasulullah saw pernah bersabda bahwa para ulama adalah orang yang mulia di sisi Allah swt dan dimuliakan. Maka jadilah penuntut ilmu jika belum mampu menjadi orang alim, atau menjadi orang yang mencintai para penuntut ilmu dan orang alim. Jangan sekali-kali menjadi orang yang rusak, yaitu yang tidak menyukai keduanya. Dari hadits ini dapat diklasifikasikan tingkatan hamba Allah, yaitu:
1. Orang alim (ulama)
2. Orang yang menuntut ilmu
3. Orang yang mencintai keduanya

Sebagai hamba Allah swt setidaknya kita dapat masuk pada tingkatan yang ketiga, yaitu para pecinta ulama. Mencintai ulama, kyai, orang alim sering kali dibatasi hanya sebatas mencintai orang pernah mengajarkan kita saja. Namun, Rasulullah saw menganjurkan kepada umatnya untuk mencintai semua orang alim, meski kita belum pernah belajar kepadanya sekalipun.

Ada sebuah kisah seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi Muhammad saw kapan datangnya hari kiamat. Sampai tiga kali, barulah beliau menjawab “Apa bekal yang sudah kau siapkan, sehingga kau tanyakan datangnya hari kiamat?” Sahabat itupun menjawab “Bekalku adalah cintaku padamu, Ya Rasulullah.” Kemudian Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya kamu akan bersama orang yang dicintai kelak di hari kiamat.”

Modal cinta dapat membawa hamba masuk ke dalam surga. Lalu, cinta seperti apa yang dapat membawa seorang hamba ke surga?
Mencintai berarti melakukan segala sesuatu yang disukai orang yang dicintainya. Mencintai orang alim berarti mencintai Rasulullah saw. Jika mengaku cinta ulama, sudahkah Anda melakukan perintah-perintah Allah swt dan Rasul-Nya?

 

Latest posts by Isna Sholihatur Rohmaniyah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *