Nasehat Hidup Sederhana dan Riyadhoh KH Ahmad Munawwir

by April 10, 2020
durasi baca: 2 menit

Dari Kiri KH Musta’shim Billah, KH Ahmad Munawwir, KHR. Abdul Hamid Abdul Qodir. Doc: Arsip Almunawwir

Oleh: Fety Hikmatul Umami*

Krapyak merupakan salah satu kawasan yang terkenal sebagai pusat pendidikan agama di Yogyakarta, bahkan menjadi kiblat penghafal Al-Qur’an di tanah Jawa. Beliau adalah KH. Muhammad Munawwir, ulama’ besar pendiri sekaligus pengasuh pertama Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak– yang istiqomah dalam menghafal dan mengamalkan laku hidup sesuai dengan Al-Qur’an. Berkah dari keistiqomahan dalam menjaga Al-Qur’an tersebut, beliau dikarunia oleh Allah dzuriyyah yang sholih sholihah dan  mencintai Al-Qur’an pula.

Salah satu putra KH. Muhammad Munawwir yang memiliki keteguhan dalam menjaga dan mengamalkan Al-Qur’an adalah KH. Ahmad Munawwir. Beliau lahir pada tanggal 23 januari 1939 M/10 Dzulqo’dah 1355 H atau sekitar tiga tahun sebelum ayah beliau wafat.

Ahmad Munawwir mulai belajar ilmu Al-Qur’an kepada kakak beliau yaitu KH. R. Abdul Qadir Munawwir. Selain itu beliau juga menuntut ilmu hingga ke Pondok Pesantren tugung Genteng Banyuwangi, Pondok Pesantren di Jombang hingga Ponpes Yanbu’ul Qur’an Kudus yang diasuh oleh murid dari ayah beliau, KH. Arwani Amin.

Saat menjadi santri, KH. Ahmad Munawwir rajin berpuasa sebagai bentuk riyadhah beliau atas kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah. Meskipun beliau termasuk tokoh yang giat dalam bertirakat saat menuntut ilmu, namun KH. Ahmad Munawwir tidak pernah memaksakan kepada santrinya untuk mengikuti riyadhah seperti beliau. Disampaikan oleh KH. M. Munawwar Ahmad –putra beliau yang saat ini menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L– bahwa ayahanda pernah memberi nasehat kepada santrinya bahwa riyadhahnya santri itu yang utama yaitu fokus tholabul ilmi dan nderes Al-Qur’an. Wiridan tidak perlu banyak, yang terpenting adalah giat belajar.

Baca Juga: KH Ahmad Munawwir dalam Bingkai Semelo Jombang

Kesederhanaan yang beliau tampilkan merupakan salah satu perintah dalam Al-Qur’an yang harus diamalkan. ‘Janganlah bermewah-mewahan dalam segala hal’ begitulah yang diceritakan oleh KH. Munawwar Ahmad, bahwasanya beliau berpesan kepada santrinya untuk senantiasa hidup sederhana. Pakaian tidak perlu banyak dan terkesan glamour.  Memiliki satu pasang baju diibaratkan hukumnya wajib untuk menutup aurat. Mempunyai dua pasang baju hukumnya sunnah, karena jika yang satunya kotor masih ada cadangan satunya untuk dipakai bergantian. memiliki tiga pasang baju itu mubah, sedangkan lebih dari itu makruh.

Selain pakaian, sebagai santri juga harus sederhana dalam hal makan. Beliau berpesan jangan terlalu banyak makan, cukup untuk menghilangkan lapar dan memenuhi asupan gizi, makan pun tidak perlu selalu dengan menu yang enak. Laku sederhsna dalam makan dan berpakaian ini tentunya mengingatkan kepada para santri untuk dapat mengatur keuangan di tanah rantau, karena sejatinya mayoritas finansial santri masih bergantung pada uang saku dari orang tua.

*Santri Komplek Nurussalam Putri

________

Sumber:

Wawancara kepada Kyai M. Munawwar Ahmad. Pengasuh Ponpes Al-Munawwir Komplek

  1. Pada tanggal 30 September 2019.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *