Musikalisasi Hadis (Tinjauan Teologis Dalam Sebuah Syair)

by April 1, 2022
durasi baca: 5 menit

Pesona syair merupakan perihal yang digemari dalam dunia permusikan. Pasalnya sejak syair berkembang di Jazirah Arab dulu, syair di samping ajang kompetensi ia juga menjadi sarana telekomunikasi layaknya berita, informasi, atau sejenisnya. Seiring berkembangnya khazanah keislaman hal itu mempengaruhi tatanan syair yang semakin masif diminati, di antaranya adalah musikalisasi hadis.

Musikalisasi hadis dapat dipahami sebagai alunan musik yang liriknya bersumber dari teks-teks hadis, bisa berupa keseluruhan teks hadis atau sekedar pemaknaannya. Tentunya ini menjadi sebuah tren dalam dunia permusikan, khususnya pada genre Islamic. Para musisi seantero dunia, terutama Indonesia pun turut menggemakan alunan musik dari hadis tersebut. Menariknya bahwa dalam kajian hadis tidak serta merta klaim kebenaran suatu hadis berada pada satu pihak saja, melainkan bersifat multi-interpretasi (ragam pemahaman).

Tulisan ini akan berupaya menelaah sisi teologis pemaknaan hadis yang dijadikan alunan musik dalam bentuk syair. Tentunya penulis hanya akan menelaah syair yang cukup representatif dalam mengungkap sisi teologis tersebut. Namun sebelum beranjak, penulis perlu menyamakan persepsi terlebih dahulu terkait istilah syair (شعر) dan qasidah (قصيدة).

Syair adalah kalam yang disajakkan (muqoffan) dan diiramakan (mauzun) dengan sengaja (mu’jam at-ta’rifat, h. 109). Sedangkan qasidah adalah kumpulan syair atau puisi yang terdiri dari 3 atau 7 bait ke atas (lisanul arab). Dari istilah tersebut dapat dipahami bahwa syair adalah sajak-sajaknya, sedangkan qasidah adalah kumpulan dari sajak yang telah sempurna. Keduanya sama-sama diiramakan. Qasidah dalam tulisan ini adalah inna fil jannati nahran min laban (sungguh di dalam surga terdapat sungai susu).

Seiring masifnya perkembangan musik yang ditandai dengan munculnya musikus-musikus terkenal terutama dalam genre islami, lirik syair ini pun ikut populer kembali. Hampir seluruh musisi di Indonesia menyanyikan lagu tersebut. Mulai dari bentuk cover lagu yang bergenre banjari, akustik, maupun pop.

Salah satu musikus yang mempopulerkan lirik tersebut adalah seorang kelahiran Iran, Sami Yusuf. Penyanyi tersohor ini menerbitkan single lagunya dengan judul “inna fil jannati” pada tahun 2016 di kanal youtube-nya. Qasidah ini juga menjadi salah satu list lagu yang senantiasa dinyanyikan oleh para Habaib, mengingat kandungan di dalamnya berupa sanjungan kepada ahlul bait Nabi Muhammad Saw.

Sebenarnya qasidah tersebut sudah ada sejak abad 11 H lalu. Asumsi ini tentunya berdasarkan data yang ditemukan dalam kitab al-Shafi fi Tafsir al-Qur’an (7/566) karya ulama terkemuka yakni Muhammad bin Murtadha atau populer dipanggil Maula Muhsin Al-Kasyani (1001-1091 H). Sayangnya dalam kitab tafsirnya, beliau tidak menyebutkan inisial penggubah dari syair di atas.

Sebagaimana yang diutarakan di awal tulisan bahwa qasidah “inna fil jannati nahran min laban” merupakan lagu yang bersumber dari interpretasi hadis Nabi Muhammad Saw. Hal inilah yang menjadi gimik dari musikalisasi hadis, dimana orientasi hadis mesti menyentuh pada aspek teologis dalam ajaran Islam. Berikut penulis sajikan 2 bait dari qasidah tersebut:

إِنَّ فِي اْلجَنَّةِ نَهْرًا مِنْ لَبَــنْ * لِعَلِيٍّ وَحُسَــــيْنٍ وَحَسَـــــنْ
كُلُّ مَنْ كَانَ مُحِبًّـــــــــا لَهُمُ * يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مِنْ دُوْنِ حَزَنْ

(Sungguh di dalam surga terdapat sungai susu*Teruntuk Sayyidina Ali, Husain, dan Hasan)
(Siapa saja yang mencintai mereka [keluarga Nabi]*Ia akan masuk surga tanpa kesedihan)

Tinjauan Hadis Terhadap Kandungan Syair

            Berangkat dari ayat Al-Qur’an yang menjelaskan gambaran kenikmatan surga berupa sungai-sungai yang mengalir sudah disinggung dalam surat Muhammad ayat 15. Perihal sungai yang dimaksud dalam Al-Qur’an diterangkan lebih perinci dalam hadis Nabi Muhammad Saw dikala perjalanan Mi’raj-nya, yaitu riwayat Anas bin Malik:

“Rasulullah Saw bersabda: saya diangkat menuju Sidratul Muntaha. (di dalam dasar Sidratul Muntaha) terdapat empat sungai: dua sungai dzahir dan dua sungai bathin. Adapun sungai dzahir adalah Sungai Nil dan Sungai Eufrat. Sedang sungai bathin adalah dua sungai yang ada di surga …”  (HR. Bukhari, nomor 5610).

Topik pembahasan pada hadis di atas adalah makna dua sungai yang ada di surga. Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath al-Bari syarah Shahih Bukhari (7/214) menuturkan riwayat hadis dari Abu Sa’id bahwa dua sungai yang ada di surga bisa jadi sungai Kautsar dan sungai Rahmah. Pendapat ini pula senada dengan ungkapan mufassir Al-Qur’an, Syekh Muqatil.

“Dalam riwayat hadis Abu Sa’id: (saya –Muhammad– melihat di langit ketujuh) ada sebuah mata air yang mengalir yang disebut dengan Salsabil, dari sumber ini mengalirlah dua sungai; pertama, sungai Kautsar; kedua, sungai Rahmah. Saya berkata (Ibnu Hajar) bisa jadi maksud dari dua sungai itu adalah sungai Kautsar dan sungai Rahmah.”

Para ulama menyebutkan bahwa sungai di surga sebagaimana kandungan syair inna fil jannati adalah sungai Kautsar. Hal ini didukung dalam riwayat hadis yang menggambarkan sungai Kautsar. Di sini penulis bagi menjadi dua riwayat, lantaran keduanya memiliki pemaknaan yang sedikit berbeda, yaitu:

Pertama, hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik (Lihat Muslim no. 400, Bukhari no. 4864-4966, Ahmad no. 6476, 11996, 12675, 13578).

 “…Kemudian Nabi berkata: “Apakah kalian tahu al-kautsar itu”?. Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tau”. Beliau menjawab: Ia adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku kepadaku. Padanya terdapat kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang umatku menemuiku pada hari kiamat, wadahnya sebanyak jumlah bintang, lalu seorang hamba dari umatku terhalang darinya, maka aku berkata: “Wahai Rabbku, sesungguhnya dia termasuk umatku”. Maka Allah berkata: “Kamu tidak tahu sesuatu yang terjadi setelah (meninggalmu)” (HR. Muslim no. 400).

Beberapa riwayat menyebutkan, Nabi bertanya kepada Jibril: “Apa ini?” Ia menjawab: “al-kautsar adalah nikmat yang Allah anugerahkan kepadamu”. Ibnu Umar mengatakan bahwa al-kautsar adalah sungai yang berada di surga, kedua tepinya terbuat dari emas, di dalamnya terbuat dari intan dan yaqut, aromanya lebih wangi dari minyak misik, airnya lebih manis dari madu, dan warnanya lebih putih dari susu (Tafsir Marah Labid, h. 959)

Kedua, hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas. Ia (Abdullah bin Abbas) berkata: Di saat surat Al-Kautsar turun kepada Nabi. Ali bin Abi Thalib bertanya kepada Nabi: Apa itu al-kautsar wahai Rasulullah?. Nabi menjawab: “yaitu sungai yang Allah muliakan kepadaku karenanya”. Ali Ra. berkata: “Sungai ini sungguh mulia, ikutkanlah kami ya Rasulullah”. Nabi menjawab: “Benar wahai Ali, …”. Lalu Nabi memukul tangannya di sisi Ali dan berkata: Wahai Ali, bahwasannya sungai ini diberikan kepadaku, kepadamu, dan kepada orang yang mencintaimu setelah sepeninggalanku”. (Muhammad bin Hasan bin Ali Al-Thusy (385-436 H) guru besar sekte Imamiyyah, Al-Amali, 3/116, nomor hadis 11)

Sedikit penulis singgung bahwa hadis pertama bersumber dari kalangan sunni sementara hadis kedua bersumber dari kalangan syiah. Meskipun riwayat di atas dari dua aliran yang berbeda, namun keduanya hampir memiliki kesamaan makna, hadis pertama menjelaskan sungai Kautsar hanya diberikan secara istimewa kepada Nabi, sedang hadis kedua menjelaskan sungai Kautsar diberikan kepada Nabi, sahabat Ali, dan orang yang mencintai sahabat Ali.

Maka dapat dipahami bahwa pemaknaan hadis dalam syair inna fil jannati bersumber dari teologi sekte Syiah Imamiyah. Sebab hanya riwayat dari kalangan syiah lah yang menjelaskan sungai Kautsar diberikan pula kepada sahabat Ali dan muhibbinnya. Tentu hal itu senada dengan lirik dari qasidah di atas.

Sekte syiah imamiyah/imamah sendiri adalah suatu aliran islam yang mengimani kedua belas imam yang dianggap suci dan maksum yang menurut pandangannya dipilih oleh Nabi Muhammad Saw. Tentunya teologi tersebut berimplikasi pada aspek-aspek hukum Islam sendiri, tak ayal pandangan sunni dan syiah memiliki perbedaan yang fundamental.

Karenanya, qasidah atau syair yang diciptakan oleh kalangan syiah cenderung bernuansa sanjungan kepada ahlul bait Rasulullah, terutama sahabat Ali, Hasan dan Husein. Bila ditelusuri lebih lanjut, lagu atau qasidah yang bernuansa syiah tentu sangat banyak. Namun terlepas polemik tersebut, baik sunni maupun syiah keduanya memiliki legitimasi hukum dari hadis-hadis Nabi yang berupa perintah untuk mencintai ahlul bait (lihat At-Tirmidzi, no. 3789, At-Thabrani, no. 829-830, 2679-2680, An-Nasai, no. 8092&8410.).

Alhasil, hemat penulis sah-sah saja mendendangkan qasidah atau syair yang teridentifikasi bersumber dari kalangan syiah, sebab bagaimanapun syair-syair yang berupa sanjungan kepada Rasulullah atau ahlul bait merupakan teologi yang bersifat berdikari, dimana keyakinan perintah untuk mencintai Nabi dan ahlul bait serta teologi sekte syiah imamah adalah sesuatu yang berdiri sendiri (independen).

Irfan Fauzi
4 posts

Santri Komplek L Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak. Minat Kajian di Sejarah dan Budaya Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.