Menjaga Jarak Ketika Sholat Berjama’ah

by April 25, 2020
durasi baca: 3 menit

Sholat Berjamaah di masa Pandemi Corona. (Foto: HRW)

Cepat dan senyapnya pergerakan virus corona (Covid-19) mendorong diperlukannya langkah pencegahan agar penyebaran virus ini tidak semakin luas. Terhitung sejak 15 Maret 2020, pemerintah sudah menerapkan social distance (pembatasan sosial) dan menetapkan beberapa protokoler pencegahan virus ini, meskipun istilah tersebut kemudian diganti menjadi phisyical distancing (menjaga jarak fisik) karena dinilai kurang bagus.

Dalam kehidupan beragama umat Islam, adanya virus ini sedikit banyak mempengaruhi pola peribadatan mereka. Anjuran untuk menjaga jarak meyebabkan beberapa ibadah yang biasanya dilakukan secara berjamaah atau beramai-rami, seperti shalat Jumat dan shalat jamaah harus dihindari.

Namun, beberapa pengurus masjid masih tetap mengadakan shalat Jumat dan jamaah dengan menetapkan beberapa aturan, seperti diharuskannya membawa perlengkapan shalat sendiri, menggunakan masker, dan memberi jarak antar jamaah dan antar shaf, minimal 1 meter sampai 1.5 meter.

Lantas yang menjadi pertanyaan adalah apakah shalat berjamaah dengan memberi jarak antar jamaah dan shafnya diperbolehkan?

Dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Anas RA bahwa Rasulullah  Saw bersabda:

 

وعن أنس رضي اللّه عنه أن رسول اللّه قال: رصوا صفوفكم) أي حتى لا يبقى فيها فرجة ولا خلل (وقاربوا بينها) بأن يكون ما بين كل صفين ثلاثة أذرع تقريباً، فإن بعد صف عما قبله أكثر من ذلك كره لهم وفاتهم فضيلة الجماعة حيث لا عذر من حر أو برد شديد

“(Dari sahabat Anas RA, Rasulullah bersabda, ‘Susunlah shaf kalian’) sehingga tidak ada celah dan longgar (dekatkanlah antara keduanya) antara dua shaf kurang lebih berjarak tiga hasta. Jika sebuah shaf berjarak lebih jauh dari itu dari shaf sebelumnya, maka hal itu dimakruh dan luput keutamaan berjamaah sekira tidak ada uzur cuaca panas atau sangat dingin misalnya,” (Ibnu Alan As-Shiddiqi, Dalilul Falihin, juz VI, halaman 424).

Dari hadis tersebut dapat diketahui bahwa pada dasarnya posisi makmum yang berdiri terpisah dalam shalat berjamaah (termasuk shalat Jumat) merupakan sesuatu yang makruh. Imam Nawawi juga menjelaskan perkara tersebut dalam kitabnya Minhaj al-Thalibin,

وَيُكْرَهُ وُقُوفُ الْمَأْمُومِ فَرْدًا، بَلْ يَدْخُلُ الصَّفَّ إنْ وَجَدَ سَعَةً

“Posisi berdiri makmum yang terpisah dimakruh, tetapi ia masuk ke dalam shaf jika menemukan ruang kosong yang memadai,”

Baca Juga: Hukum Menggunakan Hand Sanitazer (Yang Menggunakan Alkohol) untuk Sholat

Syihabuddin Al-Qalyubi dalam Hasyiyah Qaliyubi wa Umairah menjelaskan bahwa makna kata “fardan” atau terpisah sendiri adalah kanan dan kiri makmum terdapat jarak yang kosong sekiranya dapat diisi oleh satu orang atau lebih. Hal ini serupa dengan posisi shalat berjamaah yang terjadi saat ini karena adanya tuntutan untuk menjaga jarak aman ‘phisyical distancing’.

قوله (فردا) بأن يكون في كل من جانبيه فرجة تسع واقفا فأكثر

“Maksud kata (terpisah sendiri) adalah dimana setiap sisi kanan dan kirinya terdapat celah yang memungkinkan satu orang atau lebih berdiri.”

Akan tetapi, Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj menjelaskan bolehnya makmum menjaga jarak satu sama lain karena uzur atau situasi darurat yang sangat mendesak, seperti halnya penyebaran Covid-19 yang sedang terjadi saat ini.

نَعَمْ إنْ كَانَ تَأَخُّرُهُمْ لِعُذْرٍ كَوَقْتِ الْحَرِّ بِالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَلَا كَرَاهَةَ وَلَا تَقْصِيرَ كَمَا هُوَ ظَاهِر

“Tetapi jika mereka tertinggal (terpisah) dari shaf karena uzur seperti saat cuaca panas di masjidil haram, maka tidak (dianggap) makruh dan lalai sebagaimana zahir.”

Dalam karyanya yang lain ‘Raudhatut Thalibin Imam Nawawi juga menjelaskan kebolehan perkara tersebut. Beliau mengatakan bahwa memberi jarak antar jamaah dan antar shaf dalam situasi uzur atau darurat tidak membatalkan shalat jamaah dan shalat Jumat.

إذا دخل رجل والجماعة في الصلاة كره أن يقف منفردا بل إن وجد فرجة أو سعة في الصف دخلها… ولو وقف منفردا صحت صلاته

“Jika seorang masuk sementara jamaah sedang shalat, maka ia makruh untuk berdiri sendiri. Tetapi jika ia menemukan celah atau tempat yang luas pada shaf tersebut, hendaknya ia mengisi celah tersebut… tetapi jika ia berdiri sendiri, maka shalatnya tetap sah.”

Meskipun demikian, terlepas dari beberapa pendapat di atas, idealnya dalam situasi seperti ini kita mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan semua pekerjaan dari rumah, termasuk ibadah. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqih hukmul hākim yarfa‘ul khilaf “putusan pemerintah menyudahi segala perbedaan pendapat ulama”. Wallahu a’lam.

 

______

Editor: Chaudi Al Anshori

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *