Mengenal KH Hasbullah Abdusyakur, Pendidik yang Disiplin dan Totalitas

by April 12, 2020
durasi baca: 8 menit

KH Hasbullah Abdusyakur. Arsip: Almunawwir.com

Oleh: Anu’ ma Syifaus Safa’ ah (Komplek Q)

Almunawwir.com – KH.  Hasbullah  Abdusyakur  lahir  pada  Juni,  1942  di  tempat  yang  sama dengan  K.H.  Soleh  Darat  Semarang,  tepatnya  di  Kedung  Cumpleng.    Beliau adalah putra dari H. Abdusyakur bin H. Abdullah bin H. Khairuman dari Bati Alih, Jepara dan Hj. Mariah binti K.H. Cudlori dari Mayong, Jepara.

Dari jalur bapak, kakek beliau merupakan petinggi desa atau birokrat pada saat itu, sementara dari jalur ibu, merupakan jalur Kiai. Orang tua beliau masih kerabat dengan Mbah Soleh Darat dari jalur putri, yang mana beliau merupakan guru dari K.H. Munawwir dan K.H. Ahmad Dahlan. Selain itu, nama R.A. Kartini dan Kiai Hasyim ‘ Asyari juga pernah berguru kepada Kiai yang pernah menulis kitab Faidhur- Rahman

Pendidikan

KH. Hasbullah menuntut ilmu atau berguru di Jepara sejak kecil. Dari tanah kelahirannya ini, beliau mulai menimba ilmu dan belajar agama. Baru kemudian sekitar Aliyah, beliau pergi ke Krapyak untuk meneruskan sekolah dan juga ngajinya. Sebab, menimba ilmu tidak hanya cukup berdiam diri.

Beberapa gurunya ketika di Krapyak adalah K.H. Ali Maksum, K.H. Zaenal Abidin Munawwir,  K.H. Warson Munawwir,  dan Mbah Tabarrun (Bantul). Di sini lah kemudian beliau menjadi santri K.H. Ali Maksum. K.H. Hasbullah menjadi salah satu santri yang menonjol ketika di pesantren. Selain karena sudah pernah ngaji di  Jepara,  tujuan  orang  mondok  pada  zaman  dahulu  tentu  berbeda  dengan zaman sekarang. Mondok harus sungguh- sungguh supaya bisa  jadi kiai, menguasai  banyak  ilmu  agama,  dan  itu  yang  dilakukan  oleh  K.H.  Hasbullah. Selain  di  Krapyak,  beliau  juga  pernah  merasakan  didikan  Mbah  Maksum  di Pesantren Lasem— terlebih saat puasa. Mbah Maksum merupakan ayah dari K.H. Ali Maksum.

Meskipun  sudah  menjadi  pendidik  di  Krapyak,  hormat  K.H.  Hasbullah terhadap guru- gurunya masih tetap dipertahankan. K.H. Hasbullah sering mengajak anak- anaknya untuk sowan kepada guru- gurunya ketika di Jepara. Beberapa kali beliau mengajak anaknya untuk sowan sebagai bentuk hormat dan takzimnya terhadap guru. Hal inilah yang kemudian menjadi panutan bagi anak- anaknya mengenai keharusan hormat dan ingat kepada guru- guru yang telah mendidik dan mengajarkan ilmu.

Selain  menuntut  ilmu  di  pesantren,  beliau  juga  mengenyam pendidikan formal. Pendidikan tingkat Tsanawiyah atau setara SMP diselesaikan di Jepara, kemudian melanjutan pendidikan tingkat Aliyah atau SMA di Yogyakarta. Setelah lulus Aliyah,  beliau meneruskan kuliah di IAIN Sunan Kalijaga,  Fakultas Syariah Program studi Peradilan. Tidak hanya itu, beliau juga merangkap kuliah di UGM Fakultas Hukum Program Studi Hukum Adat. Meskipun masih kuliah, beliau sudah mengajar diniyah di Krapyak.

Kiai Hasbullah menyelesaikan studi di UGM pada tahun 1988. Ada suatu kisah dibalik lulusnya dari UGM. Dosen pembimbing beliau benar- benar mencari dan menggerakan beliau untuk menyelesaikan studi sampai harus bertandang ke rumah dan bimbingan di sana. Hal itu kemudian membuahkan hasil dengan selesainya studi beliau menjadi sarjana.

Setelah lulus S1,  beliau berniat melanjutkan S2 di Al- Azhar,  Mesir,  tetapi keinginan ini gagal karena keadaan Mesir yang sedang perang. Selain itu, Kiai Hasbullah juga pernah mencoba lagi untuk melanjutkan S2 di Australia tetapi lagi- lagi gagal karena pemerintah yang memihak pada golongan tertentu dan tidak transparan. Pada saat itu, tidak semua orang bisa kuliah di luar negeri. Termasuk KH.  Hasbullah,  hal  ini  bisa  jadi  diakibatkan  oleh  keberpihakan  pemerintah dengan   golongan   tertentu,   sehingga   membuat    semuanya   menjadi   tidak transparan dan sulit.

Menikah dengan Hj. Hanifah

Ketika masih dalam masa kuliah, Kiai Hasbullah menikah dengan putri ketiga K.H. Ali Maksum yaitu Hj. Hanifah. Sanad istrinya dari jalur bapak yaitu Hanifah binti Ali Maksum bin Maksum bin Ahmad. Dari jalur Ibu, Hanifah binti Hasyimah binti Munawwir bin Abdullah Rosyad. Hj. Hanifah lahir tahun 1950. Dari pernikahannya,  beliau dikaruniai lima anak;  Nur  Aini (Alm),  Hilmy Muhammad, Zaky Muhammad, Afif Muhammad, dan Maya Fitria.

K.H. Hasbullah merupakan santri yang kuat dan sudah dipercaya untuk mengajar, tidak heran jika K.H. Ali Maksum memilih beliau menjadi menantunya. Tidak sembarang orang bisa menikah dengan putri Kiai. Sebelum memilih K.H. Hasbullah,   K.H.   Ali  Maksum  meminta  pertimbangan  kepada  K.H.   Maksum. Akhirnya, pernikahan putrinya tersebut dilangsungkan di Lasem. Meskipun kemudian diulangi lagi di Krapyak.

Kiai Hasbullah dan istri tinggal dan hidup di Krapyak. Semasa hidup, K.H. Hasbullah memiliki banyak tanaman di rumahnya. Beliau merawatnya dengan baik sampai menjelang akhir hayat. Karena sakit yang menimpanya, tanaman- tanaman yang dimiliki menjadi tidak terurusdan tidak ada yang merawat.

Mengelola Madrasah

K.H. Hasbullah didawuhi mengelola madrasah di Krapyak oleh K.H. Ali Maksum.  Sejak  awal  diangkat,  beliau  menjadi  pengasuh  Tsanawiyah  6  tahun bersama K.H. Zaenal dan K.H. Attabik Ali. Pada tahun 1970 masih bernama Madrasah   Tsanawiyah   6   tahun.   Beberapa   tahun   setelahnya,    peraturan pemerintah mengharuskan madrasah harus dibagi menjadi dua tingkat yaitu Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Waktu itu, Kepala Madrasah Tsanawiyah dijabat K.H. Masyhuri Ali Umar sementara Kepala Madrasah Aliyah dijabat oleh K.H. Hasbullah sendiri.

K.H. Hasbullah merupakan sosok yang bertipe pendidik. Selama mengelola madrasah, beliau memanage madrasah dengan managemen yang modern. Buah pemikiran Kiai Hasbullah ini ditiru dan diikuti oleh penerus- penerusnya. Beliau mengubah  beberapa  kebiasaan  di  pesantren,  seperti  tidak  boleh  bersekolah dengan memakai sarung sampai keharusan memakai  sepatu. Banyak orang memiliki kesan bahwa almarhum adalah orang yang sangat disiplin dan tepat waktu. Inilah yang membuat beliau memiliki wibawa yang tinggi dan sangat dihormati banyak orang, terlebih  oleh murid- muridnya sendiri.

Diceritakan dari K.H. Muslih Ilyas (santri Kiai Ali Maksum yang kini menjadi pengasuh  PP  Bangun  Jiwo,  Bantul),  Kiai  Hasbullah  adalah  sosok  yang  selalu terjun langsung ketika memberi perintah baik dengan mengikuti setiap musyawarah maupun diskusi yang ada. Suatu ketika, ada sebuah kelompok yang kebetulan berisi santri- santri putri,  bukannya berdiskusi,  santri- santri ini malah terlihat asyik mengobrol. K.H. Hasbullah mengutus muridnya untuk membelikan kacang dan diberikannya kacang itu pada santri- santri putri tersebut. Hal ini sebagai sindiran bahwa seharusnya mereka berdiskusi, bukan mengobrol. Dengan cara- cara yang tidak biasa itulah, K.H. Hasbullah mendidik santri- santrinya.

Selain itu, Kiai Hasbullah juga dikenal sebagai orang yang sangat disiplin. Menurut  salah  satu  putranya— Gus Hilmy,  beliau  merupakan  seorang  pendidik yang disiplin. Meskipun semua putranya menempuh pendidikan di Madrasah yang beliau pimpin, tetapi tidak pernah ada keistimewaan dan kekhususan yang diberikan kepada putra- putrinya. Putra- putrinya tidak pernah bolos dan terlambat meskipun di sekolah sendiri. K.H. Hasbullah membuat  kebijakan terhadap presensi kehadiran yang apabila kurang dari 90% maka siswa tidak  bisa ikut ujian. Hal ini juga berlaku untuk anak- anaknya. Tidak ada istilah anak emas maupun keistimewaan tersendiri. Semuanya sama dan tidak dibeda- bedakan.

Beliau meletakkan pondasi bagaimana harushidup disiplin dan kerja keras. Almarhum tidak memaksa anaknya untuk sekolah di mana, hal terpenting dari sekolah yang dipilih adalah sungguh- sungguh. Mereka diberi kebebasan dalam pilihan tetapi harus bisa bertanggung jawab dengan pilihannya. Apapun fokus pendidikannya, hal yang penting yang harus diingat adalah pondasi yang telah dibangun oleh Kiai Hasbullah kepada anak- anaknya.

Kiai Hasbullah dikenal sangat tegas dalam mendidik. Perlakuan- perlakuan terhadap santrinya tentu diinternalisasi oleh putra- putranya. Maka dari itu, putra- putri beliau sudah terbiasa dengan sikap beliau yang tegas dan disiplin. Pernah suatu ketika salah satu putranya tidak mau mengaji pada saat jam mengaji. Beliau hanya menyuruh anaknya untuk tidur di kamar dan tidak boleh kemana- mana. Inilah kemudian menjadi cara beliau untuk mendidik anaknya menjadi seorang yang disiplin. Selain itu, beliau juga tidak pernah memuji anaknya, terlebih membangga- banggakan di depan orang lain. Karena ketika anak dipuji, maka ia akan cepat merasa puas dengan apa yang sudah mereka peroleh. Perlakuan- perlakuan semacam inilah yang membuat anak- anak beliau menjadi manusia yang sungguh- sungguh dan serius dalam melakukan sesuatu.

Menurut Gus Afif— salah seorang putranya— K.H. Hasbullah seperti tulang punggung beroperasinya pondok dan madrasah. Beliau ikut mengelola, mengatur, mengontrol,  dan  mengevaluasi kegiatan  di  madrasah.  Beliau  sangat  istiqamah dan  totalitas  dalam  mengerjakan  sesuatu.  Apapun  kegiatannya,  beliau  selalu melakukannya dengan baik dan sungguh- sungguh.

Mengelola Pesantren

Kiai Hasbullah merupakan santri yang menonjol ketika ngaji di Krapyak. Salah satunya disebabkan latar belakang beliau yang pernah berguru dan ngaji sebelum di Krapyak, tepatnya di Jepara. Hal ini yang membuat beliau dipercaya untuk mengajar di Krapyak. Beliau bisa mengajar berbagai bidang keilmuan, dari mengajar Alfiyah Ibnu Aqil, Musthalah Hadis, Ilmu Tafsir, Fikih, kitab tahrir, Tafsir Jalalain,  Jawahirul  Bukhari,  Irsyadul  Ibad,  dan  beberapa  kitab  dari  bidang keilmuan lainnya.

K.H. Hasbullah mengajar diniyah bersama K.H. Ali Maksum. Pembagiannya, tiga hari ngaji dengan K.H. Ali Maksum,  maka tiga hari setelahnya ngaji dengan K.H. Hasbullah. Menurut pengakuan putranya, beliau tidak hanya fokus mengajar di  satu  bidang,  tapi  semua  bidang.  Artinya,  beliau  benar- benar  menguasai seluruh materi yang ada.

K.H. Hasbullah ditugasi bagian internal pondok dan berkecimpung di dalamnya. Beliau mencurahkan semua daya upaya dalam kegiatan mengaji dan sekolah pada pagi,  sore,  siang,  dan malam. Beliau mengawasi musyawarah dan bahkan ikut berdiskusi di dalamnya.

Pada waktu itu, K.H. Ali Maksum membagikan wakaf tanah kepada beberapa Kiai yang mengabdi di Krapyak dan K.H. Hasbullah merupakan salah satu orang yang mendapat nadhir wakaf dari Mbah Ali. Kemudian,  wakaf tanah tersebut dibangun menjadi Pondok Pesantren di bawah yayasan Ali Maksum. Komplek Sakan adalah komplek yang dikelola oleh K.H. Hasbullah. Meskipun wakaf tanah dari Mbah Ali, tetapi tidak semua tanah wakaf masuk yayasan Ali Maksum,  melainkan  tergabung  dalam Pondok Pesantren  Al- Munawwir.  Seiring berjalannya   waktu,   wakaf   ini berkembang,   Ali   Maksum   berkembang,   Al Munawwir juga berkembang. Polanya dari tiap- tiap kesatuan memang berbeda, tetapi secara kekeluargaan tidak ada bedanya.

Baca Juga: Gus Hilmy dan Kenangan Krapyak 

Kegiatan di Luar Pesantren

Selain aktif mengelola pesantren dan Madrasah Aliyah, K.H. Hasbullah juga menjabat sebagai Ketua MUI Bantul. Selain itu, beliau juga aktif di PWNU Yogyakarta. Jabatan terakhir beliau sebelum wafat yaitu Wakil Rais Pengurus Wiayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta. Meskipun begitu,  beliau tidak terjun di bidang politik. Beliau tetap menjadi pendidik dan menghabiskan waktu untuk mengajar.

K.H. Hasbullah termasuk salah satu dari orang- orang yang menjadi inisiator  Ma’ had  Ali  di  Krapyak.  Ma’ had  Ali  merupakan  perguruan  tinggi  ilmu salaf yang jenjang pendidikan klasikalnya menempati posisi teratas dalam pendidikan pesantren, dengan masa kuliah 4 tahun (8 semester).1

Perintisan  dan  pendirian  lembaga  pendidikan  Ma’ had  Ali  ini  setelah menyadari akan perlunya suatu lembaga pendidikan tinggi yang bersifat pendalaman (ta’ ammuq fi ad- din) untuk masyarakat dan alumni, yang telah menyelesaikan pendidikan di tingkat menengah atas. Setelah diadakan studi banding ke Jakarta yang dipimpun oleh K.H. Hasbullah Abdusyakur dan atas restu dari K.H. Zainal Abidin Munawwir,  K.H. Warson Munawwir,  dan keluarga besar Al- Munawwir, maka pada tahu 1414 H/1993 M secara resmi dibuka Ma’ had Aly Krapyak dengan Mahasiswa/Mahasiswi angkatan pertama sebanyak  30 orang.

Disiplin, Totalitas dan Dermawan

Tiga kata itulah yang dapat menggambarkan sosok K.H. Hasbullah. Beliau adalah orang yang sudah merencanakan hari ini hendak berbuat apa. Sekolah ya sekolah,   ngaji  ya  ngaji,   main  ya main.  Pada  intinya,   jadwal  yang  sudah direncakan itu harus dilakukan terlebih dahulu. Selain itu beliau juga seorang yang dermawan. Diceritakan dari K.H. Muslih Ilyas pernah suatu ketika Pak Muslih yang menjadi santri ndalem Kiai Ali hendak meminjam uang kepada K.H. Hasbullah untuk membeli tanah. Meskipun berstatus sebagai santri ndalem, dengan ringan dan mudah K.H. Hasbullah memberikan sejumlah uangnya untuk Pak Muslih.

Kisah  lain  adalah  ketika  Gus  Afif  akan  melaksanakan  KKN,    Pengasuh Komplek H tersebut ditugaskan untuk membangun musala. Beliau kekurangan bahan dan meminta kepada Kiai Hasbullah. Saat itu, Kiai Hasbullah sedang mengurus pembangunan  Komplek  Sakan,  jadi  ada  beberapa  bahan  yang  bisa dibawa oleh Gus Afif. K.H. Hasbullah membolehkan kepada Gus Afif tanpa peritimbangan apapun.

K.H. Hasbullah Abdusyakur Wafat

K.H. Hasbullah wafat di umur yang tergolong masih muda, yaitu 54 tahun. Beliau wafat karena sakit diabetes dan gagal ginjal yang mengharuskan untuk cuci darah setiap minggu. Sebelum wafat, beliau dirawat sampai limabelas hari lamanya dan menghembuskan napasterakhir pada 9 Safar, tepatnya Selasa pagi. Sebelum wafat, almarhum masih sempat bersih diri dan seakan sudah siap hendak pergi. Menurut putranya, bapak melakukan hal yang tidak biasa. Seperti sudah firasat, Kiai Hasbullah menyetak kalender khusus bulan Muharram dengan bahasa Arab dan kemudian disebar ke Kiai- Kiai dan internal Krapyak sendiri.

Dari putranya, Gus Afif menuturkan bahwa beliau sering menemani K.H. Hasbullah untuk cuci darah setiap pekan. Waktu itu, Gus Afif yang tengah menjalani KKN tidak bisa lagi menemani sang bapak untuk ke rumah sakit. Saat itulah, beliau mendapat kabar mengenai Kiai Hasbullah yang sudah dirawat di rumah sakit. Ketika wafat, Gus Afif ada di sana bersama sang ibu .

Almarhum Kiai Hasbullah dimakamkan di Dongkelan dekat makam Mbah Munawwir. Meskipun telah tiada, namun jasa dan usaha semasa hidupnya masih bisa dirasakan sampai saat ini. Salah satunya adalah bagaimana  Madrasah  Aliyah berjalan dan sikap disiplin yang dapat diterapkan pula oleh anak- anaknya sampai saat ini.

 

 

Sumber Data:
  1. Wawancara dengan H. Hilmy Muhammad pada 15 September 2019
  2. Wawancara dengan H. Afif Muhammad pada 17 September 2019
  3. Wawancara dengan H. Muslih Ilyaspada 28 September 2019
  4. almunawwir.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *