Meneladani Kepribadian KH M Moenawwir

by Januari 26, 2020
durasi baca: 3 menit

Almunawwir.com – Rahasia kebahagiaan seseorang itu pada hakekatnya bukanlah terletak pada wujud materi yang bertumpuk-tumpuk, tetapi pada nilai-nilai rohaniyahnya yang tersembunyi dan pantulan cahaya yang keluar dari ibadah dan akhlak yang luhur, dan bermutu tinggi. Tanpa adanya ibadah itu, rohani manusia akan menjerit kelaparan karena kekurangan zat yang amat vital yang diperlukan dalam hidup ini. Dan orang-orang yang selalu istiqamah dalam ibadahnya akan memiliki rohani yang sehat dan segar sehingga memancarkan sinar kebahagiaan.

Sedang akhlak merupakan pancaran dalam bentuk tingkah laku manusia yang memancar keluar dari dirinya menurut nilai dan kadar ibadah yang dilakukannya. Jadi antara ibadah dan akhlak itu memiliki hubungan timbal balik (simbiosis mutualisme) yakni: yang satu saling memberi warna kepada yang lain.

Demikian juga KH M Moenawwir, beliau merupakan satu sosok pribadi seorang muslim yang berhasil dalam menempuh hidupnya di dunia dengan memadukan unsur ibadah dan akhlak secara istiqamah. Baik yang berkaitan dengan salat, zikir, membaca al-Qur’an, berdo’a, bergaul dan lain-lain.

Istiqamah

Ibadah salat, khususnya shalat wajib, KH M Moenawwir selalu memilih awal waktu. Untuk menunaikan shalat-shalat sunah selalu beliau kerjakan dengan rutin/istiqamah, misalnya shalat rawatib dan shalat Witir sebanyak 11 rakat dengan hafalan al-Qur’an sebagai bacaan suratnya. Shalat sunnah isyraq, Dhuha dan Tahajud pun selalu ditunaikan.

Selain istiqamah mengajar al-Qur’an pada siang hari sebagai amal kesehariannya, KH M Moenawwir setiap ba’da Ashar dan Subuh mewiridkan al-Qur’an baik dengan menghafal maupun menggunakan mushaf yang biasa dilakukan di dalam panggung mihrab (sebelah kanan ruang masjid). Begitu juga, jika beliau bepergian, berjalan kaki, berkendaraan dan waktu di rumah selalu mewiridkan al-Qur’an. Beliau selalu menghatamkan al-Qur’an satu kali dalam satu minggu. Dan biasanya di akhir (dikhatamkan) pada hari Kamis. Bahkan menurut sebuah kisah, wirid tersebut sudah diamalkan sejak berumur 15 tahun hingga wafat.

Pada setiap hari Kamis sore, KH M Moenauwir melakukan ziarah kubur dengan membaca Tahlil dan Surat Yasin, bahkan kegiatan ini beliau wajibkan kepada para santri. Setiap hari Jum’at, beliau menggunting kuku sebagai amaliyah sunah Rasul. Dan apabila terjadi suatu peristiwa yang menyangkut umat pada umumnya, beliau mengumpulkan semua santri untuk bersama-sama tawajjuh dan memanjatkan do’a ke hadirat Allah dengan membaca salawat Nariyah 4444 kali atau Surat Yasin 41 kali. Hal ini pernah beliau alami ketika sedang ibadah haji di tanah suci Makkah. Beliau bertemu dengan seorang dari Pare dan seorang lagi dari Solo. Dalam pertemuan tersebut, beliau dimohon bantuannya untuk berkenan menjadi jaminan piutang orang dari Pare, karena dia baru saja terkena musibah, seluruh bekal perjalanannya hilang. Beliau menyanggupi dan piutang (dari orang Solo) pun diserahkan.

Sampai pulang ke rumah, ternyata orang Pare tersebut belum mampu melunasi hutangnya, padahal limit waktu pengembalian yang disepakati sudah lewat. Oleh karena itu, beliau ikut bertanggung jawab dalam masalah tersebut, ketika orang Solo datang untuk menagih hutang. Beliau mengajak para santri untuk bersama-sama membaca salawat Nariyah sebanyak 4444 kali. Malam hari dibaca, pagi harinya orang Pare datang melunasi hutangnya. Dan tidak lama kemudian orang Solo datang lagi, malah uang tersebut dihadiahkan kepada beliau. Dengan demikian, persoalan ini dapat diselesaikan dengan aman.

Baca Juga: Metode Pengajaran Al-Qur’an KH M Moenawwir

Amaliah Keseharian KH M Moenawwir

Amaliah keseharian KH M Moenawwir yang biasa dikerjakan adalah tidak pernah membuka tutup kepala (selalu tertutup, baik dengan kopyah, serban maupun kedua-duanya). Dan setiap sebulan sekali memotong rambutnya.

Dalam berpakaian KH M Moenawwir selalu menggunakan pakaian sederhana, namun sempurna untuk melakukan ibadah salat. Pakaian beliau selalu rapi dan bersetrika. Jika bepergian ke Keraton untuk menghadiri acara resmi, beliau mengenakan pakaian Dinas Keraton Ngayogjokarto. Dan sering pula mengenakan baju jas hitam, serban hijau, sarung dan alas kaki jika bepergian ke tempat lain.

RA Mursyidah, salah seorang istri KH M Moenawwir pernah mengusulkan agar berkenan mengenakan pakaian yang lebih dari itu; beliau menjawab “Saya telah memiliki dua stel pakaian, satu saya pakai, dan yang lain masih tersimpan”.

KH M Moenawwir tidak suka makan sampai kenyang, lebih-lebih pada bulan Ramadan yang hanya dengan satu cawan nasi ketan untuk satu kali makan. Jika sudah terpenuhi semuanya, sedang sumbangan masih sisa/laba, maka kelebihan tersebut dikembalikan kepada pemberinya.

Sifat muru’ah dan amanah tersebut tercermin dalam satu kisah yang berkaitan sumbangan uang untuk pembangunan Pondok Pesantren Krapyak dari H Ali seorang hartawan Cirebon. Setelah pembangunan selesai, dan uang masih lebih, maka uang kelebihan itu dikembalikan lagi kepada H Ali lewat utusan beliau bernama R Jazuli. Karena terkesan akan sifat muru’ah beliau, akhirnya H Ali berkenan menghaturkan bantuan sekali lagi lewat R Jazuli ketika kembali ke Yogyakarta untuk kesejahteraan beliau beserta keluarganya.

 

*Referensi Tulisan Djunaidi A. Syakur, dkk., “Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta” (Yogyakarta: Almunawwir Press, 2001)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *