Membangun Resiliensi, Menguatkan Diri

by November 6, 2021
durasi baca: 4 menit

 

Resiliensi bisa diartikan sebagai kemampuan diri untuk beradaptasi dan bangkit ketika dihadapkan pada tekanan baik internal maupun eksternal. Dalam kaitannya dengan pandemi, hampir seluruh aspek dan lini masyarakat terdampak dan merasakan akibat dari virus yang mendunia tersebut. Ada yang mampu bertahan dan tumbuh menjadi lebih kuat, namun ada juga pihak yang harus mengakui ganasnya pandemi yang terjadi.

Pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan yang berdiri langsung di tengah masyarakat, merupakan tempat yang sangat rentan terhadap penularan virus, karena di dalamnya terdapat banyak santri yang berkumpul bersama sekaligus dalam satu tempat. Selain itu, terdapat juga risiko penularan antara pondok pesantren dengan masyarakat sekitar. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi  pondok pesantren agar bisa tetap bertahan dan melangsungkan fungsi utamanya untuk menjalankan pembelajaran agama di tengah situasi yang tidak menentu ini.

Seakan-akan turut mengambil peran di tengah pandemi ini, para santri komplek R2 mempunyai pengalamannya sendiri terhadap munculnya outbreak di kalangan santri. Saat itu, banyak teman-teman santri yang jatuh sakit, yang awalnya kami anggap sakit biasa, seperti pilek, demam, batuk. Cerita menjadi berbeda ketika kemudian dilakukan skrining dari pihak puskesmas setempat terhadap pondok pesantren. Hasilnya, kami sangat terkejut, ketika didapati bahwa sebagian besar dari kami didiagnosis positif Covid19. Masa-masa tersebut, jika boleh dibilang, merupakan saat yang sangat berat. Selain sakit yang dirasakan, stigma negatif juga tak ayal kami dapatkan. Masa-masa karantina dan pengobatan kami lalui bersama-sama, hari demi hari. Pengobatan medis dan alternatif keduanya kami tempuh. Selain ikhtiar lahiriah, kami rasakan bahwa ikhtiar batin sangat berperan dalam membantu kami melewati hari-hari tersebut.

Berdasarkan uraian dari salah satu cucu dari Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, yaitu Gus Ishom, disebutkan bahwa santri mempunyai 3 cara belajar. Pertama, thalabul ‘ilmi bil kasyfi, yaitu metode pembelajaran pada umumnya, di mana kita dituntut untuk rajin membaca, menghafal, mengulang pelajaran, dan metode belajar lainnya yang termasuk mempelajari ilmu secara kasat mata. Kedua, thalabul ‘ilmi bil kasyfi, yaitu para santri berusaha dengan jalan batin, memperbanyak riyadhoh dan ibadah pada Allah SWT. Dengan jalan kasyaf ini, diyakini Allah akan memberikan ilmu selayaknya rizki yang kadang datang dari jalan yang tidak disangka-sangka. Terakhir, yaitu thalabul ‘ilmi bi ta’dzhimil ustadzi, yaitu mencari ilmu melalui jalan takzim dan hormat pada guru-guru kita. Cara belajar tersebut, tanpa disadari sudah mendarah daging dan menyatu dengan para santri, termasuk dalam proses pembentukan resiliensi pasca pandemi. Pada dasarnya, pandemi tidak bisa kita maknai sekadar takdir semata, lalu kita berpangku tangan mengenai nasib kita ke depannya. Ada unsur-unsur pengetahuan, ilmu, dan hikmah yang banyak terkandung di dalamnya. Tentunya, sebuah keniscayaan, jika tidak ingin tertinggal. maka para santri dan pondok pesantren harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang ada. Dengan hal tersebut diharapkan peran santri dan pesantren akan lebih besar dan lebih bermanfaat lagi. Seperti misalnya menjadi agen percontohan untuk masyarakat di sekitar pesantren mengenai bagaimana menyikapi pandemi ini. Beberapa tradisi pesantren pada umumnya, pada akhirnya mengalami pergeseran makna. Pandemi menuntut kita untuk mencari dan menggali hal-hal yang lebih substantif. Pesantren tidak melulu soal tinggal di asrama, mengaji tidak lagi soal bersua dan bertatap muka, takzim tak bisa lagi hanya dinilai dengan mencium tangan murobbi tercinta. Berbagai penyesuaian dilakukan agar pesantren bisa tetap menjalankan tujuannya. Pembelajaran yang dilakukan secara virtual diharapkan tidak mengurangi ketakziman para santri dibandingkan saat bersua langsung dengan para ustaz dan ustazah. Imbauan menjaga jarak pun tidak mengurangi rasa kebersamaan di antara para santri yang hakikatnya terletak di lubuk hati.

Dari tradisi-tradisi pesantren yang khas, seiring dengan berjalannya waktu, melekat juga nilai-nilai luhur pesantren dalam diri para santrinya. Terdapat banyak nilai yang didapati santri yang dirasakan sangat berperan dalam membantu para santri menghadapi pandemi, beberapa di antaranya yaitu nilai agama atau religius, nilai cinta tanah air, nilai kerjasama dan kepedulian, serta nilai kesabaran. Nilai agama membawa para santri untuk senantiasa meniatkan perbuatannya sehari-hari sebagai ibadah, membuat santri tak segan untuk senantiasa mematuhi dan takzim pada para guru, sesuai dengan tuntutan yang diajarkan agama. Nilai cinta tanah air membuat para santri merasa bahagia jika dapat berbuat sesuatu, sekecil apapun, untuk negara. Nilai kerjasama dan kepedulian, senantiasa dipupuk setiap harinya. Kehidupan yang dimulai dari bangun tidur hingga kembali tidur yang selalu bersama-sama dengan teman santri yang lain, tentunya menumbuhkan rasa kebersamaan yang tinggi, termasuk di dalamnya kerjasama dan kepedulian antar santri. Untuk nilai kesabaran, kehidupan para santri senantiasa diisi dengan antre, dari antre mandi hingga antre ngaji, antre ambil nasi hingga antre mencuci, tak heran santri sudah bersahabat dekat dengan yang namanya kesabaran. Selain itu, sudah tidak asing lagi ajaran dari guru-guru, bahwa segala sesuatunya, itu antara syukur atau sabar.

Perpaduan dari hal-hal terebut di atas, selayaknya sebuah racikan obat yang padu padan, bisa menciptakan kesembuhan bagi yang meminumnya, yaitu para santri dan keluarga besar pondok pesantren. Daya resiliensi tak akan terbentuk melainkan atas usaha dan kerjasama semua pihak di dalam pondok pesantren, terutama para santrinya yang menjadi persentase utama penduduk pesantren. Segala sesuatu yang melekat dengan pondok pesantren, dari nilai-nilai, tradisi, dan metode pembelajaran, ternyata bisa menjadi senjata yang kiranya mampu untuk menjadi solusi berbagai macam persoalan yang kita alami, termasuk pandemi yang kita hadapi sekarang ini. Tak bisa dipungkiri, para kiai dan leluhur kita telah memberikan kepada kita, warisan yang sangat luar biasa dengan  segala keberkahan di dalamnya, pondok pesantren, tempat kita semua menuntut ilmu Allah SWT di dalamnya

 

Penulis: Siti Aisyah (Komplek R2)

 *tulisan ini meraih 5 besar terbaik dalam Lomba Kepenulisan Artikel Harlah 110 al-Munawwir 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *