Mbah Zainal Krapyak, Kiai yang ‘Ngemong’

by November 10, 2021
durasi baca: 3 menit

Hubungan seorang santri dengan kiai pesantren, tentu menyisakan kenangan yang istimewa. Ia akan memupuk kerinduan pada setiap ruang dalam benak insan santri. Rindu itu akan terus bergejolak manakala sosok kiai itu sudah tak mungkin ditemui di dunia ini. Haul ke-8 Almaghfurlah KH. Zainal Abidin Munawwir tahun ini tentu membuka kembali catatan memori bagi setiap santri yang pernah bertemu langsung dengannya. Sosok kiai yang wira’i, selalu berhati-hati, dan tak pernah berhenti berdzikir di setiap waktu ini akan dihauli pada Kamis malam (11/11).

Kesan masing-masing santri memang berbeda dalam mempresentasikan sosok teladan dalam hidupnya. Misalnya cerita salah satu santri asal Yogyakarta ini. Menurutnya, Mbah Zainal (sebutan akrab KH. Zainal Abidin) adalah seorang kiai yang ‘ngemong’ kepada siapapun, baik itu santrinya maupun masyarakat pada umumnya. Hal ini didasarkan atas ceritanya tahun 2013, sewaktu ia nyantri pasan  (Program Khusus Ramadhan) di Krapyak. Sebenarnya, waktu itu bukan kali pertama ia bertemu Mbah Zainal, namun untuk mondok di Krapyak, tahun itu merupakan awal ia merasakan bagaimana hidup sebagai santri Krapyak.

Nyantri di Krapyak tahun itu menurutnya sebagai representasi kebimbangannya atas keresahan/ketidakmapanan hatinya (tuma’ninah) sehingga sering berpindah-pindah pesantren. Pasalnya, waktu itu ia baru saja duduk di kelas satu aliyah dan masih nyantri di salah satu pesantren di Gunungkidul. Namun, karena suatu hal dan merasa tidak betah di pondoknya, ia memutuskan untuk nyantri di Krapyak.

Hari-hari bergulir dilaluinya dengan kegiatan ngaji bandongan pasan ala Krapyak. Tak terasa sudah mendekati hari ke-20, yang artinya kegiatan Ramadhan akan segera berakhir. Kondisi ini semakin menambah keresahan dalam hatinya. Ia berada dalam perasaan bimbang antara meneruskan nyantri di Krapyak ataukah kembali ke pondok lamanya, seusai PKR. Atas gejolak tersebut, ia memberanikan sowan Mbah Zainal dengan maksud menerima nasihatnya. Waktu itu, siang hari, Mbah Zainal sedang memberikan pengajian kepada jamaah ibu-ibu di nadelemnya. Mbah Zainal waktu itu sebenarnya dalam keadaan sakit. Namun masih saja berkenan memberikan pengajian dan bahkan menerima tamu.

Selepas pengajian, di ruang tamu Mbah Zainal, santri tersebut mengutarakan semua kebimbangan yang dirasakan. Dan benar saja, Mbah Zainal kerso mendengarkan semua keluh kesah santri yang notabenenya hanya santri pasan. Ia mengingat-ingat momen tersebut dengan menggambarkan sosok kiai yang menurutnya ngemong kepada siapapun. Sikap lemah lembut, penuh kehati-hatian serta pancaran keteduhan jelas tergambar dari pribadi Mbah Zainal.

Ia mencoba menirukan perkataan Mbah Zainal saat memberikan nasihat perihal masalahnya. Tanpa mengurangi esensi pesan yang disampaikan. “Mondok neng ngendi wae apik, sing penting golek ‘ilmu. Neng kene (Krapyak) yo apik, bali neng pondok (lama) yo apik” (Mondok dimanapun baik, yang penting adalah mencari ilmu. Di sini (Krapyak) maupun di pondok lama, ya baik), kenangnya menirukan nasihat yang disampaikan Mbah Zainal.

Nasihat singkat tersebut, menurutnya telah memberikan pengaruh yang besar terhadap keputusan yang ia ambil, bahkan masih selalu kontekstual terhadap berbagai masalah dalam hidupnya. Ungkapan tersebut memberikan pemahaman mendasar dalam memahami hakikat suatu hal. Semua dinilai menurut perspektif hakikat, dalam konteks masalah tersebut adalah untuk tetap mencari ilmu. Terlepas dimana dan kepada siapa ia mencari ilmu, itu merupakan cara menuju tujuan hakikat.

Mbah Zainal adalah kiai yang bijaksana. Ia bukan memberikan keputusan yang harus diikuti, melainkan memberikan pertimbangan-pertimbangan dan selebihnya, keputusan diserahkan sepenuhnya kepada yang bersangkutan. Bukan dengan menjudge dengan dalil atau maqolah yang sifatnya intimidasi. Santri yang saat ini masih nyantri di Krapyak ini membayangkan bilamana waktu itu Mbah Zainal mengungkapkan “al-Intiqal alamatul konyol” (berpindah-pindah merupakan alamat dari kekonyolan), niscaya waktu itu juga ia akan ‘mati konyol’ dan tidak akan berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya, tentu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai apa yang dicontohkan Mbah Zainal.

Beberapa hari ke depan adalah rangkaian haul Mbah Zainal, Krapyak. Kiai nan teduh kepada siapapun, yang selalu melantunkan lirih dzikir kepadaNya setiap waktu. Lahul fatihah. (nm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *