Lantunan Simthudduror di Hari Kelahiran Pancasila

by Juni 3, 2017
durasi baca: 2 menit


Rintikan air hujan mulai membasahi Krapyak. Terlihat beberapa santri di halaman sebuah Pesantren sedang tergesa-gesa menggulung tikar-tikar yang telah tertata rapi. Beberapa santri lainnya juga sedang melepas kabel dan lampu yang semula telah menyala begitu terang.

Hujan yang tak terlalu deras sebenarnya. Namun panitia Program Khusus Ramadhan atau PKR Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek Q Krapyak,Yogyakarta memutuskan untuk memindah acara yang semula di halaman pesantren menjadi ke dalam Mushollah utama Pesantren.

Tepatnya pada ada hari ke enam Puasa Ramadhan, panitia PKR mengadakan pembacaan sholawat Simthudduror secara bersama-sama. ” Awalnya acara akan dilaksanakan secara outdoor di halaman Pesantren, namun karena hujan, acara dipindah ke dalam mushollah,” ujar salah satu panitia acara. Pemindahan lokasi ini untuk mengantisipasi hujan yang lebih deras lagi. Walaupun begitu, hal tersebut tidak mengurangi antusias santri untuk datang ke acara.

Tidak hanya pemindahan tempat, gerimis memaksa panitia harus menunda acara selama beberapa jam, sebab harus berjibaku memindah beberapa alat, seperti mikrofon, sound, dan proyektor beserta layar ke mushollah. Kegiatan ini dibuka oleh Nova Faricha selaku penanggung jawab acara.

Pembacaan sholawat sendiri dipimpin oleh beberapa santri yang terdiri dari perwakilan-perwakilan Rayon—ambassador di masing-masing komplek. Acara terlihat semakin meriah dengan diiringi musik oleh grup hadroh Tsamrotul Muna.

Simthudduror dipilih dari pada sholawat-sholawat lainnya. Hal ini dikarenakan simthudduror yang kurang begitu dikenal oleh santri. “Simthudduror dipilih, karena kami ingin memperkenalkan kepada santri bahwa bentuk atau macam sholawat tidak hanya Diba’—yang menjadi bacaan rutin kita baca setiap malam Jum’at,” ujar mahasiswa UIN SUKA tersebut.

Simthudduror adalah kitab Maulid Nabi Muhammad karangan Al Habib Ali bin muhammad Al Habsyi (1838 – 1912) dari Hadromaut, Yaman. Salah satu putranya adalah Al Habib Alwi bin Ali Al Habsyi, pendiri masjid Ar Riyadh di kota Surakarta.


Simtudduror sendiri berisi untaian kisah kelahiran manusia utama, akhlaq, sifat, dan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW. Membaca simtudduror juga sebagai bentuk penyampaian rindu kepada kekasih Allah.


Ketika acara berlangsung, santri tampak begitu antusias. Sejak pertama dimulai,beberapa santri terlihat memainkan taplak meja, kerudung,dan bendera kecil untuk meramaikan suasana—dibuatnya semacam umbul-umbul, bahkan bendera yang dikibar-kibarkan.

Acara yang dihadiri seluruh santri dengan Jilbab putih ini, ditutup dengan menyanyikan lagu Yaa Ahlal Wathon karya KH Wahab Chasbulloh. Lagu Yaa Ahlal Wathon dinyanyikan sebagai bentuk peringatan hari lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni 2017 atau 6 Ramdhan 1438 H. Panitia berharap dengan dinyanyikannya lagu ini bisa membangkitkan kesadaran santri mengenai pentingnya Pancasila sebagai sarana pemersatu bangsa.

“Saya Santri. Saya Indonesia. Saya Pancasila” merupakan slogan yang didaras secara berjamaah oleh santri di penghujung acara. Hal ini bisa dimengerti, mengingat akhir-akhir ini banyak ormas yang mengaku anti Pancasila, mencoba merongrong kedaulatan Negara Republik Indonesia. Dengan penguatan nilai Pancasila, santri diharapkan tidak tergoda dengan ormas yang seperti itu. (Hafidhoh/Q)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *