Konstruksi Kepemimpinan dan Peninggalan Nabi Sulaiman AS. [BAGIAN III]

by Desember 22, 2017
durasi baca: 2 menit

Oleh : Elma Nafi’atul Maulida*

Salah satu peninggalan bersejarah Nabi Sulaiman yang masih ada sampai saat ini adalah Candi Borobudur. Menurut KH.Fahmi Basya, ahli matematika Islam, Candi Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman yang ada di tanah jawa. Terdapat ciri-ciri Candi Borobudur yang menjadi bukti sebagai peninggalan putra Nabi Daud tersebut.

Di antara bukti kebenarannya adalah hutan atau negeri Saba’. Makna Saba’, nama Sulaiman, buah maja yang pahit. Dipindahkanya istana Ratu Saba’ ke wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman, bangunan yang tidak terselesaikan oleh para jin, tempat berkumpulnya Ratu Saba’, dan lain sebagainya. Rizem (2014:488).

Tentu saja banyak orang yang tidak percaya bila Candi Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman. Di antara alasannya, karena hidup pada abad ke-10 SM. Sedangkan Candi Borobudur dibangun pada abad ke-8 M.

Kemudian, menurut banyak pihak peristiwa dan kisah Nabi Sulaiman itu terjadi di wilayah Palestina, dan Saba’ di Yaman Selatan, sedangkan Candi Borobudur di Indonesia.

Akan tetapi, untuk memperkuat teorinya itu, KH.Fahmi Basya menunjukan sejumlah bukti berdasarkan keterangan Al-Qur’an. Bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman. Terdapat beberapa bukti yang memperkuat pernyataan tersebut, antara lain, adanya Tabut Isma’il (2008:549).

Sebuah kotak kecil yang berisi warisan Nabi Daud kepada Nabi Sulaiman, pekerjaan jin yang yang tidak selesai ketika mengetahui Nabi Sulaiman telah wafat, para jin yang diperintahkan membangun gedung yang tinggi dan membuat patung-patung.

baca juga : Mbah Ali, Pesantren, dan Sepakbola

Bukti lain, Nabi Sulaiman berbicara dengan burung-burung dan hewan-hewan, kisah Ratu Saba’ dan rakyatnya yang menyembah matahari serta bersujud kepada sesama manusia. Saba’ ada di indonesia, terletak di Wonosobo, adanya buah maja yang pahit, dan nama Sulaiman yang menunjukan nama orang Jawa. Selain itu adanya surat yang dikirim Nabi Sulaiman untuk Ratu Bilqis, serta bangunan yang tinggal sedikit (sidrin qalil).

Dikisahkan bahwa tidak ada yang mengetahui kematian Nabi Sulaiman. Di dalam Al Qur’an, Allah SWT berfirman “Maka ketika kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukan kepada mereka kematianya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka ketika ia telah tersungkur tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan”(Saba’14). Isma’il (2008:570)

Dengan demikian, selama satu tahun lebih rakyat jin telah berdusta dalam mengetahui kematian Nabi Sulaiman. Sampai saat ini, sikap jin yang sangat senang menggoda dan mempengaruhi manusia. Agar manusia terjerumus ke jalan yang sesat. Setelah Nabi Sulaiman tiada, rakyat jin semakin leluasa dan merajalela serta berjanji akan menjerumuskan manusia ke dalam lubang kehancuran.

Seiring berjalannya waktu, dan memasuki tahun ke empat kekuasaan Nabi Sulaiman, selanjutnya kekuasaanya tersebut dilanjutkan oleh putranya,yaitu Rahba’am Maqdis selama tujuh belas tahun. Wallahu A’lam.

*Penulis merupakan Santri Al Munawwir Komplek Q



DAFTAR PUSTAKA

Rizem Aizid, Kitab Sejarah Terlengkap 25 Nabi Terkemuka (Yogyakarta: Safirah, 2014),
Wawan Susetya, Perdebatan Langit dan Bumi (Jakarta: Republika, 2005)
Himli ‘Ali Sya’ban, Nabi Sulaiman (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2008),
A.F. Jaelani, Membuka Pintu Rezeki (Jakarta: Gema Insani Press, 1999)
Abu Al fida’Isma’il bin Katsir, Kisah para nabi, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *