Kisah Seorang Putri yang Minta Dinikahkan

by Agustus 3, 2020
durasi baca: 2 menit

Foto: Wallpaperflare

Waktu itu adalah malam yang sangat biasa, dimana kami para santri mengikuti kegiatan madrasah diniyah di gedung komplek AB lantai dua. Malam itu jadwal kami mengaji bersama Ustadz Abdul Hadi –atau biasa kami panggil Pak Kokang.

Seperti biasa, beliau sering menyisipkan kisah hikmah di sela-sela pembahasan kitab. Hal ini juga yang sering menjadi perantara pahamnya kami dengan pembahasan materi utama. Kisah yang diceritakan Pak Kokang di sini tentu versi singkatnya, karena waktu ngaji kami juga terbatas. Tapi tidak apa. Jadi, malam itu Pak Kokang bercerita seperti ini.

Ada sebuah kisah menceritakan seorang putri yang meminta kepada bapaknya untuk dinikahkan. Putri tersebut berkata kepada bapaknya, “Pak, saya ingin dinikahkan dengan siapa saja tidak apa-apa, Bapak yang mencarikan.” Kemudian Sang Bapak mencarikan calon suami untuk putrinya tersebut. Beberapa hari kemudian Sang Bapak bertemu dengan seorang pemuda, sebut saja dia (Fulan). Sang Bapak melamarkan putrinya kepada Si Fulan, “Wahai Fulan, aku mempunyai seorang putri, putriku itu tuli, buta dan bisu. Maukah kamu menikah dengan putriku itu?”

Singkatnya, Si Fulan mau menerima lamaran tersebut apa adanya dan menikahinya.

Baca Juga: Betapa Romantisnya Bani Udzrah

Setelah menikah, Si Fulan mendapati istrinya jauh berbeda dari yang dikatakan Sang Bapak. Istrinya adalah wanita yang cantik dengan pendengaran, penglihatan dan lisan yang sempurna. Ternyata yang dimaksud dengan tuli adalah dia (Sang Putri) selama ini tidak pernah mendengarkan hal-hal yang jelek, yang dimaksud buta itu selama ini dia tidak pernah melihat yang dilarang Allah, dan yang dimaksud dengan bisu itu selama ini dia tidak pernah ghibah.

Dan akhirnya mereka dikaruniai anak yang sekarang terkenal sebagai pengarang kitab-kitab fiqih. Siapakah anak tersebut? Anak tersebut yaitu beliau Imam Syafi’i, yang menjadi salah satu rujukan fiqih umat Islam di dunia. Dari kisah ini dapat diambil hikmah bahwa anak yang shalih-shalihah tentu tidak dapat dipisahkan dari tirakat orangtua dengan menjaga diri dari hal-hal yang dibenci Allah.

Semoga kisah ini bermanfaat bagi para pembaca. Terima Kasih.

*Oktavia Ningsih, santri Komplek R2

#SantriProduktifR2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *