40 Hari Wafat KHR. M. Najib Abdul Qodir, KH Said Asrori: Lisanuhul Qur’an, wa Qalbuhul Qur’an

by Februari 13, 2021
durasi baca: 3 menit

KH Said Asrori di 40 Hari Wafat KH R M Najib AQ. Dok: @almunawwir.

Almunawwir.com – Genap 40 hari sudah KH. R. Muhammad Najib Abdul Qodir berpulang ke haribaan Allah SWT. Pondok Pesantren Al-Munawwir menggelar acara haul internal bagi keluarga dan santri mukim Krapyak pada Kamis (11/02).

“Udzkuru Mahasina Mautakum” terang KH. Said Asrori mengawali mauidhoh hasanahnya. Ungkapan tersebut didasarkan atas sabda Nabi Muhammad  SAW, bilamana salah seorang muslim yang meninggal, terlebih orang yang berakhlak mulia, untuk dikenang (dituturkan) kebaikan-kebaikan semasa hidupnya.

Pada kesempatan tersebut, kiai pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thullab, Wonosari, Tempuran, Magelang itu menyampaikan bahwa almarhum Kiai Najib adalah orang yang luar biasa.

lisanuhul qur’an, lisanipun Kiai Najib niku Qur’an. Insyaallah wa qalbuhu qur’an, manahipun ugi manah qur’an. (lisanuhul qur’an, perkataan Kiai Najib yang selalu disibukkan dengan bacaan al-Qur’an. Insyaallah wa qalbuhu qur’an, hatinya juga hati yang mencerminkan kemuliaan al-Qur’an),” ucapnya.

Kiai Said menjelaskan bahwasanya bacaan-bacaan kalimat thayyibah (tahlil) yang dihadiahkan kepada mayit, maka pahalanya akan sampai kepada mayit tersebut. Hal ini didasarkan pada hujjah (argumen) Allahuyarham KH. Ali Maksum dalam kitabnya hujjah ahlussunnah wal jama’ah yang mengutip sebuah hadis, bahwasannya manfaat atau pahala bacaan al-Qur’an, tahlil, bacaan kalimat thayyibah, dan sadaqah akan sampai kepada yang dituju (mayit).

“tsawaba qira’atil qur’an wa tahlil wa tasybih wa tahmid wa salawat wa sadaqah yashilu ilal mayyit” lanjutnya.

“Panjenengane (Kiai Najib) ahli silaturahmi, enteng sanget menawi rawuh dateng santri-santri, dateng masyarakat. Cintanipun dateng santri-santri luar biasa, anggenipun tarbiyyah wa ta’lim (beliau Kiai Najib, adalah seorang yang ahli silaturahmi, ringan mengunjungi santri-santrinya, juga kepada masyarakat. Cintanya kepada santri-santri luar biasa, terutama dalam hal pendidikan dan pengajaran),” kenang kiai alumnus Lirboyo tersebut.

Gambaran kecintaan Kiai Najib kepada santri-santrinya, katanya “kulo wongsal-wangsul sowan mriki, sumerep piyambak. Sedinten-sedintenipun namung nenggani santri. sekali menawi majeng menika sederek enem, santri enem. Anggenipun ikramu ad-dhuyuf, mulyaaaken dateng tamu (saya sering berkunjung ke sini (Krapyak) menyaksikan sendiri. Dalam kesehariannya hanya menunggui santri. Sekali maju setoran, ada enam santri”.

Atas dasar kesaksiannya, Kiai Said menukil salah sebuah ayat 88 dalam surat al-Waqiah,  dengan berprasangka baik bahwa almarhum Kiai Najib termasuk dalam golongan minal muqarrabiin (orang-orang yang didekatkan kepada Allah SWT). Dalam kitab tafsir, makna dari ayat minal muqarrabin ialah para nabi dan rasul Allah, ulama, dan syuhada’.

“Kula husnudzan, simbah Kiai Najib Abdul Qodir, mlebet wonten golongan muqarrabuun (saya berprasangka, simbah Kiai Najib Abdul Qodir, termasuk golongan yang muqarrabuun-dekat dengan Allah,” tegas ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama’ (PCNU) Magelang itu.

Wa ammaa inkaana min ashaabil yamin, fasalamun laka min ashabil yamin. Paling mboten kito berupaya keras nyuwun dateng gusti Allah, termasuk ashabul yamiin, tiang-tiang ingkang ngleresaken dateng Rasulullah, dateng sahabat ashabul rasul, dateng tabi’in, dateng poro alim, dateng poro kiai (Wa ammaa inkaana min ashaabil yamin, fasalamun laka min ashabil yamin. Paling tidak kita berupaya keras berdoa kepada Allah SWT, agar termasuk ashabul yamiin, orang- orang yang meyakini Rasulullah, sahabat nabi, pengikut nabi, para alim ulama dan para kiai),” lanjutnya mengajak hadirin.

Putra ulama’ kharismatik Magelang (KH. Asrori Ahmad) itu mengajak untuk meneladani sosok KHR. Muhammad Najib yang semasa hidupnya mewiridkan dan berhidmah kepada al-Qur’an, terlebih dalam hal mendidik anak untuk mencintai nabi, keluarga nabi dan al-Qur’an (addibu auladakum bi tsalasi khisolin).

Menyitir syair Imam Syafi’i, Uhibbu sholihina wa lastu minhum, La’alli an anala bihim syafa’ah. Wa ukrihu an tijaarotil ma’ashi wa laukuntu Sawaa’an fil bidho’ah, Kiai Said juga mengajak untuk selalu menanamkan rasa cinta kepada orang-orang shalih.

Di akhir mauidhoh hasanahnya, adik sepupu Gus Mus (KH. Musthofa Bisri) ini mendo’akan agar nantinya (di akhirat) semua hadirin dikumpulkan bersama KHR. Muhammad Najib, guru-gurunya, ulama’, syuhada’dan sholihin.

Turut hadir dalam acara tersebut kiai asal Rembang, KH. Yahya Cholil Staquf, Katib ‘am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *