KH. Said Aqil Sirodj : “Radikalisme dan Terorisme itu Asing bagi Akhlak Manusia Indonesia”

by Maret 11, 2017
durasi baca: 2 menit

KRAPYAK, almunawwir.com, Sebagai bangsa yang memegang tegus prinsip kewargananegaraan, yang artinya pula, menghargai hak dan kewajiban satu dengan yang lain, Indonesia menjadi landasan atas tegaknya prinsip Islam yang damai. Islam yang ramah, bukan Islam yang marah”. Begitulah pemaparan Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, M. A ketika menjadi pembicara di Haul Al Maghfurlah Simbah KH. M. Munawwir bin Abdullah Rosyad.

Sebelum mencetuskan statement tersebut, Ketua Umum PBNU itu menjelaskan terlebih dahulu bagaimana tekstur masyarakat Nusantara di era Hindhuisme sampai era Walisongo. Era Ratu Sima Kerajaan Kalingga yang menerima perwakilan dari Kerajaan Persia yaitu Syeikh Subakir untuk mensterilkan dedemit yang menghuni Jawy.

Upaya itu berhasil, kecuali dua yang tidak mau dipindah dan masuk Islam yakni Sang Hyang Semar dan Sang Hyang Togog. Kemudian era Mbah Wasil Setono Gedong yang mengajarkan Kitab Asror kepada Raja Joyoboyo yang sekarang masyhur dengan sebutan Kitab Ramalan Joyoboyo. Hingga era Walisongo yang mencoba menkolaborasikan tradisi hindhuisme awal di Indonesia dengan ajaran-ajaran Islam.  

Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, M. A ketika menjadi pembicara di Haul Al Maghfurlah Simbah KH. M. Munawwir bin Abdullah Rosyad.

Beliau lalu melanjutkan komentarnya mengenai isu-isu radikalisme dan terorisme. “Radikalisme pertama dalam Islam adalah pembunuhan Sayyidina Ali bin Abi Tholib oleh Abdurrahman bin Muljam At-Tamimy”. Muljam sendiri merupakan orang yang taat beribadah, gemar berpuasa, suka qoimul lail, pun hafal Al Qur’an.

Tapi sikapnya membunuh Sayyidina Ali, tentu sangatlah bertentangan dengan kesehariannya yang demikian tersebut. Dalam konteks Nusantara, beliau menegaskan, apabila berpijak pada rukun budaya nusantara, radikalisme dan terorisme itu “ghorib min akhlaqil indunisiyyin” asing bagi akhlak manusia Indonesia.

Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, M.A, dalam Mauidhoh Hasanah-nya juga  menyampaikan, bahwasannya bid’ah bagi orang Indonesia bukanlah hal yang tabu. Melestarikan–yang dianggap orang lain sebagai bid’ah–pun demikian, adalah keharusan.

Apalagi bid’ah tersebut (beliau mencontohkan selametan, kendurian, haul, tahlil) diisi dengan ajaran-ajaran Islam. Seperti halnya metode dakwah Walisongo tatkala menyebarkan Islam di Tanah Jawi yang, mengasimilasikan dan mengakulturasikan budaya dengan agama.

Dari uraian tersebut, beliau mengakumulasikan budaya sebagai infrastuktur agama. Sebab, beliau menyitir maqolah, “Islam bukan melulu hanya berbicara aqidah dan syari’at. Akan tetapi, Islam merupakan Agama berbudaya, berperadaban, bertamaddun dan berkemanusiaan”.


“Radikalisme dan terorisme itu “ghorib min akhlaqil indunisiyyin” asing bagi akhlak manusia Indonesia.


Ketua Umum PBNU itu juga membawa audiens untuk memahami dan menyelami makna Islam Nusantara secara kolektif. Bahwa Islam Nusantara adalah representasi dari Islam di Indonesia yang santun, damai, menjaga persaudaraan, menghormati hak orang lain, menjaga kedaulatan Negara dan mempertahankan Asas Bhinneka Tunggal Ika yang oleh Nahdlatul Ulama disuarakan dengan sangat, sedari dua tahun yang lalu.

Kiai Said sendiri setelah mengisi mauidhoh hasanah bergegas beramah-tamah di kediaman KH. R. M. Najib Abdul Qodir. Lantas, alumni Pesantren Krapyak di tahun 1972-1975 tersebut menyempatkan diri beramah tamah pula di kediaman KH. Attabik Ali, dan KH. Jirjiz Ali dan di Komplek L, sebelum kembali ke tempat beliau menginap. (Pimred)

Krapyak, 09 Maret 2017 / 11 Jumadil Akhiroh 1438 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *