KH Mifachul Akhyar Akui KH Ali Maksum sebagai Sosok Berkharisma, Teladan Baik dan Motivator Handal

by Desember 25, 2020
durasi baca: 3 menit

KH Miftachul Akhyar dalam mengenang sosok KH Ali Maksum. Sumber Foto: Krapyak TV

Almunawwir.com – Kita semua kehilangan sosok yang sangat berpengaruh dengan ilmu yang menyegarkan bagi siapa saja yang meneguknya. Tak lain yang beliau maksud adalah al-Maghfurlah KH Ali Maksum. Demikian disampaikan oleh Rais ‘Am PBNU sekaligus Ketua Umum MUI, KH Miftachul Akhyar (Pengasuh PP. Miftachus Sunnah, Surabaya) melalui vitual Zoom.

Kesan dan pesan dalam kehidupan al-Maghfurlah, sejenak membangkitkan ingatannya akan sosok figur kharismatik yang sanggup mengayomi semua golongan.

“Kita dari kalangan PBNU sangat kehilangan sekali sosok kharismatik, dan berharap bisa memunculkan generasi idaman, yang bisa sedikit mengganjal atau menghentikan sejenak daripada situasi yang disebut dengan era disrupsi”, tukas Kiai asal Surabaya tersebut.

Selanjutnya Rois ‘Am mengatakan bahwa saat ini kita semua dihadapkan dengan suatu fenomena dimana kebenaran dianggap sebagai kesalahan dan kesalahan dianggap sebagai kebenaran. Oleh karena itu, Amrullah wa Dinuh (Keputusan Allah dan Agama) adalah—yang insyaallah—satu-satunya sebagai obat daripada musibah yang kita rasakan.

Kemudian beliau teringat tentang kisah sesosok ulama yang bernama Az-Zuhri disaat menghadap kepada Amirul Mukminin, Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Dari kedua tokoh ini terjadilah sebuah dialog yang mengesankan untuk kita renungi bersama:

Amirul Mukminin bertanya: “Dari mana engkau datang, wahai Zuhri?”

Az-Zuhri menjawab: “Saya datang dari Makkah.”

Amirul Mukminin bertanya kembali: “Lalu siapa yang engkau wakilkan atau jadikan pengganti di kota Makkah yang menuntun serta memberikan pendidikan kepada penduduk Makkah.”

“Imam Atha’ bin Abi Rabbah”

“Apakah ia dari orang Arab asli atau keturunan orang-orang mulia?”

“Dari keturunan orang-orang mulia”

“Dengan kemampuan apa ia memimpin?”

“Dengan kemampuan ketakwaan yang ia miliki dan kemampuan mengaktualisasikan ajaran Agama serta memanifestasikan jalan kehidupan.”

“Lantas siapa yang menjadi wakil atau pemimpin di Yaman?”

“Thawus bin Kaisan”

“Apakah ia dari orang Arab asli atau keturunan orang-orang mulia?”

“Dari keturunan orang-orang mulia”

“Dengan kemampuan apa ia memimpin?”

“Dengan kemampuan seperti yang dimiliki oleh Imam Atha’ bin Rabbah”

“Celakalah engkau wahai Zuhri. Kalau demikian, nanti yang menguasai dunia ini adalah orang-orang mulia, sedangkan meraka yang keturunan Arab asli hanya sabagai pendengar.” Tegas khalifah.

Baca Juga: Gus Baha: Tradisi Keilmuan itu Harus Dijaga dengan Hujjah dan Pembukuan 

Lalu Imam Zuhri menjawab: “Wahai Amiral Mukminin, Innahu Dinullah wa Amruh (Itulah agama Allah dan keputusan Allah). Man Hafizha Sada, wa Man Taraka Saqata (Barangsiapa yang menjaga/melestarikan ilmu yang di dalamnya memiliki kemampuan dan dipenuhi ketakwaan, maka dialah yang akan memimpin dunia.)”

“Namun diakhir zaman ini, sudah jauh berbeda dari apa yang telah diwariskan oleh al-Marhum al-Maghfurlah (KH Ali Maksum). Di dunia ini ada dua perselingkuhan; perselingkuhan ilmu dan perselingkuhan harta kekayaan, yang di dalamnya terdapat kekuasaan. Lanjut beliau.

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa sekarang ilmu sudah lepas kontrol dari sang empunya, artinya orang-orang sudah tidak menghiraukan lagi mana itu kebenaran dan kesalahan.

“Saat ini kita membutuhkan orang yang benar bukan hanya sekedar pintar. Saat ini kita butuh sosok yang seperti beliau al-Maghfurlah yang di dalamnya lengkap dengan sifat Uswah Hasanah (suri tauladan yang baik) juga Mauidzah Hasanah (motivator yang handal).” Tegasnya.

Oleh karena itu, mudah-mudahan dengan memperingati Haul KH Ali Maksum yang ke-32 ini, semoga lahirlah generasi-generasi idaman, terutama dari dzuriyah-dzuriyah al-Marhum dan siapapun itu baik dari kalangan santri atau para muhibbin. Kita harapkan bisa melanjutkan daripada apa yang telah diletakkan dasar-dasar oleh al-Marhum al-Maghfurlah KH Ali Maksum.

Sebagai penutup beliau memohon doa kepada semua hadirin agar senantiasa dirinya diberikan istiqamah dalam menjalankan amanat baru ini, yakni sebagai ketua Lembaga Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Semoga saya al-Faqir diberikan istiqamah dalam menjalankan amanat besar ini. Amiin. (Irfan Fauzi/Komplek L)

Irfan Fauzi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *