KH Ali Maksum: Penggerak, Pembaharu dan Soko Guru Ulama Abad 21

by April 14, 2020
durasi baca: 13 menit

Mandiri: KH Ali Maksum berjalan menggunakan bantuan tongkat. Foto Arsip: Almunawwir.com

Almunawwir.com – KH Ali Maksum adalah salah satu ulama kharismatik dan cukup terkenal di Nusantara. Kecakapan ilmu di bidang ilmu alat, membuat kiai satu ini dijuluki sebagai ‘munjid ‘berjalan. ‘Munjid’ adalah salah satu nama kamus Bahasa Arab karya Louis Ma’luf dari Lebanon. Kepandaiannya tersebut juga menghasilkan beberapa karya tulis seperti Hujjah Ahlussunnah Waljama’ah yang berisi tentang dalil dan penjelasan amaliah warga Nadhatul Ulama.

Ali Maksum atau yang biasa disapa dengan Ali adalah putra seorang kiai besar dari daratan Jawa bagian utara, yakni KH Maksum, pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayat Lasem, Jawa Tengah. KH Maksum adalah ulama generasi KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah dan beberapa kiai lainnya. Meskipun segenerasi, KH Maksum juga pernah berguru kepada KH Hasyim Asy’ari. Para kiai ini adalah murid dari Syikhona Kholil Bangkalan.

KH Maksum tercatat telah nyantri ke beberapa pesantren, dari Jepara, Maduran, Jombang, Sarang, Solo hingga ke Mekah. Sudah menjadi tradisi bagi para ulama untuk mencari ilmu dengan berpindah-pindah pesantren. Menurut Damami, dalam Sosiologi Pesantren, kegiatan tersebut dikenal dengan migrasi ilmiah. Dulu, setiap pesantren memiliki ciri khas keilmuwan tersendiri, seperti Tebuireng dengan Shohih Bukharinya, Lasem dengan fiqihnya, Lirboyo dan Tremas dengan ilmu alatnya, dan Krapyak dengan al-Qur’annya. Hal ini yang menyebabkan mengapa para ulama berguru dari satu guru ke guru lainnya. Tujuannya tak lain adalah untuk mendapatkan kualitas dan kuantitas ilmu dengan sanad yang jelas.

KH Maksum lahir sekitar tahun 1873 M/1292 H. Tahun kelahiran ini tidak bisa dipastikan kebenarannya, karena memang tidak ada yang mengetahuinya dengan pasti. Beliau adalah putra dari KH. Ahmad Abdul Karim dan Nyai Qosimah. Kakek dari Ali ini adalah seorang pedagang sukses. KH. Maksum menikah dengan seorang gadis bernama Muslikhatun, putri dari KH Musthafa Sumbergirang Lasem. Nyai Muliskhatun meninggal di Mekah ketika sedang melaksanakan ibadah haji dan belum sempat dikaruniai keturunan. Kemudian, Kiai Maksum menikah dengan Nuriyah, putri KH Zein Lasem. Dari pernikahan keduanya ini, Kiai Maksum dikaruniai 13 anak, namun delapan di antaranya meninggal dalam usia yang masih cukup belia, sementara yang hidup adalah Ali, Fatimah, Chamnah, Azizah dan Ahmad Syakir.

KH Maksum adalah ulama yang tekun mengembangkan organisasi Nadhatul Ulama, di samping kesibukannya mengasuh Ponpes Al Hidayah, Lasem, Rembang.

Rembang memang dikenal menghasilkan ulama kharismatik, seperti KH Bisri Musthofa dan anaknya KH Musthofa Bisri, KH Maimoen Zubair, KH Ahmad Syakir, dan beberapa ulama lainnya. Selain KH Maksum, ulama lain yang akif di masa awal berdirinya NU adalah KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Cholil Bangkalan. Salah satu peran KH Maksum dalam bidang politik adalah karirnya di konstituante sebagai wakil dari NU. Kiai Maksum sendiri wafat pada Jum’at, 20 Oktober 1972 di Lasem.

Sedangkan Ali sendiri lahir pada tanggal 2 Maret 1915. Ketika masa kecilnya, umat Islam tengah menghadapi kelompok pembaharu yang melakukan serangan terhadap pondok pesantren yang dinilai sebagai lembaga tradisional. Namun kondisi ini tidak menyurutkan langkah Kiai Maksum untuk mendidik anak-anaknya mencintai pondok pesantren. Bahkan tak satupun dari putra-putrinya yang disekolahkan, baik sekolah yang didirikan Belanda maupun Jepang.

Sejak kecil, Ali sudah menunjukkan kepandaiannya di bidang ilmu alat; nahwu dan shorof. Tidak seperti kebanyakan orang yang menguasai ilmu alat, yang tidak diimbangi dengan skill berbicara dalam Bahasa Arab. Hal ini tidak terjadi pada Ali, selain ilmu alat yang dikuasainya, Ali muda juga menguasai bahasa arab secara aktif. Sejak kecil Ali dididik oleh ayahnya dalam lingkungan pesantren. Selain nahwu-shorof, beberapa ilmu lainnya juga diajarkan seperti fiqih dan balaghoh. Pada awalnya ayah Ali sangat mengharapkan anaknya pandai di bidang fiqih, bahkan porsi pelajaran fiqih lebih banyak diberikan daripada mata pelajaran lainnya, namun Ali justru jatuh cinta pada nahwu-shorof. Namun hal ini tak bisa dijadikan alasan bahwa kemampuan Ali di bidang fiqih kurang.

Selain menyukai pelajaran ilmu alat, kegemaran Ali kecil adalah menonton wayang. Suatu cerita menyebutkan bahwa ia sering menghindar dari orang tuanya hanya untuk menonton wayang, meskipun harus ditempuh dengan jalan kaki jauh, Ali tetap berangkat. Ia juga sering menonton wayang dengan ditemani oleh sang adik, Ahmad Syakir.

Seiring berjalannya waktu, Ali tumbuh menjadi remaja yang mulai memikirkan untuk mencari ilmu di luar pesantren ayahnya. Kiai Maksum berkeyakinan untuk menitipkan Ali ke kiai lain untuk dididik. Dan tentunya semangat sang putra akan naik berlipat-lipat melebihi dididik ayahnya sendiri di rumah. Tercatat Ali pernah menjadi santri dari Kiai Amir, Pekalongan dan Kiai Habib Dimyathi di Tremas.

Masa Menuntut Ilmu

Tremas adalah salah satu bagian yang tak bisa dipisahkan dari kisah hidup KH Ali Maksum. Kiai Maksum memutuskan untuk mengirim Ali kepada kiai lainnya, karena seorang anak tidak bisa dididik orang tuanya sendiri hingga dewasa. Dipilihlah Tremas, asuhan KH Dimyathi yang selanjutnya diasuh oleh KH Hamid Dimyathi. Saat itu, Tremas adalah salah satu pondok besar di Jawa selain Tebuireng dan Lirboyo. Beberapa alasan yang menjadikan Tremas sebagai pilihan adalah sikap Tremas yang menolak segala bentuk penjajahan Belanda beserta budayanya, Tremas juga pesantren dengan ahlul bait yang tergolong alim. Hal ini dibuktikan dengan munculnya nama Syaikh Mahfuzh at-Tarmasi yang menjadi orang Indonesia pertama yang mengajar di Mekah. Beberapa ulama yang pernah menjadi muridnya adalah KH Maksum Lasem, KH Hasyim Asy’ari, KH Dahlan Watucongol, dan beberapa ulama lainnya. Alasan terakhir dipilihnya Tremas adalah kegiatan ilmiah yang cukup intensif.

Ali masuk Tremas sekitar tahun 1972. Saat itu ada tradisi bahwa apabila ada seorang santri yang selama tiga tahun tidak pulang (naun) ke kampungnya, maka itu suatu pertanda bahwa ia akan menjadi orang alim dan sukses. Ali merasa tertarik dengan tradisi ini. Kiai Maksum sebagai orang tua mendukung keputusan Ali untuk melaksanakan naun. Dengan demikian, ia tak pulang selama 3 tahun ke Lasem.

Di Tremas, Ali diminta oleh Kiai Dimyathi untuk tinggal di komplek ndalem, meskipun di komplek santri ada kamar komplek santri dari Lasem. Tentunya ini adalah sebuah keistimewaan bagi Ali yang sekamar dengan Gus Muhammad yang baru saja datang dari Mekah. Di antara kiai-kiai ada hubungan saling menitipkan putra-putrinya untuk dididik. Seperti Ali yang dititipkan kepada Kiai Dimyathi, dan Kiai Dimyathi sendiri juga menitipkan kedua putranya, Habib dan Hamid untuk dididik oleh Kiai Maksum di Lasem. Barangkali hal ini bisa menjadi alasan mengapa Ali diminta untuk tinggal di komplek ndalem.

Ali muda adalah santri yang menonjol di banyak bidang keilmuan di antara para santri lainnya. Bahkan Gus Muhammad juga sering belajar kepada Ali perihal membaca kitab kuning. Gus Muhammad selama tinggal di Mekah lebih mengkhususkan diri untuk menguasai Ulumul Qur’an, sehingga dalam penguasaan kitab kuning, masih berada di bawah kemampuan Ali.

Selanjutnya, Ali dipercaya oleh Kiai Dimyathi untuk mengajar para santri. Ali, si santri brilian, tegas, nan simpatik mendapat kedudukan yang sangat terhormat di lingkungan keluarga Tremas dan para santri pada umumnya. Tentunya kedudukan ini tidak hanya didasarkan karena Ali anak seorang kiai besar, melainkan kemampuannya yang memang di atas rata-rata kemampuan santri lainnya.

Seperti ulama lainnya, Ali juga melestarikan tradisi membaca. Buku bacaannya juga melebihi buku bacaan santri pada umumnya. Buku-buku yang dibaca tidak hanya apa yang diajarkan di pesantren oleh kiai-kiainya. Bahkan kitab-kitab pembaharu seperti Tafisir Al Manar, karya Rasyid Ridha murid Muhammad Abduh, Tafsir Al Maraghi, dan Fatawa Ibnu Taimiyah juga menjadi bahan bacaannya. Ali mendapatkan kitab-kitab tersebut lewat kawan-kawannya yang pulang dari ibadah haji. Sebenarnya kitab-kitab tersebut dilarang di lingkungan pesantren karena tidak sama dengan tradisi pesantren. Namun oleh Kiai Dimyathi hal tersebut dibiarkan karena Ali memang sudah mempunyai dasar ilmu kepesantrenan yang kuat.

Ali memang santri spesial. Menurut Mukti Ali, Ali adalah salah satu penggerak modernisasi di Tremas. Pada tahun 1928, Sayid Hasan, salah seorang santri senior memprakarsai berdirinya madrasah kontroversial di Tremas. Ia hendak menghapus sistem pesantren. Semua guru madrasah diambil dari luar pesantren. Madrasah ini seolah memusuhi pesantren dan menyatakan pendapat bahwa pesantren tidak relevan lagi dengan zaman. Hal ini membuat madrasah ini tidak berkembang dan setahun kemudian bubar.

Aksi kontroversi tersebut menimbulkan rasa khawatir ketika Ali dan Gus Hamid hendak mendirikan madrasah. Namun kekhawatiran tersebut tak menghalangi keduanya untuk selalu mencoba dan mencoba dalam meyakinkan Kiai Dimyathi dan keluarga lainnya.

Keduanya meyakinkan dengan menyatakan pentingnya madrasah di Tremas dengan pengajar dari Tremas sendiri. Akhirnya, Ali dan Gus Hamid bisa meyakinkan Kiai Dimyathi setelah melihat konsep madrasah yang jelas. Madrasah diizinkan berdiri pada tahun 1932. Pada waktu, membuka madrasah dengan menggunakan kitab-kitab bergambar adalah hal yang berat. Memerlukan keberanian yang luar biasa. Namun pada akhirnya, Ali mampu melewatinya.

Pada waktu itu, Tremas terkenal dengan empat serangkai, karena dari keempat ini lah muncul ide-ide untuk mengembangkan pesantren. mereka adalah Gus Hamid Dimyathi, Gus Rahmad Dimyathi, Gus Muhammad bin Syaikh Mahfud dan Wak Ali. “Wak” berasal dari kata Uwak yang merupakan panggilan kehormatan untuk orang yang dituakan.

Setelah delapan tahun tinggal di Tremas, tibalah saatnya Ali pulang ke kampung halamannya, Lasem. Tentu ini adalah hal yang berat. Bahkan Tremas bisa disebut tanah kelahiran kedua setelah Lasem. Karena begitu lama dan kuatnya ikatan Ali dan Tremas. Sebelum pulang, Ali menyerahkan segala tugas yang diembannya kepada keluarga kiai dan pengurus. Madrasah yang dirintis diserahkan kepada Kiai Hamid Dimyathi sebagai direktur dan Mukti Ali sebagai Wakil Direktur.

Semenjak kepulangannya ke Lasem, Ali membantu ayahnya dalam mengajar santri-santrinya. Ali, setelah menimba ilmu di Tremas, menjadi Ali yang semakin matang keilmuannya. Tafsir dan Bahasa Arab menjadi ilmu favoritnya. Semangat dalam mencari ilmu segera ia tularkan pada santri-santri Al Hidayat.

Baca Juga: Santri Ngrowot dalam Pandangan KH Ali Maksum 

Pernikahan KH Ali Maksum

Kiai Maksum diam-diam menjalin persahabatan dengan KH Munawwir. Seorang ahli al-Qur’an dari daerah Selatan, yakni daerah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Persahabatan itu bukan sekedar persahabatan biasa, diam-diam kedua kiai nan arif tesebut menjodohkan putra dan putrinya, yang tak lain adalah Ali yang dijodohkan dengan Hasyimah, putri dari Kiai Munawwir. Sudah menjadi tradisi memang, untuk menjaga kelestarian pesantren, para kiai akan menjodohkan anak-anaknya dengan anak dari kiai lainnya. Ali dan Hasyimah tidak menolak keinginan orang tuanya. Pada tahun 1938 menikahlah kedua insan tersebut.

Belum berlangsung lama pernikahan itu, seorang bernama H. Djunaid dari Kauman, Yogyakarta menawarkan haji gratis kepada Ali. Penawaran tersebut disampaikan melalui Kiai Maksum. Tentunya, selain rizki, tawaran tersebut adalah tawaran yang berat bagi sepasang pengantin baru, karena yang pergi haji hanya Ali saja tanpa sang istri. Pergi haji waktu itu bukanlah perjalanan yang singkat seperti sekarang ini. karena belum ada pesawat, orang berhaji naik kapal yang memakan waktu hampir setahun. Belum lagi, Ali juga ingin melanjutkan rihlah ilmiahnya di tanah suci.

Kiai Munawwir berpendapat sebaiknya Ali menolak tawaran tersebut atau dilaksanakan di waktu yang lain. Namun, bagi Ali hal itu adalah sebuah kesempatan. Selanjutnya ia melaksanakan sholat istikhoroh untuk memohon petunjuk dari Allah SWT. Petunjuk Allah meyakinkan hatinya untuk tetap menerima tawaran dan pergi ke Mekah. Sang istri pun merelakannya pergi ke tanah suci.

Sesampainya di tanah suci, sembari melaksanakan ibadah haji, Ali mengumpulkan informasi mengenai tempat mana yang akan ia jadikan sebagai pemondokan. Namun ia sudah mempunyai nama guru mana yang akan ia datangi, yaitu Sayid Alwy Al Maliky. Akhirnya ia mondok di tempat Syaikhul Masyayikh Hamid Mannan di Samiyah. Kurang leibih 1 km dari Masjidil Haram. Kepada Sayyid Alwy (ayah Kiai Basyir, Kauman, Yogyakarta), Ali belajar kitab luma’.

Selama dua tahun, Ali tinggal di Mekah dan melaksanakan ibadah haji dua kali. Ia menjalin hubungan dengan beberapa pihak seperti jama’ah haji dari Indonesia. Ketika hendak pulang, jama’ah haji tersebut dititipi Ali kitab untuk dibawa pulang ke Indonesia, tepatnya Lasem. Sebagian lagi, ia bawah pulang sendiri.

Setelah dua tahun tersebut, ia pulang ke Lasem. Ali disambut bak pahlawan yang menang dalam pertempuran. Tentunya perasaan bahagia tidak bisa disembunyikan oleh Nyai Hasyimah, sang istri yang ia tinggal ketika pernikahan masih berusia satu bulan.

Ketika pulang ke Lasem, Indonesia tengah dijajah oleh Jepang. Hal ini menyebabkan pesantren yang diasuh oleh ayahnya mengalamai pasang surut jumlah santri. beberapa pondok pesantren nyaris gulung tikar. Di saat itulah, Ali yang sudah menjadi ulama ini terpanggil untuk mengeluarkan daya dan upaya untuk menghadapi permasalahan di pesantrennya. Kerja keras dari Kiai Ali membuahkan hasil. Pondok ayahnya kembali didatangi santri sekitar 200 santri. hal ini membuat Kiai Maksum tidak pernah berfikir untuk melepas putra pertamanya tersebut ke luar pesantren.

Mengemban Amanah di Krapyak

Setelah mengentaskan permasalahan di pesantren ayahnya, Kiai Ali kembali dirundung ujian dari Allah SWT. Di saat kecintaannya pada Al Hidayah begitu besar, pesantren mertuanya, Krapyak juga menjadi korban penjajahan Jepang. Dua tahun sudah santri Krapyak pulang dan belum kembali. Kondisi itu juga ditambah dengan wafatnya sang role of mode, Kiai Munawwir. Melalui Dasuki yang mendapat perintah dari ndalem, pergi ke Lasem untuk sowan kepada Kiai Ali. Dasuki menyampaikan maksud untuk memohon kepada Kiai Ali agar mau pulang ke Krapyak. Permohonan ini ditolak oleh Kiai Ali dengan alasan masih mengemban tugas berat di Lasem.

Penolakan ini tak menyurutkan semangat untuk merayu Kiai Ali, beberapa waktu kemudian, keluarga Krapyak kembali sowan ke Lasem. Kali ini yang sowan adalah Nyai Sukis yang tak lain adalah mertuanya sendiri, ibu dari Nyai Hasyimah didampingi oleh KHR. Abdullah Affandi (putra Kiai Munawwir dari Nyai RA Mursyidah). Berhubung yang datang adalah ibunya, Nyai Hasyimah jadi ikut memohon kepada suaminya untuk mau menerima permohonan dari Krapyak.

Akhirnya, Kiai Ali luluh. Ia menerima ajakan itu. Melihat yang demikian, sang ayah, Kiai Maksum merelakan kepergian Kiai Ali ke Krapyak. Sang ayah berpesan : “ monggo mawon, Ali sampean beto, namung piambeke ampun diuthik-uthik (silahkan Ali Anda bawa, hanya saja dia tidak usah diganggu-ganggu) “.

Sesampainya di Krapyak, Kiai Ali mencari di titik mana yang harus dibenahi pada pesantren yang sedang tidur ini. Setelah itu, ia mulai menemukan bahwa yang harus dibenahi adalah pengkaderannya. Kader pesantren harus dibenahi sebelum mencetak santri kembali. Untuk memulai langkahnya, madrasah yang sudah ada dibubarkan. Seperti yang disebutkan tadi, Kiai Ali konsen dalam pengkaderan. Beberapa yang dikader adalah KH Abdul Qodir, KH Mufid, Mas’ud, KH Nawawi Abdul Aziz, KH Dalhar, KH Zainal Abidin, Ahmad, dan KH Warson. Ada juga beberapa dari kalangan tetangga, seperti Wardan Joned, Zuhdi Dahlan, dan Abdul Hamid.

Dalam mendidik, Kiai Ali terkenal dengan didikannya yang keras. Murid-murid tersebut harus mengikuti pengajian dari sejak shubuh sampai pukul 21.00, istirahat hanya saat makan dan sholat. Hal ini dilakukan setiap hari selama dua tahun (1934-1944). Bahkan menurut suatu cerita, Kiai Warson pernah diikat di kursi dan disuruh menghafalkan bait nadhom Alifah Ibnu Malik. Hasilnya bisa dilihat, Kiai Warson adalah sang maestro Kamus Al Munawwir yang digunakan oleh berbagai pihak. Murid-murid generasi awal Kiai Ali tersebut tidak mengecewakan. Beberapa di antaranya menjadi kiai besar meskipun hanya dididik oleh Kiai Ali saja.

Dalam mengasuh Krapyak, Kiai Ali dibantu oleh dua orang anak Kiai Munawwir, yaitu Kiai Abdul Affandi dan Kiai Abdul Qodir. Keduanya mewarisi keilmuwan al-Qur’an dari ayahnya. Di tangan ketiga kiai ini, Krapyak yang dikenal dengan pesantren Al Munawwir ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dua kiai dari anak Kiai Munawwir tersebut meninggal lebih dahulu dari Kiai Ali. Kiai Abdul Qodir pada 2 Februari 1961, disusul oleh Kiai Affandi meninggal pada 1 Januari 1968. Pasca meninggalnya dua kiai ini, Kiai Ali menjadi sesepuh Krapyak.

Dalam menjalankan kepemimpinannya, Kiai Ali dibantu oleh beberapa murid yang sudah tumbuh menjadi kiai besar. mereka bukan lagi anak kecil yang mengaji sorogan kepada Kiai Ali. Kiai-kiai tesebut adalah KH Zainal Munawwir, KH Ahmad Warson, KH Zaini Munawwir, KH Dalhar, KH Ahmad, KH Mufid Mas’ud dan KH Nawawi Aziz. Dua nama terakhir berhasil mendirikan pesantren, yaitu pesantren ngrukem di Bantul dan pesantren Ngaglik di Sleman.

Sejak, kepemimpinan Kiai Ali, Krapyak tidak hanya pesantren yang mengajarkan ilmu al Qur’an. Namun juga pesantren yang mengajarkan kitab-kitab kuning. Krapyak menjelmah menjadi pesantren yang komplit, yakni Taman Kanak-Kanak, Madrasah Diniyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Takhasus serta Tahfidhul Qur’an.

Di masa kepemimpinan Kiai Ali ini, juga lahir beberapa komplek pesantren. krapyak juga mulai menerima santri putri. Pengajian santri putra yang dilaksanakan di gedung terbuka (utara masjid/depan komplek B) dipindah ke komplek utara (komplek L) dibawah asuhan KH Ahmad Munawwir dengan dibantu oleh KH Nawawi Aziz, KH Mufid Mas’ud, dan KH Zaini Munawwir. Sedangkan pengajian santri putri dilaksanakan di komplek Nurussalam dibawah asuhan KH Mufid Mas’ud, KH Dalhar, Nyai Hasyimah, Nyai Jauharoh Mufid, Nyai Badriyah Munawwir, dan Nyai Jumalah Munawwir.

Selain itu, beberapa fasilitas penunjang mulai berdiri. Krapyak juga pernah mendapatkan bantuan gedung dari Presiden Soeharto. Bangunan lain yang mulai berdiri adalah mushola, perpustakaan, kantor madrasah, lapangan olah raga, ruang tamu, asrama, dan kantor pondok.

Baca Juga: KH Bisri Musthofa di Mata KH Ali Maksum 

Kiai Ali dan NU

KH Abdul Ghofur Maemun dalam sambutannya ketika peringatan haul ke-28 KH Ali Maksum menyebut Kiai Ali sebagai “al insan al kamil”. Julukan ini tidak terlalu berlebihan, mengingat Kiai Ali adalah kiai yang mendidik murid dari berbagai sudut pemikiran yang berbeda. Di antara murid-murid itu, ada Kiai Zainal, Malik Madani, Masdar Farid, Said Agil Siraj, Gus Dur, Gus Mus, Mukti Ali, hingga Slamet Effendi Yusuf.

Beberapa tokoh tersebut dikenal dengan corak pemikiran yang berbeda-beda. Hal ini adalah termasuk dari manifestasi ajaran kanjeng Nabi. Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali juga memiliki karateristik yang berbeda-beda.

Sejak masa-masa awal di Krapyak, Kiai Ali telah menerjurkan diri ke dalam jami’iyyah NU. Pada pemilu 1955 terpilih menjadi Anggota Konstitusi bersama sang ayah, Kiai Maksum. Kiai Ali adalah tiang penyangga spiritual bagi warga NU di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

NU dikenal Kiai Ali secara formal pada tahun 1950-an. Saat itu kondisi politik NU yang mendesak untuk keluar dari Masyumi. Bagi NU, Masyumi hanya mau enaknya saja, NU dijadikan basis pendukung, sedangkan dalam kepemimpinannya disingkirkan.

Dalam muktamarnya di Palembang pada tahun 1952, NU menyatakan keluar dari Masyumi dan berdiri sebagai partai politik sendiri. Keterlibatan secara formal di NU, dimulai dari DIY. NU DIY membutuhkan pemebenahan, terutama masalah kepemimpinan pasca berakhirnya peristiwa G30 S PKI. Kiai Ali memulai dari beberapa kader untuk dipercaya dalam meneruskan NU. Diantara yang diemban amanat oleh Kiai Ali adalah H. Saiful Mujab, alumni Fakultas Kedokeran UGM.

Mengutip tulisan Muhammadun dalam kolom opini Jawa Pos edisi 27 Februari 2015, dengan judul KH Ali Maksum, NU dan Muktamar Ke-33, menceritakan sepak terjang Kiai Ali dalam NU. Saat itu, Krapyak akan memperingati haul Kiai Ali ke-26 dan NU akan menyelenggarakan muktamar NU ke-33 di Jombang. Kiai Ali adalah Rais Aam NU pasca kehilangan tokoh, KH Bisri Synsyuri pada tahun 1980.

Ada cerita menarik nan panjang sebelum Kiai Ali menjadi Rais Aam. Saat itu terjadi konflik antara kelompok Situbondo dan Cipete. Kelompok Situbondo berisi para ulama NU dan kelompok Cipete berisi para politikus NU. Dalam konflik ini, Kiai Ali mampu menjadi penengah kedua kelompok. Kiai Ali dengan ketegasan, kecermatan, keluwesan, dan tentunya kecerdasannya mampu melihat masalah ini dengan gamblang.

Sebelum menerima puncak pimpinan NU, Kiai Ali menolak untuk menggantikan Kiai Bisri, karena sikap tawaduk. Namun para kiai sepuh NU mendorong untuk bersedia. Bahkan Gus Dur dan Gus Mus harus menunggu keputusan Kiai Ali di kediamannya. Kiai Ali tidak memburuh jabatan. Tetapi beliau tidak diperbolehkan untuk meninggalkan tanggung jawab dalam Islam. Kiai Ali siap ditegur dan diluruskan apabila terjadi kesalahan.

“Sesungguhnya aku diberikan kepercayaan atas kalian. Padahal aku bukanlah yang terbaik dari kalian. Oleh karena itu, jika kalian melihatku melenceng, luruskanlah aku, hindarkanlah aku dari kesalahan , dan tegurlah aku sampai ke tempat yang baik…”

Kalimat pidato tersebut diucapkan oleh Kiai Ali sambil meneteskan air mata ketika menerima jabatan Rais Aam dalam Munas Alim Ulama di Kaliurang, 1981. Salah satu pertimbangan khusus dipilihnya Kiai Ali, adalah pidato Kiai Ali dalam sambutannya sebagai tuan rumah sanggup menyihir para hadirin menjadi terkagum-kagum.

Para peserta Munas terharu mendengar pidato Kiai Ali. Salah satu isi dari pidatonya adalah ajakan Kiai Ali untuk menuntun generasi muda untuk melaksanakan tugas perjuangan dan pidato mengenai ulama yang harus dijadikan sebagai top leader, sumber aspirasi, sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi.

Ketika menerima jabatan Rais Aam, Kiai Ali menangis. Sebelumnya Kiai Bisri juga tidak mau menerima jabatan Rais Aam selama Kiai Wahab Hasbullah masih ada. Kiai Wahab juga tidak mau menerima jabatan rais akbar setelah KH Hasyim Asy’ari wafat, selanjutnya Rais Akbar diubah menjadi Rais Aam. Demikian juga dijalankan oleh KH Sahal Mahfudh dalam Muktamar Cipasung pada 1994, ketika Kiai Ilyas Ruhiyat bersedia.

Jabatan Rais Aam dijalankan Kiai Ali sampai Muktamar NU Ke-27 di Situbondo. Sebenarnya banyak pihak masih menghendaki Kiai Ali untuk menjadi Rais Aam kembali. Namun Kiai Ali menolak dengan alasan lebih baik diberikan kepada yang lebih muda sebagai proses regenerasi. Sikap ulama tersebut, juga ditiru oleh murid Kiai Ali, Gus Mus. Walaupun sudah terpilih menjadi Rais Aam pada Muktamar NU Ke-33 di Jombang. Namun untuk mengurangi ketegangan, Gus Mus mengundurkan diri. Rais Aam dijabat oleh KH Ma’ruf Amin, cicit dari Syaikh Nawawi al Bantani.

Kiai Ali membuatkan bekal atau pesan bagi pengurus dan warga NU dalam meraih sukses organisasi, lima bekal tersebut adalah :

  1. Ats-Tsiqatu bi Nadhatil Ulama. Setiap warga NU harus yakin dan percaya terhadap NU sebagai satu-satunya tuntunan hidup yang benar.
  2. Al-Ma’rifat wa istiqon bi nadhatil ulama. Setiap warga NU mengilmu tentang NU dengan sungguh-sungguh.
  3. Al amalu bi ta’limi NU. Warga NU harus mempraktekkan ajaran dan tuntunan NU.
  4. Al jihadu fii sabili NU. Memperjuangkan NU agar tetap lestari dan berkembang pesat.
  5. Ash shobru fii sabili NU. Sabar dalam ber-NU.

Kecintaan dan andil Kiai Ali dalam NU, memang tidak bisa diragukan lagi. Salah satunya adalah hasil karya beliau yang bisa kita nikmati sampai sekarang adalah kitab hujjah ahlussunnah wal jama’ah. Kita yang berisi dalil amalaiyah warga NU.

Wafatnya Kiai Ali

Pada akhir Desember 1986, ketika memberikan pengajian pada haul Alm. KH Bisri Musthafa Rembang, tiba-tiba seorang pemuda bernama Ahmad Dirman datang ke panggung sambil membawa linggis dan kemudian memukulkannya ke kepala Kiai Ali. Beliau roboh, namun tetap sadar. Kiai Ali dilarikan ke rumah sakit Rembang. Di saat sakit, Kiai Ali masih sempat menasehari anak dan santrinya, nasehat yang terkenal adalah “ kabeh anak-anak ku lan santriku ora keno dendam lan ora keno anyel (semua anakku dan para santriku, tidak boleh dendam dan benci) “.

Sejak peristiwa itu, kesehatan Kiai Ali menurun. Namun Kiai Ali tidak mengenal lelah. Meskipun dalam kondisi fisik yang menurun, beliau masih aktif memberikan pengajian pada santri dan masyarakat. Pada usia ke 73, Krapyak menjadi tuan rumah Muktamar NU Ke-28. Seminggu pasca muktamar, Kiai jatuh sakit dan dirawat di RS Sardjito selama seminggu. Kiai Ali wafat ketika adzan Magrib berkumandang sekitar pukul 17.55 WIB di hari Kamis malam Jum’at, 7 Desember/ 15 Jumadil Awwal 1898 dalam usia 74 tahun. Beliau dimakamkan di komplek pemakaman Dongkelan. (Aninda)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *