Ketika Gus Dur Menulis KH Ali Maksum

by Juli 21, 2020
durasi baca: 3 menit

Mengiringi: Gus Dur berjalan mengiringi KH Ali Maksum yang sedang menggunakan kursi roda

Tulisan Gus Dur yang termuat dalam salah satu bukunya “Kiai Nyentrik Membela Pemerintah” ini menunjukkan kedekatan emosional dan idelogis dengan KH Ali Maksum, gurunya ketika beliau menimba ilmu di Yogyakarta. Tulisan ini sengaja kami tulis ulang dalam upaya informatif dan edukatif.

__

Baik belum tentu bermanfaat

Tertawa senantiasa dilakukannya sepenuh hati. Raut mukanya seperti menyimpan tawa dalam kadar sangat besar. Sedikit alasan saja sudah cukup membuatnya tegelak-gelak. Sering kali orang sekitarnya terbawa pada suasana penuh tawa seperti itu. hanya kesopanan bersikap di depan seorang kiai sajalah yang menahan mereka dari turut tertawa tergelak-gelak.

Seperti kecenderungannya yang begitu besar untuk tertawa sepenuh hati itu, Kiai Ali Krapyak memiliki pandangan serba-optimistis tentang kehidupan dan tentang tempatnya sendiri dalam kehidupan itu.

Begitu optimistis ia memandang peranannya dalam kehidupan, sehingga ia sering bagaikan bertindak semau-maunya. Menasehati menteri, menyindir orang lain, dan membuat lelucon bahkan hingga tentang soal-soal keagamaan yang terdalam sekalipun (seperti kepercayaan kepada para wali).

Ia sendiri yang menetapkan hak berbuat demikian, dan ia tidak bertanya kepada orang lain tentang tepat atau tidaknya tindakan seperti itu. Pokoknya ia yakin tentang penting atau benarnya suatu hal, langsung dilakukannya.

Walapun bergaul dekat dengan banyak pejabat pemerintahan dari tingkat teras di pusat dan daerah, sering kali ia mengambil sikap melawan dan menyanggah. Kasus RUU Perkawinan pada tahun 1973-1974. Kasus tanda gambar Ka’bah menjelang Pemilu 1977. Kasus aliran kepercayaan dalam SU-MPR yang lalu. Kasus liburan puasa.

Mengapakah kiai yang begitu luas dan bersifat akomodatif dalam pergaulan dapat mengambil sikap “keras” dalam kasus-kasus di atas? Bukankah itu berarti adanya inkonsistensi antara pola umum hidupnya yang serba-akomodatif dan kekerasan kepala dalam beberapa hal?

Jawabannya terletak pada kemampuan Kiai Ali untuk menentukan pilihan antara hal-hal yang esensial agama dan hal-hal yang dianggapnya bukan persoalan utama. Kemampuan untuk melakukan penyesuaian dengan tuntutan zaman tanpa kehilangan identitas semula yang bersumber pada nilai-nilai keagamaan yang paling dalam.

Ini terbukti dari keseluruhan pola kehidupan kiai yang baik ini. Sebagai kiai yang mendalam pengetahuan agamanya, sebenarnya ia cukup mengikuti sistem pendidikan tradisional yang sudah berjalan begitu lama untuk memperoleh tempat terhormat dalam barisan ulama “tangguh”. Itu tidak dilakukannya.

Sebaliknya, ia membuka sekolah agama yang “aneh”: di samping kitab-kitab kuno agama, para santrinya dirangsang untuk membaca literatur baru dari Timur Tengah. Di samping mempelajari gramatika Arab kuno, para santri itu dirangsang untuk mempelajari literatur bahasa kontemporer.

Di samping mendalami hukum agama dari buku-buku fikih kuno, mereka didorong untuk mendalami juga literature studi perbandingan dengan hukum-hukum lain yang dianut di Barat dan Timur. “Mengapa Kiai menyuruh mereka membaca buku-bukunya Abduh (Muhammad Abduh, Reformis Islam Mesir, red.),” apakah tidak khawatir para santri “lepas” dari NU?”

Kiai Ali menjawab dengan tertawanya yang khas: “Kalau membaca buku yang macam-macam nanti akan menjadi NU yang matang”.

“Mengapa Kiai begitu gandrung mengajar di IAIN, mengapa justru tidak membuka sendiri pengajian agama lanjutan khusus  untuk kitab-kitab Mazhab Syafi’i?”

Sambil tertawa lagi, Kiai Ali menjawab: “Di IAIN mereka akan memperolah tambahan pengetahuan di samping kitab-kitab mazhab tersebut”.

Di sini kita bertemu dengnan pribadi yang mencari pemecahan pragmatis bagi masalah-masalah keagamaan yang rumit. Pragmatism yang dihasilkan lalu memiliki perpaduan antara sikap rasionalistis dan keyakinan yang teguh akan kebenaran ajaran agama.

Apa yang harus dipelihara sekuat tenaga dari warisan masa lampau dan apa yang harus diambil dari kehidupan kontemporer bagi kepentingan penyesuaian dengan kebutuhan.

Dalam kerangka seperti inilah dapat dipahami “penafsiran” Kiai Ali ini atas sebuah pendapat Imam Ghazali dalam karya utamanya, Ihya’ Ulumuddin. Imam Ghazali berpendapat, para remaja yang sedang menuntut ilmu harus tirakat, antara lain dengan jalan memakan hanya daun-daunan dan sedikit buah-buahan; dan menjauhi “makanan keras” (solid food), seperti nasi jagung dan sebagainya, apalagi daging, ikan, dan ayam. Hanya mencernakan makanan “serba prihatin” seperti itu sangat baik dan bermanfaat untuk mencapai kedalaman ilmu agama. Pendapat seperti ini sudah tentu berlawanan dengan sebutan gizi para remaja yang sedang membutuhkan semua jenis makanan yang akan mengembangkan bentuk fisik tubuh mereka. ketika ditanya pendapatnya tentang seruan Imam Ghazali untuk melakukan tirakat ngrowot seperti di atas, jawab Kiai Ali adalah: “baik, tetapi belum tentu bermanfaat”.

Kemampuan memberikan klasifikasi berdasarkan kategorisasi yang komplek adalah kunci dari kemampuan adaptasi yang dilakukan Kiai Ali Krapyak ini. Mengakui kebaikan pendapat yang dirumuskan di masa lalu, sambil mencari manfaat yang baru, adalah salah satu bentuk adaptasi ini.

Tanpa tercerabut dari akar masa lalunya, adaptasi Kiai Ali cukup dinamis, bukan? (AQ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *