Kejujuran dalam Semangkok Soto Pak Marzuki

by Februari 23, 2018
durasi baca: 4 menit


Oleh: Muhammad Izzat Firdausi
*Santri asrama Taman Santri, aktif di Kodama dan Kopontren Al Munawwir
*kontestan Lomba Parade Menulis memperingati Haul Al Maghfurlah K.H.M. Moenawwir bin Abdul Rosyad ke 49

Saya tidak tahu dengan pasti berapa pelanggan yang sudah dikecewakan oleh Soto Pak Marzuki yang berlokasi di Jalan Parangtritis dekat Perumahan Perwita. Saya kira Soto Pak Marzuki mempunyai pelanggan yang loyal tak terkecuali dari kalangan santri. Saya bisa berkata seperti itu karena dimanapun saya mengobrol dengan teman dari kalangan santri, ketika obrolan itu menyinggung kuliner—khususnya soto, Soto Pak Marzuki hampir menjadi bagian yang asik untuk terus dibahas.

Kasus Soto Pak Marzuki adalah salah satu dari jutaan ketidakjujuran yang tersebar di sekitar kita. Andai Pak marzuki, si pemilik warung, mencantumkan rahasia dapur dalam plang usahanya, maka tidak akan ada pelanggan yang kecewa lantaran tertipu. Tetapi jika Pak Marzuki membeberkan rahasia dapur kenapa semangkuk soto dengan irisan daging sapi yang melimpah bisa dijual dengan harga murah, apa yang akan terjadi? Apakah omset warungnya malah semakin besar ataukah malah turun drastis? Satu hal yang pasti adalah; terciptanya sebuah produk berasal dari adanya pasar. Hukum penawaran dan permintaan berlaku, begitupula hukum jujur-mujur dan jujur-ajur.

Peran Media

Akhir-akhir ini, media kerap menyorot berita yang berpotensi mendulang rating, viewers, like, share, dan subscribe alih-alih mewartakan berita yang bermanfaat. Salah satu caranya ialah membuat berita yang heboh dan click-bait. Ibu Sri Mulyani, Menteri Keuangan Indonesia yang baru saja menerima penghargaan sebagai menteri terbaik dunia, dalam kuliah umum PKN STAN pernah mengatakan bahwa citra Dirjen Pajak lekat dengan profil Gayus Tambunan.

Padahal aparatur Dirjen Pajak berjumlah ribuan dan aparatur yang jujur berjumlah sangat banyak, tapi mereka tidak pernah diberitakan media. Kasus Gayus dan Soto Pak Marzuki hanyalah setitik nila dalam sebelanga susu.

Suatu hari ada seorang teman yang bertanya, “Kenapa sih banyak yang menyarankan menjadi pengusaha dibanding menjadi karyawan? Kenapa seminar menjadi pengusaha sukses lebih banyak dibanding seminar menjadi karyawan sukses?”

Saya juga mempunyai angan menjadi pengusaha sukses. Tapi bukan Saya saja. Menjadi pengusaha sukses dan hidup dengan kebebasan finansial adalah mimpi sebagian besar orang. Banyak hal yang bisa kita lakukan dengan benda yang bernama uang. Kadang komitmen pun bisa kita beli dengan uang.

Setiap pengusaha pasti ada mempunyai rahasia, entah rahasia itu berbentuk kerja keras atau kerja culas seperti kasus Soto Pak Marzuki. Salah satu ketidakjujuran yang lekat dengan perusahaan adalah manipulasi pajak, ada juga teknik perencanaan pajak yang dikenal dengan tax planning.

Fenomena lain terkait ketidakjujuran adalah pelaporan harta oleh wajib pajak yang menjadi dasar program tax amnesty. Ada juga kasus manipulasi laporan keuangan perusahaan publik yang merugikan sebagian masyarakat.

baca juga : Mbah Ali, Pohon Kristen dan Anomali Logika Beragama”

Contoh kasus ketidakjujuran atau kecurangan lain adalah korupsi, investasi bodong, kecurangan pemilu, mencontek, mengkir dari tanggungjawab dan lain sebagainya. Secara teknis, dia bisa berubah-ubah. Santri pun tidak lepas dari sifat ini.

Kasus seperti beli lima gorengan bayar tiga, ngemplang uang syahriah, ngebon kantin/teman tapi tidak dibayar, membeli makanan di kantin kejujuran tidak membawa uang tetapi malah mengambil uang kembalian, membolos ngaji, mencuri mangga warga, ghosob sandal, adalah beberapa contohnya. Sejujurnya sampai saat ini pun Saya juga menjadi bagian dari kejahatan-kejahatan itu.

Kejujuran dalam Semangkok Soto Pak Marzuki meng-gosob uang rakyat jelas lebih besar. Sampai disini kita bisa menyadari bahwa kecurangan berada sangat dekat dengan kehidupan kita. Bahkan kadang kita tidak sadar telah menjadi bagian dari kecurangan itu.

Peran Santri di Masa Depan

Dalam dunia pesantren, kajian muamalah adalah porsi yang paling besar. Sejak bangun tidur hingga tidur kembali, muamalah diajarkan kepada santri baik secara teori maupun praktik oleh para kiai. Prof. Imam Suprayogo, Guru Besar UIN Malang, dalam pidatonya di acara wisuda hafidh ke 29 Pondok Madrasatul Qur’an Tebuireng, Jombang, mengatakan betapa kaderisasi budi pekerti yang paling baik ialah pesantren.

Budi pekerti yang dipraktekkan sepanjang hari diharapkan dapat membentuk bangunan bawah sadar atau karakter seorang santri. Sehingga nantinya karakter santri akan menjadi semakin kuat dan semakin baik bahkan setelah purna masa studinya di pesantren. Karakter yang baik menunjukkan kalau santri tersebut mempunyai integritas atau jaminan mutu. Integritas bisa diibaratkan mata uang yang berlaku dimana saja dan tak mengenal zaman. Orang yang mempunyai integritas pasti dapat menemukan satu tempat di mana pun itu, entah sebagai pengusaha, pejabat, aparatur negara dan lain sebagainya. KH Hilmy Muhammad, dalam khutbah jumatnya berpesan :
Kata kunci untuk menjadi seorang yang berintegritas ada tiga kata; kejujuran, komitmen, dan konsisten. Ketiga sifat itu menghasilkan sikap profesional, semangat juang, dan loyalitas baik saat memimpin atau dipimpin. Dan berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, orang yang memiliki integritas akan diiringi oleh prestasi dan reputasi.
Sikap-sikap tersebut sebetulnya telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Integritas beliau tidak hanya berlaku sejak beliau dilantik menjadi Rasulullah saw, akan tetapi jauh sebelum beliau dilantik. Bahkan karena sikapnya itu beliau mendapat julukan Al-Amin atau yang terpercaya oleh masyarakat.

baca juga : Perintah Hidup Berhias Akhlaqul Karimah”

Dalam kuliah umum PKN STAN tersebut, Ibu Sri Mulyani berpesan, “Bagaimana Anda menginginkan bangsa ini menjadi bermartabat kalau kelakuan kita saja masih seperti itu? Kita menginginkan agar bangsa ini disegani bangsa lain tapi ternyata kita sendiri yang mencibir diri kita”.

Kalau boleh Saya tambahi, mungkin sebagian dari kita (termasuk Saya) adalah fenomena gajah di depan mata yang tak tampak karena terlampau dekat, tetapi bisa melihat kuman yang berada di seberang lautan. Kita dengan jumawa menuding orang lain berbuat curang sementara kecurangan sendiri tak dikoreksi. Kalau memang seperti itu kenyatannya, mungkin kita harus belajar dari kasus semangkuk Soto Pak Marzuki.

sumber :
1 https://www.merdeka.com/peristiwa/soto-marzuki-dioplos-daging-babi-berkali-kali-tapi-tak-juga-ditutup.html diakses 16 Februari 2018
2 http://www.almunawwir.com/kunci-menjadi-muslim-yang-berintegritas/ diakses pada tanggal 15 Februari 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *