Katib ‘Am PBNU: Barokah dan Atsar KHR. M Najib Abdul Qodir, sebagai Pijakan Menghidupi Wadhifah-Wadhifah dan Menghidupkan Ilmu

by Januari 30, 2021
durasi baca: 3 menit

Almunawwir.com – Pagi itu, Selasa (5/1) suasana Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak masih meyisakan kesedihan yang sangat mendalam setelah kabar duka itu datang menyelimuti bumi Krapyak pada Senin (4/1) pukul 16.45 menjelang maghrib. KHR M Najib Abdul Qodir, pengasuh Pondok Al Munawwir Krapyak itu wafat di usia 66 tahun.

Riuh suara tangis bersahutan di penjuru komplek pesantren setelah berhamburan kabar di grup WhatsApps. Kabar duka itu dikuatkan dengan unggahan storyWA dari keluarga (ahlein). “Innalillahi Wa Innailaihi Raji’un Mbah KH. Najib Abdul Qodir Munawwir kapundut nembe mawon, ya Alloh…” unggahan Bu Nunung, sapaan akrab Ny. Hj. Nurkhasanah Abdullah, istri KH. Dr. Hilmy Muhammad.

Malam itu lantunan kalimat La ilaha illallah, semakin santer terdengar setelah jenazah almarhum di bawa dari kediamannya menuju Komplek G, aula pesantren yang tepat berada di depan rumah Kiai Najib, sebelah barat Masjid Jami’ Al Munawwir. Puluhan santri berjejer rapi dari kediaman menuju aula untuk membawa jenazah. Tanpa jeda waktu, meraka langsung mensolati jenazah Kiai Najib.

Lantunan bacaan Al-Qur’an  oleh santri-santri terdengar semakin khidmat dan khusyu’, terlebih dari santri Huffad asuhan Kiai Najib yang sangat kehilangan guru tercintanya.

Selasa (5/1) pagi, untaian karangan bunga telah berjejer rapi sepanjang Jalan KH. Ali Maksum, halaman depan komplek pesantren. Karangan bunga datang dari berbagai kalangan, mulai tokoh-tokoh negara seperti Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin ataupun lembaga yang memiliki hubungan dekat dengan pesantren.

Para pentakziyah datang silih berganti untuk menshalati jenazah kiai kharismatik yang juga merupakan cucu KH. Muhammad Munawwir, pendiri Pesantren Krapyak tersebut.

Sebelum pemberangkatan, jenazah dipindah menuju masjid untuk menjangkau beberapa kloter jama’ah yang hendak menshalati.

Acara prosesi pemberangkatan jenazah diawali pembacaan kalam suci oleh santri komplek Ribatul Qur’an, Ahmad Alvin. Lantunan ayat 153-156 Al Baqarah yang dibawakannya menambah suasana khidmat prosesi pemberangkatan.

Baca Juga: Wasiat Kiai Munawwir kepada Kiai Arwani Kudus

Sambutan keluarga disampaikan oleh Dr. KH. Hilmy Muhammad. Dalam penyampaiannya beliau memohonkan ziyadah do’a kepada seluruh jamaah, agar diberi ketabahan dan dapat melanjutkan cita-cita almarhum. Di akhir sambutannya beliau juga menyampaikan bahwa estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Al Munawwir diasuh oleh KHR. Abdul Hamid Abdul Qodir adik KHR. M Najib Abdul Qodir. “ugi kito caos pangertosan dumateng sedoyo muazin muaziyyat, bilih kepemimpinan Pondok pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta badhe diayahi dening Dewan Pengasuh…, lan wonten kesempatan puniko kepemimpinan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak badhe dipun pimpin dening KHR. Abdul Hamid Abdul Qodir” terang Kiai yang juga keponakan almarhum diikuti isak tangis lirih beliau disambut suara pelan jamaah mengucap “Allahuakbar”

Memasuki acara selanjutnya yaitu sambutan atas nama Pengurus Besar Nahdlatu Ulama’ (PBNU) dalam hal ini wakili oleh KH. Yahya Cholil Staquf, Katib ‘Am PBNU. Kiai yang mengenakan baju hitam dan sarung batik itu membuka sambutannya dengan menyampaikan salam ta’dhim PBNU kepada Dzuriyyah KH. M. Munawwir juga salam dari Menteri Agama, dari KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dan seluruh Dzuriyyah KH. Bisri Mustofa, Rembang yang belum bisa sowan (mengunjungi) Krapyak. Dalam sambutannya kiai yang juga merupakan keponakan Gus Mus ini menyampaikan bahwa atsar yang ditinggalkan KHR. M Najib Abdul Qodir akan menjadi pijakan untuk menghidupkan ilmu-ilmu yang ditinggalkan.

“beban kita lebih berat dengan kepergian beliau. Tapi jelas, kita yakin bahwa barokah dan atsar yang beliau (KHR. M Najib Abdul Qodir) tinggalkan insyaallah cukup menjadi pijakan yang kokoh bagi kita semua untuk menghidupi wadhifah-wadhifah beliau, menghidupkan ilmu beliau untuk terus menyebarkan barokah yang beliau tinggalkan kepada kita semua” harap beliau.

Di akhir sambutannya kiai yang tak lain kakak Menteri Agama KH. Yaqut Cholil Choumas ini mengajak kepada muazin muaziyyat untuk berdoa agar barokah yang ditanam dan ditumbuhkan senantiasa berkembang dan menaungi perjuangan yang sama seperti yang KHR. M Najib tempuh selama hidupnya.

Selanjutnya acara terakhir yaitu do’a yang disampaiakan oleh KHR. Abdul Hamid Abdul Qodir dan dilanjutkan pemberangkatan jenazah menuju Makam Keluarga Besar KH. M Munawwir, Dongkelan oleh keluarga Pondok Pesantren Krapyak diiringi gemuruh lantunan kalimat toyyibah yang bersahut-sahutan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *