Hidup Bersama Al-Qur’an

by September 28, 2020
durasi baca: 3 menit

Mengaji al-Qur’an. Foto : Almunawwir

“Jangan beritahu manusia berapa banyak ayat Al-qur’an yang kamu baca dan hafal, biarkan mereka melihat (akhlak) Al-Qur’an padamu. Bukanlah yang dikira sebanyak mana kamu membaca Al-qur’an, tetapi yang diambil adalah sejauh mana Al-qur’an sampai padamu.” Kutipan perkataan Syeikh Dr. Ahmad Isa Al-Ma’sharawi sebagai Ulama Qur’an Internasional dari Mesir.

Salah satu hal terpenting yang harus diperhatikan bagi para penghafal Al-Qur’an adalah bagaimana agar ayat-ayat itu sampai pada diri kita. Bukan sekedar berapa banyak ayat-ayat yang kita hafal dan kita baca, namun penghayatan, pengamalan dari ayat-ayat tersebutlah yang harusnya sampai pada diri kita. Mulai dari bagaimana kita bersikap kepada diri kita sendiri, terhadap orang tua kita, terhadap teman atau bahkan terhadap orang lain yang tidak kita kenal, kemudian bagaimana kita harus menjaga agar hafalan itu tidak hilang, bertutur kata dengan lemah lembut dan sesuai anjaran Al-Qur’an. Semua menjadi bagian kesatuan dari pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an itu sendiri. Kalam Tuhan yang sangat luar biasa ini yang merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW memang harus selalu kita jaga kesuciannya.

Menurut Doktor lulusan Tafsir Univesitas Al-Azhar Kairo, peraih predikat Mumtaaz ma’a martabah al-syarf al-ula-tsumma Cumlaude, Prof. M. Quraish Shihab, pendiri Pusat Studi Al-Qur’an mengatakan: “Saya sadar bahwa keindahan Al-Qur’an melampaui puisi, tapi mendekatinya harus memiliki rasa puisi. Al-Qur’an bukan produk seni, tapi sangat bermuatan seni, sehingga menyentuh aspek seninya, manusia harus mempunyai rasa seni untuk sadar Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan kebudayaan, tapi bagian dari ekspresi budaya tertentu. Oleh sebab itu manusia harus memiliki rasa budaya untuk memiliki kesadaran aspek kebudayaan Al-Qur’an. Al-Qur’an mempunyai banyak aspek rasa seperti kemanusiaan, keadilan, kebebasan, dan sebagainya, tapi manusia harus belajar semuanya itu dari studi ilmu sosial, sejarah, dan kebudayaan melalui berbagai macam ragam kompleksitas metodologinya.” (Mengutip ‘Al-Qur’an dalam fenomenologi Keseharian Kita’, 16 Agustus 2019, indoprogres.com).

Hal ini menegaskan kembali bahwa eksistensi Al-Qur’an memang sangat luar biasa. Dengan hebatnya Al-Qur’an, siapapun yang tersentuhnya maka dirinya muncul. Artinya, AL-Qur’an itu juga seperti cermin dirinya sendiri. Sadar akan keagungan, keindahan Al-Qur’an membuat kita semakin jatuh cinta terhadap ayat-ayat yang kita baca dan kita hafal, dengan belajar dan merealisasikan ayat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Pengamalan nilai-nilai dari Al-Qur’an agar sampai kepada diri kita bisa dilakukan dengan cara mempelajari makna atau arti dari ayat-ayat tersebut, bisa juga dengan cara mulai menumbuhkan mencintai ayat-ayat Al-Qur’an itu, serta memperbanyak membaca dengan penuh penghayatan. Namun, cinta adalah kunci, sebab jika sudah cinta apapun akan terasa istimewa. Dari cinta inilah yang akan menumbuhkan dengan sendirinya sikap dari pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an tersebut.

Baca Juga: Berjalan Bersama Al-Qur’an

Zaman sekarang, sangat banyak orang yang menghafal Al-Qur’an namun kecintaannya terhadap Al-Qur’an begitu kurang, ayat-ayat itu tidak sampai ke hati mereka, sangat disayangkan. Anggapan mereka menyelesaikan hafalan 30 juz adalah akhir dari prestasi mereka. Bukan itu sebenarnya, semasa hidup mereka harus terus berjuang terhadap ayat-ayat yang mereka hafal, lebih dari itu, prestasi akhir mereka adalah esok ketika mereka telah mempertanggungjawabkan bacaan serta hafalan mereka di hadapan Allah. Mereka adalah orang-orang yang insyaallah akan berkumpul dengan kekasih Allah.  Yang sering terlupa, bahwa kita sebagai umat Nabi Muhammad yang diberikan pedoman, petunjuk berupa Al-Qur’an, kerap kali kurang memperhatikan sejauh mana cinta kita terhadap Al-Qur’an. Ayat-ayat itu memang hanya sampai mulut kita, belum sampai ke hati kita.

Jadikanlah Al-Qur’an sebagai teman kita seumur hidup, teman kita ketika sedang susah, teman kita ketika sedang gembira, teman kita untuk berdamai dengan segala masalah, teman kita untuk memperoleh kehangatan dan cinta Tuhan, serta mari jadikan Al-Qur’an sebagai penuntun kita dari proses menghadap sang Pencipta. Hal itu terlihat ketika seorang benar-benar mencintai Al-Qur’an maka akhlaknya akan seperti Al-Qur’an dari cintanya yang tulus terhadap ayat-ayat yang ia baca dan ia hafal.

Tak hanya itu, seperti dawuh simbah Nyai Hj Walidah Munawwir “Sepiro gedene olehmu ngopeni Al-Qur’an, semono ugo uripmu bakal diopeni Pangeran (Seberapa besar engkau merawat Al-Qur’an, maka sebegitu besar pula hidupmu akan dirawat Tuhan.) Memang benar adanya, pembuktian cinta kit terhadap ayat-ayat Al-Qur’an membuat hidup kita benar-benar dipandang oleh Allah dengan pandanga yang khusus. Pun pula, cinta terhadap ayat-ayat inilah menjadi tolak ukur bahwa kita sangat mencintai Tuhan dan Nabinya.

Untuk itu, dengan penghayatan ini, insyaallah bila ditanamkan dalam hati, direnungkan, dan selalu diresapi maknanya akan tumbuhlah dasar-dasar serta pokok dari pondasi cinta kita terhadap Al-Qur’an. Barometer cinta kita terhadap Al-Qur’anlah yang akan menunjukkan seberapa besar akhlak Al-Qur’an itu akan sampai dan melekat pada diri kita. Mari terus tumbuhkan cinta kita terhadap kalamullah ini, agar hidup kita terus-menerus bersama Al-Qur-an hingga akhir hayat. Allahumma aamiin. (*)

*Nurtata, Santri Komplek Nurussalam Putri, Juara 2 Lomba Esai Muharroman

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *