Haul Virtual Komplek L: Ilmu, Akhlak dan Dakwah Sebagai Falsafah Hidup Santri

by Januari 30, 2021
durasi baca: 5 menit

Almunawwir.com – Tidak seperti biasanya, haul yang biasa ramai oleh lalu-lalang manusia kini tiba-tiba menjadi dibatasi sebab kedatangan pandemi. Namun nyatanya, meskipun dilaksanakan melalui virtual, acara ini tidak sedikit pun menyurutkan ghiroh santri dan tetap berjalan semarak dan sukses.

Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek L menggelar rangkaian Haul secara virtual pada Kamis sampai Sabtu, 21-23 Januari 2021. Dimulai agenda Jam’iyyah Ushbuiyyah dengan pembacaan Simthudduror, Majelis Sima’an Alquran, Roan Akbar, Ziarah Maqbarah, dan diakhiri acara puncak pada hari Sabtu malam Minggu, 23 Januari 2021. Acara puncak ini berlangsung ba’da Maghrib dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Rangkaian acara puncak haul dibuka dengan Tahlilan yang dipimpin oleh KH. Muslim Nawawi, pengasuh PP. An-Nur Ngrukem, Yogyakarta. Kemudian dilanjutkan Doa Khatmil Qur’an sekaligus Mau’idzhoh Hasanah oleh Habib Sayyidi Baraqbah.

Dalam ceramahnya, beliau memberikan banyak pesan. Terutama pentingnya menjaga dan mengingat perjuangan para pendahulu.

“Namanya cucu masih mengingat apa yang dilaksanakan pendahulunya maka itu salah satu tanda kebaikan”. Beliau membuka ceramahnya.

Beliau menceritakan sebuah kisah di Tarim, Hadhramaut bahwa ada majelis manaqib yang rutin membaca Sirroturrijal atau membaca tentang sejarah orang tua. Sebab hal ini agar anak mereka termotivasi dengan perjuangan orang tuanya. Jika Dzuriyyat tidak ingat sejarah leluhur mereka, maka mereka akan kebingungan serta perjuangan leluhur akan hilang dengan sendirinya.

“Ulama-ulama yang saya kenal banyak menceritakan tentang bagaimana orang tua, kakek, leluhur mereka menghafal Al-Qur’an, mengkhatamkan Minhajul Tholibin, membahas kitab Fathul Wahhab, Kitab ini dan itu.” Lanjut beliau dalam kisahnya.

Beliau juga menjelaskan maksud dari istilah “karamah”. Kerap kali orang-orang mengatakan ulama ini memiliki keramat-keramat khusus. Dalam pandangan Habib Baraqbah, beliau menegaskan bahwa yang dimaksud karamah di sini adalah kemuliaan yang Allah berikan kepada para hamba-Nya.

Dikisahkan ada seorang Guide (pemandu jalan) dari kalangan Badui, ketika itu ia sedang mendengarkan para habaib dan para alim ulama yang sedang bercerita dan membacakan biografi dan manaqib. Tiba-tiba Guide (orang Badui) itu nyeletuk dan memotong pembicaran para Ulama.

Badui memang terkenal sebagai orang yang bebas dan kurang beradab. Mereka adalah masyarakat pedalaman Arab. Di masa Nabi pun suku Badui memang sudah banyak ulah, pernah suatu ketika Kanjeng Nabi Muhammad sedang khutbah, tiba-tiba ia malah meminta kepada Nabi agar segera selesai dan jangan lama-lama langsung doa saja.

Jika saja ia adalah Sahabat mungkin sudah dihukum oleh Sahabat lainnya. Beruntung ia seorang Badui maka hal itu tidak dilakukan. Sambung Habib dalam kisahnya.

Begitu pula dalam kelanjutan kisah Badui yang bekerja sebagai petunjuk jalan tadi. Tiba-tiba ia memotong pembicaraan dan bertanya kepada para Ulama dan Habaib “Apa yang kalian baca?”.

Habaib dan Ulama menjawab: “Mereka adalah pendahulu-pendahulu kami”.

Badui itu menjawab: “خير الاباء هم وبئس الأولاد انتم” (Sebaik-baik ayah adalah mereka, seburuk-buruk anak adalah kalian(. Sontak jawaban Badui ini membuat para Habaib dan Ulama kaget dengan pernyataan tersebut.

Badui menjelaskan sebab perilaku kalian (anak) dan bapak kalian di cerita berbeda-beda. Habaib dan ulama ada yang marah dan bertanya “Kalau dengan engkau bagaimana, hai penunjuk jalan?”.

Badui menjawab, Bapak dan leluhur saya penunjuk jalan, wajar saya begini. Sedangkan kalian tidak seperti yang dibaca dalam manaqib dan biografi tersebut”.

Ulama dan Habaib menjawab “Betul yang diucapkan engkau, demi Alllah kita belum sampai setengahnya dari mereka”. Mereka pun terdiam dan menunduk.

Habib Sayyidi Baraqbah menjelaskan dalam ceramahnya “Bagaimana manfaat Simbah KH Munawir di Indonesia? Berapa banyak orang yang mengambil ilmu dari beliau dan berapa banyak ilmu yang sudah disebarkan? Salah satu contohnya ialah Komplek L, sudah berapa ribu santri dan berapa ratus ribu orang yang memiliki hubungan ke pondok pesantren Al-Munawwir”.

“Maka ini jadi salah satu motivasi bagi kita, manjada wa jada, barang siapa bersungguh sungguh maka dia akan berhasil. Hasilnya di dunia tidak terlalu penting tapi walal akhiratu khoirullaka minal ula (QS. Al-Dhuha: 4). Kenikmatan di alam akhirat itu lebih utama daripada yang ada di atas muka bumi”.

Beliau mengingatkan bahwa keberhasilan di dunia bukan barometer keberhasilan yang hakiki. Harta dan tahta itu bukan barometer. Seperti dikatakan oleh para alim ulama:

ان الله يأتي الدنيا لمن يحب وممن لا يحب

“Sesungguhnya Allah memberikan kenikmatan dunia kepada siapapun baik kepada yang dicintai maupun tidak”

Tidak sedikit orang yang Allah tidak dicinta, namun Allah melaknat sekaligus memberikan kenikmatan dunia. Contohnya Raja Namrud, Fir’aun, dan Abu Jahal. Akan tetapi, ولا يأتي الاخرة الا لمن يحب (Akan tetapi Allah tidak memberikan kenikmatan akhirat kecuali kepada orang yang dicintai-Nya).

Dunia seisinya bahkan bila perlu galaksi Bimasakti, jika dibandingkan cinta dari pada Allah itu tidak ada apa-apanya. Sebab semahal-mahalnya perkara adalah mahabbatullah (cinta kepada Allah).

Maka gelar Kanjeng Nabi bukan Khalilullah, melainkan Habibullah yaitu kekasih tercinta atau yang paling dicintai Allah.

“Jadi barometer kesuksesan bukan di dunia akan tetapi bagaimana engkau di sisi Allah. Bagaimana cara mengetahuinya?”. Beliau bertanya.

“Jawabannya adalah bagaimana Allah di sisimu? Kalau ingin dekat Allah, Dia harus ada di sisimu. Kemudian diperhatikan bagaimana akhlakmu, adabmu, ubudiyyahmu dan muamalahmu”.

Seorang santri (sebagai seseorang yang pernah punya ikatan dengan pondok pesantren) jika kepada orang yang memberinya ilmu (Kyai dan Assatidz) tidak memiliki hormat. Jangankan kepada Rasulullah, orang yang jelas ditemui, jelas-jelas menyuapi dengan ilmu pengetahuan, amal shalih, engkau tidak berakhlak dan tidak beradab dengan mereka. Bagaimana dengan Kanjeng Nabi? Yang tidak pernah menemuinya dan mencium wanginya.

Lha wong, dengan yang mengajari tidak berharga di sisimu apalagi dengan yang Rasulullah yang tidak pernah diketahui olehmu?” Tegasnya.

“Karena Alakhlaq waladab muttashilah, adab dan akhlak itu menyambung. Kita beradab kepada guru, sama dengan beradab pada kakek-gurunya, beradab kepada guru sama dengan berakhlak pada sanad yang bersambung pada Rasulullah SAW”.

Dalam cerita lainnya, beliau menjelaskan jikalau menundukkan pandangan kepada guru berarti kita sama saja menghormati guru kita. Kalau saja tidak berakhlak, termasuk orang zaman sekarang yang hormat di depan, sedangkan di belakang penuh amarah, ketidaksukaan, dan suudzon.

Bahwa dhamir (hati) orang tersebut termasuk min ‘alamatinnifaq (tanda kemunafikan). Di depan engkau merasa hormat dan menunduk, akan tetapi di hati engkau merasa lebih baik daripada guru.

ان الله لا ينظر الى صوركم ولا اموالكم ولكن ينظر الى قلوبكم

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuhmu. Juga bukan pada hartamu. Tetapi Allah melihat kepada hatimu”.

“Oleh karenanya, kita melihat banyak orang yang dianggap ilmunya tidak terlalu besar tapi kenapa dia dicintai banyak orang? Karena mereka orang yang dicintai Allah. Allah berkehendak demikian maka kalian bisa apa? Hanya hati yang suci, penuh dengan husnuzhon, akhlak, dan keindahan Kanjeng Nabi”.

Di penghujung ceramahnya, beliau mengajak dan memberikan pesan kepada para santri. “Ayo bersama mempersatukan ilmu, akhlak, dan ketiga yang paling penting ialah dakwah. Perlu beramal untuk diri sendiri dan kemudian mengajak orang lain.

من علم بما عمل ثم عَلَّمَ اورثه الله بما لم يعلم

Barang siapa yang mengetahui lalu mengamalkan lalu mengajarkan, maka Allah akan memberikan kepada dia apa-apa yang tidak diketahui olehnya (ilmu Laduni)”.

“Ayo semua menjadi hamba yang bisa diridhoi Allah. Semoga Allah memudahkan itu semua. Allah menjadikan kita membanggakan orang tua. Muridnya yang membanggakan guru dan leluhur”. Sambung beliau.

Kemudian beliau menutup kalamnya dengan doa:

اللهم اجعلنا خيرَ الخلاف لخيرِ السَّلَاف

“Ya Allah jadikanlah kami sebaik-baik penerus daripada sebaik-baik orang yang diteruskan”

Setelah rangkaian acara ini berakhir. Para santri melanjutkan dengan menonton bersama secara virtual melalui proyektor acara haul yang diselenggarakan PP. Al Munawwir pusat hingga selesai.

 

Penulis: Ajie Prasetya

Editor: Irfan Fauzi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *