Haul ke-8: Sepeninggal Mbahyai Zainal, Kita Bisa Apa?

by November 12, 2021
durasi baca: 2 menit

Sosok KH. Zainal Abidin Munawwir dengan banyaknya jejak yang ditinggalkan tentu perlu kita teladani. Kedalaman ilmu terwujud dalam wira’inya beliau dalam setiap tindak. Para santri Mbah Zainal tentu sangat hafal bahwa menghindari hal-hal yang syubhat merupakan kebiasaan beliau. Tidak heran jika guru sekaligus kakak ipar beliau, KH. Ali Maksum sampai menganalogikan Mbahyai Zainal layaknya tiang langit.

“Zainal ki cagake langit. Ora bakal kiamat nek Zainal esih ning dunyo.” – KH. Ali Maksum

(“Zainal ini tiangnya langit. Tidak akan kiamat selama Zainal masih hidup.” – KH. Ali Maksum)

Jika dibandingkan dengan para ulama dan masyayikh terdahulu, sudah barang tentu kita jauh dari pengamalan wira’i seperti yang dicontohkan Mbahyai Zainal. Hal ini selaras dengan mau’idzah hasanah yang disampaikan KH. Yahya Cholil Tsaquf pada acara puncak Haul KH. Zainal Abidin Munawwir ke-8. Beliau dhawuh bahwa para santri zaman sekarang mempunyai tanggung jawab yang lebih besar daripada ulama terdahulu. Zaman yang semakin carut marut, memperlukan generasi yang lebih pintar untuk merawatnya.

Pada bagian ini Kyai Yahya menyemangati para santri agar tidak berkecil hati. Ketidaktahuan dan kebodohan kita harusnya dijadikan sebagai motivasi agar lebih semangat menuntut ilmu. “Tidak ada manusia yang terlahir ‘alim”, dhawuh Kyai Yahya.  Mbahyai Zainal yang sampai akhir hayatnya tidak lelah muthola’ah kitab, tadarus al-qur’an bahkan mengajar para santri merupakan contoh kegigihan merawat zaman yang harus kita teladani.

Kyai Yahya menambahkan bahwa dalam menuntut ilmu terdapat aspek-aspek ruhaniyah yang perlu diasah, bukan hanya akal yang diisi dengan ilmu-ilmu. Aspek ruhaniyah ini salah satunya dilakukan dengan ta’dzim kepada guru.  Beliau mengibaratkan guru bagaikan juru kunci gudangnya ilmu. Cara untuk meraih ilmu yang tersimpan di dalamnya adalah dengan ta’dzim kepada guru agar mendapat ridlo guru sebagai juru kuncinya ilmu juga ridlo dari Allah swt yang punya ilmu.

Pembacaan tahlil dan doa para peringatan haul ini menjadi salah satu sarana ta’dzim kita kepada Mbahyai Zainal. Semoga Allah swt ridlo atas niat baik kita untuk ta’dzim kepada Mbahyai Zainal sehingga Allah swt berkenan memberikan futuh agar kita memperoleh ilmu yang manfaat bekah fiddiini waddunya wal akhirah. Amiin

Krapyak, 6 Rabiutsani 1443 H

Latest posts by Isna Sholihatur Rohmaniyah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *