Gus Uzi; “Jangan Lupakan Peristiwa 17 Agustus 1945”

by Agustus 25, 2017
durasi baca: 2 menit

Almunawwir.com – Kamis, 17 Agustus 2017. Ada yang berbeda dengan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Di pagi hari, para santri biasanya disibukkan dengan setoran, kuliah, atau sekedar bersih-bersih. Tapi hari ini, semenjak pagi mereka sudah disibukkan dengan persiapan upacara peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-72.

Upacara dilaksanakan di halaman pusat PP Al Munawwir dengan petugas upacara dari Komplek K2 dan paduan suara dari Komplek Q. Sedangkan yang bertindak sebagai inspektur upacara adalah K.H. Fairuzi Afiq Dalhar atau yang biasa disapa Gus Uzi. Dalam kesempatan tersebut beliau mengingatkan akan pentingnya memgingat peristiwa kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. ” Peristiwa kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak boleh dilupakan, ” ujar pengasuh komplek Nurussalam ini.

Gus Uzi juga menyampaikan bahwa para pahlawan yang gugur sebagai pejuang, sebagian besar dari kalangan Santri, Ulama’, Kyai, dan Habaib. Diantaranya adalah K.H. Hasyim Asyari, K.H. Wahab Hasbullah dan K.H. Abbas. Gus Uzi juga menyebut nama Habib Muhammad Husein Muthahar yang tak lain adalah pencipta dari lagu Hymne Syukur dan Hari Merdeka. Dua lagu yang cukup fenomenal di Nusantara. Habib Husein Mutahar juga merupakan paman dari Habib Umar Muthahar dari Semarang.

Selanjutnya, beliau juga mengapresiasi perkembangan dunia Islam akhir-akhir ini. Seperti perjuangan melalui pesantren, TPA, maupun madrasah. Namun sayangnya, kebijakan Menteri Pendidikan mengenai Full Day School cukup mengancam keberlangsungan madrasah,TPA dan pesantren. ” Kami sangat keberatan mengenai kebijakan tersebut, ” tegas beliau.

Gus Uzi mengatakan beberapa kerugian dengan adanya sistem sekolah lima hari ini, diantaranya adalah aktivitas Madrasah Diniyah, TPA, maupun pesantren di sore hari terancam tutup karena siswa harus pulang hingga sore hari, para siswa di pelosok juga akan mengalami kesulitan membantu perekonomian keluarga, dan tentunya biaya sekolah akan bertambah dengan adanya full day school ini.

Di akhir pidatonya, Gus Uzi juga menyinggung mengenai beberapa kelompok yang demo kepada pemerintah, namun sayangnya bendera yang dipakai bukan bendera merah putih melainkan bendera lainnya.

“Beberapa kelompok demo kepada presiden,demo kepada DPR tetepi bendera yang digunakan bukan bemdera merah putih,” ujar beliau.

Pesantren telah mengajarkan bahwa Pancasila adalah final. Pesantren juga mengajarkan akan kebhinekaan di Indonesia dan menjunjung tinggi toleransi, karena negara ini merdeka bukan berasal dari Islam saja melainkan beberapa agama lainnya.[Hafidzoh/Q]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *