Renungan Ramadhan: Guru, Pengekang Hawa Nafsu

by April 27, 2020
durasi baca: 2 menit

 

Almunawwir.com – Allah telah melimpahkan karunia-Nya di alam raya ini untuk kita raih sebagai bekal menuju kehidupan setelah mati. Semua perkara di dunia menjadi sarana untuk menabung sebanyak-banyaknya agar kehidupan di akhirat kelak dapat tercukupi. Saking banyaknya karunia-Nya, Allah swt memastikan bahwa manusia tidak akan dapat meraih bahkan sekadar menghitung itu semua. Maka dari itu, kita selalu diwanti-wanti untuk tidak terlena dengan keindahan kehidupan di dunia.

Untuk menabung amal di dunia, manusia diberi akal dan nafsu. Hal ini menandakan bahwa Allah swt memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengurus, memilih, menimbang dan memutuskan segala amal yang hendak diperbuat dengan akal dan nafsunya tersebut. Akal digunakan sebagai penyeimbang nafsu yang memiliki kekuatan mendorong manusia untuk berbuat apa saja, baik perbuatan terpuji maupun tercela.

Dalam Qashidah Burdah karya Imam Bushiri pada bait 16, nafsu diibaratkan dengan kuda liar karena kekuatannya yang seringkali tidak dapat dikendalikan oleh diri manusia sendiri dan dibutuhkan pemandu untuk bisa mengekangnya.

مَنْ لِي بِرَدِّ جِمَاحٍ مِنْ غَوَايَتِهَا – كَمَا يُرَدُّ جِمَاحُ الخَيْلِ بِاللُّجُمِ

Siapa gerangan yang dapat mengembalikan nafsuku dari kesesatan? Sebagaimana kuda liar dikendalikan dengan tali kekang

Pada bait tersebut, sang penyair menginginkan sosok guru yang dapat membimbingnya kepada jalan agar terbebas dari kesesatan nafsunya. Guru dianggap dapat menjadi “pengekang” hawa nafsu karena guru memiliki peran yang penting dalam pengembangan diri murid. Hubungan guru dan murid bukan sekadar transfer ilmu, melainkan juga meliputi hubungan bimbingan ruhaniyah.

Baca Juga: KH Afif Muhammad: Qashidah Burdah ini Memiliki Kekuatan Spiritual dan Sastra yang Tinggi 

Dalam memilih guru kita tentu tidak boleh sembarangan karena guru akan kita jadikan sebagai panutan, pemberi nasihat dan yang akan kita bangun bersamanya hubungan ruhaniyah melalui doa. Para ulama selalu mendoakan semua murid-muridnya di setiap doa ba’da sholatnya, doa di setiap munajatnya di malam hari bahkan meskipun dirinya telah tiada. Hal ini terwujud dalam kitab-kitab karangan para ulama yang selalu mencantumkan doa bagi siapa saja yang mempelajari kitab karangannya.

Begitupun dengan sang murid, dalam kitab-kitab akhlak banyak sekali disebutkan adabnya murid adalah selain menghormati guru, ia juga perlu mendoakan gurunya. Hal ini yang membuat terbangunnya hubungan ruhaniyah antara guru dan murid. Hal ini yang membuat murid, paling tidak akan segan ketika akan berbuat yang tidak sesuai dengan perintah Allah swt.

Dalam dunia pesantren, hubungan santri dengan gurunya terjalin sangat erat. Bahkan tidak heran para santri, meskipun telah lulus dan kembali ke kampung halaman masing-masing kerap bersilaturrahmi kepada gurunya untuk meminta doa restu atas niat-niat baik yang ingin dicapainya. Murid perlu meminta nasihat, petuah dan doa restu kepada guru dan para ulama, sebagai sosok yang mengerti aturan-aturan agama dan penerus para nabi sehingga perilaku yang diperbuat murid tidak hanya sekadar menuruti hawa nafsunya tetapi juga diriloi oleh guru dan Allah swt.

Semoga Allah swt menjaga hubungan kita dengan para guru, ulama dan orang-orang shalih agar kita terhindar dari kesesatan hawa nafsu. Amiin

*Disarikan dari penjelasan Qashidah Burdah oleh KH. Hilmy Muhammad selama Ramadhan 1441 H.

Latest posts by Isna Sholihatur Rohmaniyah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *