Catatan Peristiwa Isra’ Mikraj (2): Mengenal Wujud Si “Buraq” Kendaraan Para Nabi

durasi baca: 3 menit

Gus Yunan. ilustrasi by Najilul Barokah/Q

Almunawwir.com – Buraq dapat diambil (musytaq) dari kata “al bariq” yang memiliki arti putih berkilau atau dapat pula diambil dari kata “al barqu” yang berarti kilat. Berangkat dari kedua arti tersebut, Buraq dapat dimaknai sebagai hewan tunggangan yang berwarna putih yang kecepatannya melebihi gerakan cahaya (kilat). Pemaknaan tersebut sesuai dengan hadis riwayat Imam Muslim, bahwa Rasulullah Muhammad Saw pernah bersabda:

أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ)  الحديث)

“Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu hewan (dabbah) yang berwarna putih (abyadh), bertubuh panjang (thawil), lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dan sekali ia menjejakkan kakinya yang berkuku, dia dapat bergerak sejauh mata memandang.”

Buraq sendiri merupakan hewan tunggangan para Nabi terdahulu serta dapat diikat sebagaimana hewan tunggangan lainnya. Dalam hadis riwayat Imam Muslim pula, Habibana Muhammad Saw bersabda :

فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ

“Aku telah mengikat Buraq di salah satu pintu Masjid Baitul Maqdis, tepat di mana para nabi mengikatkan hewan tunggangan mereka.”

Sebagaimana disebutkan dalam sebagian atsar, tidak ada kejelasan tentang jenis kelaminnya (meskipun Malaikat Jibril menggunakan dlomir muannats ketika berkata kepadanya). Dalam arti, si Buraq bisa berupa hewan yang jantan, betina, ataupun tidak berjenis kelamin, sebagaimana para Malaikat.

Baca Juga: Catatan Peristiwa Isra’ Mi’raj (1) Tempat-Tempat yang Dimuliakan dan Terberkati

Keistimewaan tersebut menunjukkan bahwa si Buraq merupakan hewan yang terpilih, tunggangan para Nabi, tersendiri dalam penciptaanya, serta tidak pula diciptakan melalui proses kelahiran.

Sebagaimana sifat hewan tunggangan pada umumnya, ketika pertama kali ditunggangi oleh Habibana Muhammad Saw, Buraq merasa tidak nyaman sehingga membuat Nabi Muhammad merasa kesulitan menaikinya (istish’ab).

Mengetahui hal itu, Malaikat Jibril langsung mengingatkan si Buraq dengan meletakkan tangannya pada wajah Buraq sembari berkata: “Wahai buraq, tidakkah kamu merasa malu ! Demi Allah, tidak ada makhluk yang menaikimu yang lebih mulya daripada dia (Rasulullah)”.

Mendengar ucapan Malaikat Jibril dan mengetahui sosok yang hendak menaikinya, si Buraq langsung gemetar, merasa sangat malu, sehingga membuat sekujur tubuhnya berkeringat (meskipun sebelumnya si Buraq sudah terbiasa mengantarkan para Nabi). Setelah beberapa saat dan kondisi si Buraq terlihat tenang, baru kemudian Rasulullah Saw naik ke atas punggungnya.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana dengan kita tatkala bisa bertemu dengan sang terpilih, bisa mencium tangan beliau, akankah kita gemetar dan merasa malu? Hiks.. Hiks..

Allaahumma sholli wa sallim wa baarik ‘ala sayyidina Muhammad.

Setelah mendengar penjelasan dari Malaikat Jibril, si Buraq begitu ta’dzim ketika mengetahui sosok terpilih (al Mustashfa) yang mengendarainya. Hal itu ditunjukkan dengan disejajarkannya kaki depan dan belakang si Buraq ketika Nabi hendak naik atau turun. Hal tersebut sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud bahwasanya Nabi Muhammad Saw bersabda :

أتيت بالبراق فركبت خلف جبريل عليه السلام فسار بنا, اذا ارتفع ارتفعت رجلاه, واذا هبط ارتفعت يداه … الحديث

“Jibril mendatangiku dengan seekor hewan yang tingginya di atas keledai dan di bawah baghal, lalu Jibril menaikkanku di atas hewan itu kemudian bergerak bersama kami, setiap kali naik maka kedua kakinya yang belakang sejajar dengan kedua kaki depannya, dan setiap kali turun kedua kaki depannya sejajar dengan kedua kaki belakangnya.”

Baca Juga: Ampunan yang Bermula dari Belas Kasih terhadap Anjing yang Kehausan

Pelajaran yang dapat kita petik dari si Buraq adalah sebagai berikut :

  1. Bentuknya seperti binatang tunggangan
  2. Ukurannya lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari bighal. (Bighal adalah peranakan hasil perkawinan antara kuda dengan keledai)
  3. Berwarna putih (warna yang paling mulia)
  4. Langkah kakinya, sejauh ujung pandangannya.
  5. Bisa diikat sebagaimana layaknya hewan tunggangan
  6. Larangan untuk membuat ilustrasi seperti kuda terbang sembrani, berwajah laki-laki atau perempuan, bersayap, dan seterusnya.

 

Wallaahu yuhibbul muhsinin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *