Cara Agama Islam Dikawal dengan Ukuran Minimal Menurut Gus Baha

by Januari 29, 2021
durasi baca: 3 menit

Gus Baha di peringatan 7 hari wafat KHR. M. Najib Abdul Qodir. Doc: Almunawwir.com

Almunawwir.com – Ahad, 10/01/21. PP. Al-Munawwir Krapyak menggelar peringatan tujuh hari wafatnya almaghfurlah KHR. Muhammad Najib Abdul Qadir. Berlangsung sekitar pukul 20.00- 22.00 WIB, majelis ini juga ditayangkan secara virtual untuk meminimalisir hadirin yang datang lantaran masih diterapkannya protokol pencegahan Covid-19. Pembacaan tahlil dipimpin oleh KH. Mas’ud Masduqi dari Sleman dan pembacaan Surah Yasin oleh Gus Kholaf Muhammad. Acara ini juga dihadiri oleh seorang ulama kharismatik yang terkenal sebagai pakar dalam bidang al-Qur’an dan tafsir yakni KH. Ahmad Bahaudin Nur Salim atau yang akrab disapa dengan panggilan Gus Baha’, beliau hadir sebagai pengisi mau’idhoh hasanah.

Dalam ceramahnya, Gus Baha’ menceritakan tentang kesenangan orang di luar sana (di luar pesantren) yang harus menunggu kaya dan memiliki pangkat yang tinggi terlebih dahulu sebelum meraihnya. Berbeda halnya dengan santri. Bagi seorang santri dapat setoran dengan lancar tanpa kena teguran kiai merupakan kesenangan dan kepuasan tersendiri. Karena pada dasarnya senang dengan kebaikan itu merupakan perlawanan terhadap keburukan.

Di dalam Kitab Kasyifatus Syaja dijelaskan bahwasanya cara melawan setan di antaranya adalah dengan menikmati sesuatu yang tidak haram. Dan lagi sebagai contohnya, ketika iuran pondok yang katakanlah mengharuskan untuk membayar tiga juta, namun si santri mengatakan kepada orang tuanya kalau iurannya sebesar lima juta. Hal itu dikatakan halal karena haramnya berbohong itu menjadi halal ketika orang tua sudah ridho uang tersebut untuk anaknya.

Dengan demikian agama Islam perlu dikawal dengan ukuran minimal (‘adnal haalat)  karena agama butuh nilai minimal untuk membatasi manusia. Maksudnya, agar manusia tahu di mana batasan minimal dan maksimal suatu hukum sehingga tidak terpaku kepada yang maksimal saja. Mengambil contoh dari syarat sahnya shalat, shalat merupakan ibadah yang utama sehingga selalu dilakukan di tempat yang bersih dengan pakaian yang tertutup. Namun batasan aurat sebenarnya dalam shalat bagi laki-laki adalah dari pusar hingga lutut. Maka apabila ada seorang petani hanya berpakaian seperti itu (memakai celana pendek selutut) ketika sudah masuk waktu shalat, ia tetap dapat melakukan shalat meski ia tidak berpakaian rapi dari atas hingga mata kaki.

Baca Juga: Gus Baha: Tradisi Keilmuan itu Harus Dijaga dengan Hujjah dan Pembukuan

Selanjutnya, Gus Baha’ bercerita tentang kisah pemilihan khalifah setelah wafatnya Rasulullah saw. Menurut perhitungan Gus Baha’, Rasulullah saw wafat pada hari Senin dan dikebumikan pada malam Rabu. Hal ini tidak berarti para sahabat mengabaikan hadis Nabi tentang ‘asri’ul janazah (mempercepat pemakaman jenazah), akan tetapi para sahabat ingin memutuskan pengangkatan khalifah terlebih dahulu sebelum pemakaman agar khalifah terpilih selanjutnya dapat disaksikan langsung oleh jenazah Rasulullah saw.

Sama halnya dengan wafatnya KHR. Muhammad Najib AQ, seorang maestro al-Qur’an yang sangat tawadhu’. Wafatnya Kiai Najib meninggalkan kesedihan yang mendalam tak hanya pada keluarga besar pesantren, juga di hati para sahabat, masyarakat dan ulama yang mengenal beliau. Oleh karena itu, sudah seharusnya segera ada pengganti untuk meneruskan perjuangan beliau dalam memimpin pesantren dan membina para penghafal al-Qur’an. Menurut Gus Baha’ apa yang dilakukan Gus Hilmy sudah benar yakni mengumumkan pengganti Kiai Najib sebelum jenazah beliau disemayamkan.  Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh ulama sekarang ini telah ada praktiknya sejak zaman Rasulullah saw.

Gus Baha’ berpesan bahwasanya bentuk menjaga al-Qur’an itu tidak hanya dengan menghafalnya, melainkan juga dengan berkhidmah, dan yang terpenting bagi santri adalah memiliki mental untuk membina masyarakat. Jika seorang santri yang berilmu hanya berdiam diri saja, maka resikonya masyarakat kelak akan dipimpin oleh kelompok yang bukan dari golongan Ahlussunnah wal Jamaah. Maka dari itu sudah seharusnya bagi kita seorang santri untuk mempersiapkan diri mulai dari sekarang agar kelak dapat meneruskan perjuangan para ulama dalam membina umat serta mengamalkan ilmu yang telah didapat. Wallahu a’lam bis shawab.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *