Berharganya Nilai Sehelai “Uban” dan Adab kepada Orang yang Lebih Tua

durasi baca: 2 menit

ilustrasi by Najilul Barokah/Q

Cerita ini diawali dari sabda Rasulullah tentang malunya Allah swt untuk menyiksa hambanya karena “uban” sang hamba. Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah saw bersabda :

إن الله ينظر إلى وجه الشيخ صباحا ومساء ويقول يا عبدي قد كبر سنك ورق جلدك ودق عظمك واقترب أجلك وحان قدومك إليّ فاستحي مني فأنا استحي من شيبتك أن اعذبك في النار

“Sesungguhnya Allah memandang wajah orang yang tua renta di pagi dan sore seraya berfirman : “Wahai hamba-Ku, usiamu telah tua, kulitmu telah keriput, tulangmu telah keropos, ajalmu telah dekat, dan tibalah waktu kedatanganmu kepada-Ku, maka malulah engkau kepada-Ku karena Akupun malu pada ubanmu untuk menyiksamu di neraka”.

Diceritakan bahwa suatu ketika Sayyidina Ali radhiyallahu anhu sedang bergegas pergi untuk berjamaah sholat Shubuh. Ketika berada di tengah jalan, beliau bertemu dengan orang tua renta yang sedang berjalan secara perlahan-lahan. Seketika itu, Sayyidina Ali radhiyallahu anhu tidak mendahuluinya, karena beliau begitu memuliakan dan menghormati uban (orang tua tersebut) hingga mendekati waktu terbitnya matahari (padahal beliau sedang bergegas untuk jama’ah sholat Shubuh).

Ketika orang tua renta tersebut berada di dekat pintu masjid, dia tidak masuk ke masjid. Baru kemudian Sayyidina Ali radhiyallahu anhu tahu bahwa dia adalah seorang nasrani. Sesaat kemudian Sayyidina Ali RA memasuki masjid dan mendapati Rasulullah SAW sedang dalam posisi rukuk. (Di sisi lain) Nabi terus memanjangkan rukuk sampai seukuran dua kali rukuk hingga Sayyidina Ali radhiyallahu anhu bisa menyusul rukuk Beliau Baginda Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Kisah Sayyidina Ali Meladeni Pertanyaan Kaum Khawarij

Seusai sholat, Sayyidina Ali bertanya kepada Rasulullah : “Wahai Rasulullah, mengapa Engkau memanjangkan rukuk dalam sholat ini? (padahal) Engkau belum pernah melakukan seperti ini”. Rasulullah saw menjawab “Ketika aku rukuk dan mengucapkan lafadh “subhaana robbii al ‘adzhim seperti biasanya, terus kemudian aku hendak mengangkat kepalaku (i’tidal), tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril as. dan meletakkan sayapnya di atas punggungku. Dia menahan rukukku agak lama. Ketika dia mengangkat sayapnya, barulah aku bisa mengangkat kepalaku (untuk melaksanakan I’tidal)”.

Lantas para sahabat bertanya “Mengapa dia (Jibril) melakukan hal itu?”, Nabi Muhammad saw menjawab “Aku belum menanyakan kepadanya (Jibril) tentang hal tersebut”. Sesaat kemudian Jibril as mendatangi baginda Nabi Muhammad saw dan berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali bergegas untuk melaksanakan jamaah (shubuh), ketika di perjalanan dia bertemu dengan orang tua renta nasrani, sedangkan Ali ra. belum tahu kalau dia (orang tua renta) adalah seorang nasrani. Ali ra. begitu menghormatinya, sebab uban (yang melekat padanya), sehingga dia tidak mendahuluinya serta menjaga haknya.

Lantas Allah swt menyuruhku untuk menahanmu dalam keadaan rukuk hingga Ali bisa menyusul (jamaah) sholat Subuh. Yang mengagumkan (kemudian) bahwasannya Allah swt juga menyuruh Malaikat Mikail as untuk menahan matahari dengan sayapnya hingga matahari tidak segera terbit, (dengan jeda waktu) agak lama karena (tindakan) Ali ra. Tindakan ini (diambil) karena hormatnya Ali ra. kepada orang tua renta, meskipun dia adalah seorang nasrani.”

 

___

Editor: Afqo

Ust. Muhammad Yunan Roniardian, M.Sc
follow
Latest posts by Ust. Muhammad Yunan Roniardian, M.Sc (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *