Ampunan yang Bermula dari Belas Kasih terhadap Anjing yang Kehausan

durasi baca: 3 menit

Gus Yunan. ilustrasi by Najilul Barokah/Q

Almunawwir.com – Kisah ini menceritakan dua sosok hamba Allah, yakni seorang laki-laki dan perempuan. “hanya” karena kesediaan memberi minum kepada anjing yang sedang kehausan, maka keduanya diampuni oleh Allah SWT atas dosanya, meskipun berupa dosa besar.

Mengapa demikian? “Belas kasih” kepada anjing yang menjadi penyebabnya. Kisah ini ditunjukkan oleh dua hadis berikut:

Hadis pertama :

عَنْ أبي هريرة أنَّ رَسُول اللَّه قَالَ: بَيْنمَا رَجُلٌ يَمْشِي بطَريقٍ اشْتَدَّ علَيْهِ الْعَطشُ، فَوجد بِئراً فَنزَلَ فِيهَا فَشَربَ، ثُمَّ خَرَجَ فإِذا كلْبٌ يلهثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بلَغَ هَذَا الْكَلْبُ مِنَ العطشِ مِثْلَ الَّذِي كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنِّي، فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَملأَ خُفَّه مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَه بِفيهِ، حتَّى رقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَه فَغَفَرَ لَه. قَالُوا: يَا رسولَ اللَّه إِنَّ لَنَا في الْبَهَائِم أَجْراً؟ فَقَالَ: “في كُلِّ كَبِدٍ رَطْبةٍ أَجْرٌ ) متفقٌ عليه(

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Ketika itu ada seorang laki-laki sedang berjalan di suatu jalan umum dan dia merasa sangat kehausan, kemudian dia turun ke dalam sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya untuk menjilati tanah yang basah karena saking hausnya. Si lelaki itu lalu berkata, “Anjing ini kehausan seperti diriku.” Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah sang Rabbul Izzah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Pada setiap hati yang basah terhadap pahala.”

Dari hadis di atas dapat kita ambil beberapa pelajaran, pertama, Allah telah memberikan manusia keistimewaan yang tidak dimiliki oleh binatang, antara lain kemampuan manusia untuk mengambil air dari sumur dengan timba atau turun ke dalam sumur. Adapun seekor anjing tidak bisa melakukannya.

Kedua, melihat anjing yang sedang kehausan, laki-laki itu ingat keadaan dirinya sebelum minum. Disitulah perlunya kepedulian terhadap sesama makhluk hidup.

Ketiga, belas kasih laki-laki itu ditunjukkan dengan kesediaan dirinya untuk turun kembali ke dalam sumur (karena ketiadaan timba), kesediaan dirinya untuk melepas sepatu, mengisinya dengan air, membawa sepatu yang berisi air dengan mulutnya, dan menyuguhkan air tersebut kepada si anjing.

Keempat, belas kasih yang kuat menjadi sebab Allah berterima kasih kepadanya, mengampuni dosanya, dan memasukkannya ke dalam rahmat-Nya.

Baca Juga: Bila Cetakan Tak Mengaji? Koreksi Harakat dalam Cetakan Kitab Barzanji

Hadis kedua:

غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ، مَرَّتْ بكَلْبٍ علَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ، قالَ: كَادَ يَقْتُلُهُ العَطَشُ، فَنَزَعَتْ خُفَّهَا، فأوْثَقَتْهُ بخِمَارِهَا، فَنَزَعَتْ له مِنَ المَاءِ، فَغُفِرَ لَهَا بذلكَ.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, “Seorang wanita pezina telah diampuni dosa-dosanya. (sebabnya) Dia melewati seekor anjing yang sedang yang sedang menjulurkan lidahnya di bibir sumur. Nabi bersabda, Anjing itu hampir mati karena kehausan. Kemudian wanita itu melepas sepatunya, mengikat sepatu dengan kerudungnya, lalu menimba air dengan memakai sepatu untuk anjing itu. Oleh karena tindakannya, dia diampuni.”

Dari hadis di atas dapat pula kita ambil beberapa pelajaran, pertama, menurut beberapa literatur, wanita itu adalah seorang pekerja seks komersial yang berasal dari Bani Israil.

Kedua, wanita ini memiliki dosa yang lebih besar daripada seorang laki-laki yang disebutkan oleh hadis pertama.

Ketiga, sebelum memberi minum kepada anjing, wanita itu tidak merasakan haus seperti yang dirasakan oleh laki-laki sebagaimana disebutkan oleh hadis pertama. Sehingga dorongan untuk menolong si anjing dan tingkat belas kasih wanita pezina tersebut lebih kuat bila dibandingkan dengan laki-laki diatas. Mengapa demikian? karena si wanita pezina belum mengalami sendiri kondisi kehausan ketika dia ingin menolong anjing, tidak seperti si laki-laki yang kehausan terlebih dahulu.

Keempat, di sisi lain, tingkat kepayahan laki-laki tersebut lebih kuat daripada wanita pezina. Wanita itu mengambil air dengan menggunakan sepatunya yang diikat dengan kerudungnya, sedangkan laki-laki itu mengambil air dengan usaha yang berlipat, yakni turun kedalam sumur yang dalam, dan mengambil air dengan memakai sepatu yang dibawa oleh mulutnya.

Baca Juga: Jangan Sampai Memelihara Hewan Dengan Lupa Tidak Memberinya Makan Dan Minum

Pelajaran lain yang bisa kita ambil dari kedua hadis di atas antara lain, pertama, betapa “maha kasihnya” Allah sang Rabbul ‘Izzah terhadap seluruh ciptaan-Nya. Jika ampunan ini diberikan lantaran hanya memberi minum seekor anjing, lalu bagaimana dengan orang yang memberi minum manusia yang haus, memberi makan manusia yang lapar, dan memberi pertolongan kepada manusia yang minim derajat kesejahteraannya?

Kedua, seorang muslim pelaku dosa besar tidak boleh divonis kafir. Mengapa? Allah dapat dengan sangat mudah mengampuni dosa besar yang dilakukan oleh hambanya dengan “tanpa taubat” karena kebaikan yang dilakukannya.

Ketiga, pada akhirnya, surga dan neraka hanya milik Allah semata. Hanya kepadaNya kita perlu berserah diri dan berharap mendapat rahmat dan ampunan-Nya yang begitu besar.

Kok jadi baper?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *