AKU BANGGA MENJADI BAGIAN DARI NEGERI

by Oktober 30, 2017
durasi baca: 4 menit

…kunci utama pertahanan negara adalah adanya moralitas yang sangat tinggi di kalangan generasi mudanya.


Gus Haidar Muhaimin menyambut hangat kedatangan Kapolres Bantul [Doc. Almunawwir.com]

Oleh : Neng Fahma

Pengalaman saya kali ini adalah tentang hari santri sesuai janji Bapak Presiden ketika kampanye di salah satu Ponpes di daerah Malang. Salah satu pencapaian beliau selama masa kepemimpinan ini adalah ditetapkannya hari santri sebagai hari nasional tanpa bermaksud untuk memecah belah mana yang santri dan mana yang bukan santri.

Saya sebagai santri merasa sangat tersanjung dengan ketetapan Bapak Presiden ini. Ternyata saya dan seluruh santri di negeri ini di akui. Bukan tanpa sebab Bapak Presiden menetapkan hari santri ini sebagai hari nasional.

Sejarah mencatat serta Bapak Presiden pun sepakat bahwa perjuangan bangsa dan pembangunannya tidak terlepas dari peran santri. Betapa seluruh usaha perjuangan umat islam Indonesia sejak zaman pra kemerdekaan hingga berhasil merebut kemerdekaan selalu berdasarkan usaha dan doa. Tentunya peran ulama dan para kiai dalam menanamkan hubbul wathon dalam jiwa santri sangat besar pengaruhnya. Santri merasa memiliki tanah kelahiran. Pada dasarnya santri diajarkan bentuk perjuangan sesuai dengan latar belakangnya yakni sebagai ahli ilmu, ahli khoir untuk kemajuan Negara Indonesia. Semua itu tidak akan terlepas dari belajar kesungguhan dan keikhlasan yang terbingkai dalam sebuah ikhtiar.

            Ada beberapa poin yang menjadi sorotan saya tentang hari santri. Setidaknya saya mengambil 3 poin mengenai hari santri, yakni:

1. Peringatan hari santri bagi saya

Upacara peringatan hari santri untuk yang ketiga kalinya dimulai sekitar pukul 08.30 di pesantren Al Munawwir (22/10). Santri siap mengikuti upacara dengan khidmat. Tidak lupa dengan dresscode ala santri dimana yang putra mengenakan sarung, koko putih, dan songkok. Sedangkan yang putri mengenakan jas almamater sesuai dengan komplek dan memakai jilbab sesuai dengan kesepakatan tiap komplek. Upacara berjalan lancar yang saat itu Pembina upacaranya adalah Kapolres Bantul, Bapak Imam Kabut S, S.IK, M.M. Bapak Kapolres memberikan pidato singkat tentang resolusi jihad NU yang beliau kutip dari pidato Ketua Umum PBNU, KH. Aqil Siradj.

Resolusi jihad NU adalah salah satu bukti bahwa umat islam Indonesia selalu menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan NKRI. Tanpa adanya resolusi jihad NU ini, mungkin kita masih terjajah oleh sekutu yang saat itu ingin menguasai Indonesia setelah sukses mengalahkan Jepang dalam perang dunia kedua. Pada tanggal 22 Oktober 1945, Rais Akbar Nahdlatul Ulama yakni Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad bagi seluruh umat islam yang berada di dekat kota Surabaya untuk mau ikut berperang melawan penjajah. Sehingga resolusi jihad ini, umat islam menjadi terbakar semangatnya untuk berperang karena selain tak ingin kembali terjajah oleh Belanda, mereka juga merindukan mati syahid yang sudah dijanjikan akan memperoleh jaminan masuk surga oleh Allah SWT.

Sedikit sejarah yang perlu diketahui bahwa sebenarnya santri memang mempunyai peranan yang sangat penting bagi Indonesia. Kunci utama pertahanan negara adalah adanya moralitas yang sangat tinggi di kalangan generasi mudanya. Kalau kita menengok bagaimana santri di didik perihal moralitas, tentu sudah sangat cukup. Karena setiap waktunya santri seperti berada dalam miniature kehidupan. Kehidupan yang majemuk di lingkungannya, meskipun beda suku, bahasa dan tradisinya, namun santri bisa merangkul menggandengnya menjadi sahabat bahkan teman hidup selama mencari ilmu. Bukan hanya belajar kepada kitab akhlak untuk membentuk  moralitas, tapi langsung diajarkan pada kehidupan nyata. Bagaimanapun juga moralitas lah yang menjadi kunci pokok menjaga jati diri bangsa yang ramah, damai, nyaman dengan semua apa yang diajarkan kehidupan mini dalam pesantren.

Pagar Nusa Santri Ali Maksum [Doc. Almunawwir.com]

2. Hari santri nasional sebagai wadah menjaga keutuhan NKRI

Begitu bangganya saya menjadi santri khusunya santri Indonesia, sudah menjadi kewajiban saya untuk mencintai tanah air saya. Nasionalisme yang diajarkan oleh para ulama menjadi suntikan yang sangat tajam bagi saya. Juga seluruh santri Indonesia, sebagai bentuk rasa terimakasih yang tidak akan pernah habis.

Para ulama mempertahankan Indonesia ini dengan cara menjaga paham agar tidak ternodai oleh paham lain. Jelasnya adalah bagaimana kita menjaga Alqur’an dan Sunnah agar tidak diselewengkan dan lebih mempelajarinya sesuai dengan apa yang diajarkan para pendahulu yang ilmunya luar biasa banyak dan lebih berhati-hati.

Ketika kita melihat sekarang ini muncul banyak isu mengenai Indonesia akan dijadikan khilafah, negara ini haram, negara ini tidak sesuai dengan bentuk khilafah, maka sesungguhnya disitulah muncul perpecahan dalam umat islam sendiri. Kita perlu mengingat lagi tentang hadits yang menjelaskan bahwa umat islam sendiri akan terpecah menjadi berbagai golongan. Dari sana kita tahu, sudah berapa banyak pecahan umat islam sendiri? Mengatasnamakan agama untuk kepentingan organisasi masyarakat.

Seharusnya dengan dijadikan hari santri ini tidak ada lagi perpecahan. Karena memang pada dasarnya musuh terbesar berada dalam golongan  sendiri yang memang mengkaji suatu ilmu secara tekstual. Hari santri ini bukan untuk mengkotak-kotakkan siapa yang santri siapa yang bukan. Toh yang namanya santri adalah istilah umum bagi mereka yang belajar di suatu tempat. Dengan adanya hari santri ini juga semoga akan semakin kuat rasa nasionalisme seorang santri. Terutama dalam mempertahankan negara Indonesia dari penjajah yang berupa budaya barat masuk ke dalam Indonesia. Ketika santri bersatu untuk melawan serangan dari dalam,  maka keutuhan  NKRI akan tetap terjaga.

3. Santri jangan hanya sebagai penikmat sosmed, tapi manfaatkanlah sosmed

Kata siapa santri itu kudet? Kata siapa santri itu gagap teknologi? Era sekarang ini santri memang harus dituntut untuk menguasai teknologi informasi yang semakin hari semakin berkembang. Kenapa? Karena zaman sekarang ini dakwah lebih intensif menggunakan media sosial.

Misal saja saya menyebut Instagram. Pengaruh dari Instagram ini sangat hebat dan luar biasa. Hal ini karena kebanyakan sekarang ini semua orang pasti memiliki akun sosial media. Maka, ketika santri berdakwah khususnya menggunakan sosial media, tingkat keberhasilannya bisa dibilang sangat signifikan.

Apabila sosial media menjadi konsumsi sehari-harinya masyarakat dari usia anak-anak hingga dewasa, maka memang benar peringkat gadget menjadi prioritas di era sekarang. Kita harus sadar bahwa media sosial memiliki bagian vital untuk menjadi sumber informasi yang dibutuhkan secara cepat. Alasan yang mulia untuk menjadikan sosial media sebagai salah satu media dakwah untuk menebar banyak manfaat kepada khalayak umum dengan banyak berita yang tentunya tidak provokatif. Menjadikan islam sebagi agama yang rahmatan lil alamin, menebar damai kepada sesama santri dan umat muslim khususnya di Indonesia.

Hasil survey APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia)  menunjukkan 5 rating tertinggi kegunaan media sosial, yakni 97,5% media sosial digunakan sebagai media informasi, 94,6% digunakan sebagai berdagang/bisnis, 90,4% digunakan untuk sosialisasi kebijakan pemerintah, 81,9% digunakan untuk berdakwah, dan 75,6% digunakan untuk berpolitik. Dakwah yang menempati urutan ke empat ini akan terus naik ratingnya jika setiap santri update quote para kiai. Sehari satu quote, jika semua santri menggalakkan gerakan ini, maka umat islam tidak akan haus nasihat-nasihat kehidupan.

baca juga : Santri Millenial: Oase di tengah “Sahara” Media Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *