Ada Apa dengan Bulan Sya’ban?

by Maret 24, 2022
durasi baca: 4 menit

Bulan Sya’ban merupakan momentum agung yang Allah persiapkan teruntuk hamba-hamba-Nya. Sya’ban menjadi bulan mulia, lantaran secara histori banyak peristiwa-peristiwa penting yang bertepatan dengannya. Salah satu diantara peristiwa-peristiwa tersebut ialah tahwilul qiblat (pindahnya arah kiblat). Seperti yang diketahui, sebelum Ka’bah ditetapkan menjadi kiblat umat Muslim, Nabi dan para sahabat terlebih dahulu salat dengan menghadap Baitul Maqdis (Palestina). Selain peristiwa perpindahan kiblat, pada bulan ini juga turun ayat perintah untuk bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Layaknya Bulan Ramadan yang memiliki Laitul Qadr, Bulan Sya’ban juga memiliki malam mulia yang disebut Lailatu Nishfi Sya’ban. Dalam kitabnya Fadlilah al-Muharram wa Rajab wa Sya’ban, Kiai Sholeh Darat mengatakan bahwa malam Nishfu Sya’ban merupakan hari raya para Malaikat, selain nantinya peristiwa yang serupa juga terjadi di saat malam Laitul Qadar,

Imam Abdul Hamid al-Syafi’i dalam kitabnya Kanzu al-Najah wa al-Shurur mengatakan bahwa sebagian ulama beranggapan adanya keutamaan dalam tiga bulan. Mereka ini beranggapan keutamaan bulan Rajab terletak pada sepuluh hari awal lantaran kemuliaan hari pertamanya, keutamaan bulan Sya’ban terletak pada sepuluh hari kedua lantaran bertepatan dengan malam Nishfu Sya’ban, dan keutamaan bulan Ramadan pada sepuluh hari terakhir lantaran bertepatan dengan malam Lailatul Qadr.

Keutamaan malam Nishfu Sya’ban ini banyak terekam dalam beberapa hadis Nabi, salah satunya adalah Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunan miliknya.

اذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا يَوْمَهَا، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى السَّمَاء الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ، أَلَا مِنْ مُسْتَرْزِقٍ فَأَرْزُقَهُ، أَلَا مِنْ مُبْتَلَى فَأُعَافِيَهُ، أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطَّلِعَ الْفَجْرَ

“Ketika malam Nishfu Sya’ban tiba, maka beribadahlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sebab, sungguh (rahmat) Allah turun ke langit dunia saat tenggelamnya matahari. Kemudian Ia berfirman: “Ingatlah, orang yang memohon ampunan kepada-Ku maka Aku ampuni, ingatlah orang yang meminta rezeki kepada-Ku maka Aku beri rezeki. Ingatlah, orang yang meminta kesehatan kepada-Ku maka Aku beri kesehatan, ingatlah begini, ingatlah begini, hingga fajar tiba.”

Asal Usul Peringatan Malam Nishfu Sya’ban

Syaikh Abdullah Sidhiq al-Ghumari dalam kitabnya Husnul Bayan fi Lailatin Nishfi min Sya’ban menjelaskan mengenai sejarah peringatan malam Nishfu Sya’ban. Pada kitabnya ini, al-Ghumari menjelaskan pula alasan terjadinya perbedaan pendapat ulama terkait peringatan malam Nishfu Sya’ban, lantaran ada ulama yang membenarkan dan mempraktikannya, dan ada pula yang membid’ahkannya.

Sejarah mencatat, yang pertama kali memperingati malam Nishfu Sya’ban adalah dari kalangan Tabi’in penduduk negeri Syam. Mereka adalah Khalid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin ‘Amir dan lain-lain. Golongan ini sangat menghormati dan berlomba-lomba untuk memperbanyak ibadah di malam tersebut. Mereka terus mempraktikkan peringatan Nishfu Sya’ban, sampai kemudian tersebar kabar bahwa amal yang mereka lakukan itu ternyata bersumber dari Atsar Israiliyyat (perkataan sahabat yang sebenarnya adalah buatan orang Yahudi).

Dari sini, muncullah dua golongan yang berselisih pendapat dalam menyikapi peringatan malam Nishfu Sya’ban. Sebagian dari golongan tersebut memilih mengikuti amaliyah para tabi’in negeri Syam. Mereka adalah orang-orang Bashrah dan yang lainnya. Sebagian yang lain memilih menentang dan menganggapnya sebagai praktik bid’ah. Mereka ini adalah ulama penduduk Hijaz. Diantara penduduk Hijaz itu adalah Imam ‘Atha, Ibu Abi Malikah dan para fuqaha dari kota Madinah.

Amalan-Amalan dalam Bulan Sya’ban

Salah satu amalan yang dianjurkan dalam bulan Sya’ban ialah memperbanyak puasa. Menurut beberapa riwayat, para sahabat mengatakan jika mereka tidak pernah melihat Nabi banyak melakukan puasa sunah kecuali saat bulan Sya’ban. Nabi juga menegaskan bahwa di bulan Sya’ban ini banyak orang yang lupa akan kemuliaannya. Padahal pada saat inilah, rekapitulasi dan pengangkatan amal tahunan terjadi. Oleh karenanya, Nabi banyak melaksanakan puasa di bulan Sya’ban agar puasa tersebut menjadi salah satu amal yang tertulis di penghujung catatan amalnya.

Secara umum, puasa yang dilakukan dalam rentang waktu bulan Sya’ban ialah sunah. Namun terkait puasa yang dilakukan di setengah akhir bulan Sya’ban, para ulama berbeda pendapat. Hal ini disebabkan karena Nabi juga pernah melarang puasa di setengah akhir bulan Sya’ban. Menurut pendapat ashah ulama Syafi’iyah, keharaman puasa di setengah akhir bulan Sya’ban berlaku bagi orang yang ujug-ujug tanpa sebab dia hanya berpuasa pada saat-saat itu. Adapun kebolehan berpuasa di setengah akhir bulan Sya’ban atau ketika Yaum Syak disebabkan oleh salah satu dari tiga faktor:

Pertama, puasa yang dikerjakan merupakan puasa wajib, seperti Puasa Qadha, Kaffarah, dan Nadzar. Kedua, apabila si Shaim memiliki kebiasaan puasa sunah, seperti puasa ndawud, Senin-Kamis dan lain-lainnya, maka boleh baginya untuk berpuasa. Yang ketiga, ialah ketika si Shaim melanjutkan puasa sunahnya dari hari sebelumnya. Keadaan ketiga ini dalam artian ketika ia pada hari kelima belas berpuasa, maka boleh baginya untuk berpuasa di hari keenam belas dan begitu seterusnya sampai akhir bulan. Namun, jika ia batal atau tidak berpuasa di salah satu hari tersebut, maka haram baginya untuk berpuasa di sisa hari bulan Syaban (Al-Kaff, 2004: 437).

Menyikapi hadirnya malam Nishfu Sya’ban, salah satu amaliyah yang identik dengannya ialah membaca surah Yasin sebanyak tiga kali. Syekh Muhammad al-Dimyathi dalam kitabnya Nihayatul ‘Amal menjelaskan bahwa menurut para orang-orang saleh ‘arif billah, amaliyah yang seyogyanya dilakukan dalam memperingati malam Nishfu Sya’ban adalah dengan membaca surah Yasin sebanyak tiga kali secara berkesinambungan diantara prosesi salat maghrib dan isya. Bacaan Yasin pertama diniatkan untuk keberkahan dan kebermanfaatan umur dirinya dan orang yang ia cintai. Bacaan Yasin kedua diniatkan agar dimudahkan dalam urusan rizki, baik dalam hal rizki lahiriyah maupun batiniyah. Sedangkan bacaan Yasin ketiga diniatkan agar digolongkan oleh Allah sebagai orang orang yang beruntung, baik di dunia maupun akhirat. Lantas setelah itu, berdoa dengan doa-doa yang sudah dicontohkan para ulama.

 

Editor: Arina Al-Ayya

Abdillah Amiril Adawy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.