Wirid Ayat Limo

durasi baca: 1 menit

Suatu ketika Beliau didampingi KH. Ahmad Djablawi bersama beberapa Kiai yang lain, termasuk almaghfurlah KH. Umar Abdul Manan (Pondok Pesantren Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo) melakukan perjalanan ke kota Surabaya dengan mengendarai mobil.

Sesampainya di Popongan Klaten, Beliau bersama rombongan berhenti sebentar untuk bersilaturrahmi ke kediaman almaghfurlah KH. Muhammad Manshur (Pondok Pesantren Al Manshur Popongan, Klaten), untuk memohon doa restu agar selama perjalanan menuju kota Surabaya hingga sekembalinya Beliau beserta rombongan diberikan keselmatan dan kelancaran oleh Allah Swt.

Kemudian oleh Kiai Manshur, Beliau beserta rombongan diberi sebuah ijazah (amalan atau wirid untuk keselamatan) berupa beberapa ayat dari beberapa surat dalam Al-Qur’an yang masyhur dengan sebutan, amalan ayat limo (QS. 2:246, QS. 3:181, QS. 4:77, QS. 5:27, QS. 13: 16).

Sesuai anjuran dari Kiai Manshur, amalan tersebut ditulis di sehelai kain dan dijadikan bendera serta dipasang di bagian mobil, dan juga supaya dibaca di sepanjang perjalanan.

Setelah Beliau beserta rombongan memasuki kota Surabaya, tiba-tiba muncul segerombolan tentara Belanda yang mengarahkan dan memberondongkan pistolnya ke arah mobil yang ditumpangi oleh Beliau beserta rombongan.

Singkat kisah, berkat perantaraan amalan atau wirid tersebut, alhamdulillah dengan pertolongan Allah Swt, beliau beserta rombongan selamat dari serangan segerombolan tentara Belanda tersebut.

*Sumber cerita dari KH. R. Najib Muhammad AQ dalam buku Romo Kyai Qodir karya KH. M. Mas’udi Fathurrahman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *