Utawi iki iku Sinau lan Nyinau

by Januari 19, 2017
Esai 1   745 views
durasi baca: 3 menit

Oleh : Irfan [Santri komplek Kidul Masjid  Al Munawwir]

Pesantren merupakan jenjang pendidikan yang lebih gemilang untuk berkreasi dalam semua hal ihwal ala Kulli khaal tentang persoalan agama dan kajian ilmiah dalam semua konteks Ulumuddin dan Ushul fiqh (pokok agama dan pokok fiqih) yang membidangi ilmu agama secara mujmal (keseluruhan).

Baik dalam kehidupan dunia pesantren maupun pesantren dalam berinteraksi dengan dunia sosial. Memang pada dasarnya, antara pesantren tidak bisa terpisahkan dengan dunia sosial. Akan tetapi bentuk kesederhanaan yang dimiliki oleh pesantren sendiri sepertinya agak sedikit berbeda dengan keadaan yang sebenarnya. Terutama dalam menangani kehidupan sosial yang sudah bervariasi seperti saat sekarang ini.

Pesantren yang memiliki wajah yang berbeda-beda dan bervariasi secara dogmatis memang sebuah perjuangan besar untuk selalu di kembangkan dan di lestarikan. Bukan saja dunia santri dan pesantren, akan tetapi peran santri dalam kancah politik, maupun sosial sangat besar pengaruhnya terhadap lingkungan bangsa dan dunia.

Sedangkan berbaur dengan masyarakat yang cenderung menyimpang, terkadang sulit untuk di redam. Akan tetapi dengan jurus jitu dari berbagai metode yang telah diajarkan di pesantren dapat untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Hanya saja membutuhkan waktu dan cara yang tepat untuk mewujudkan suatu metode-metode yang harus di terapkan itu.

sala1

Kegiatan Belajar Mengajar Santri Madrasah Salafiyah II Pondok Pesantren Al Munawwir

Sinau dan Nyinau, yang berasal dari satu suku kata. Satu kesatuan makna yang menjadi dua pengertian, yaitu sianu yang artinya belajar, dan Nyinau yang artinya mempelajari.

Dalam istilah ini dijelaskan juga oleh KH. Zainal Abidin Munawwir dalam kitabnya Wadzoiful Mutaalim pada bab yang kedelapan yaitu Mudarosah (Sinau), Mudzakarah (Nyinau) dan Mubahasah (membahas  bahasan). Atas dasar ini dalam pengertian yang sederhana dan untuk mencapai keilmuan agama para santri sangat ditekankan untuk lebih eksploratif dalam bertafaqquh fiiddin  (mendalami ilmu-ilmu agama) ini.

Seperti yang telah di terangkan oleh imam Az Zuhri dalam kitab Wadzoiful Mutaalim karya Kiyai Zainal Abidin tersebut yakni :

“Bahayanya ilmu adalah lupa dan sedikitnya mudzakarah

maka dengan demikian, Sinau dan Nyinau merupakan metode dasar dan sederhana yang harus dimiliki oleh seorang santri dalam dunia pesantren. Sebab dengan dua  metode ini santri dapat membangun kepercayaannya dalam mempelajari semua fan ilmu dan disiplin ilmu agama. Guna untuk selalu memiliki ghirrah dalam bertafaqquh fiiddin di dunia pesantren.

Dalam mempelajari ilmu agama di pesantren, sebenarnya masing-masing santri memiliki metode-metode tertentu untuk membangkitkan ghirrahnya. Namun kadang kala komitmen mereka tiba-tiba pupus kasih. Mungkin karena pondasi keyakinannya yang kurang terbangun. Akibatnya mereka sering putus asa ataupun berbuat sesukanya sendiri, terkadang pula mereka lupa akan tujuannya.

Seperti yang pesan singkat Romo Kiyai Najib Abdul Qadir “Ingat Tujuan dari rumah”,  ataupun pesan singkat Simbah Kiyai Zainal Abidin “Kabeh Laku Kudu di ilmuni” (semua tingkah laku harus didasari dengan ilmu). Jadi  sebenarnya banyak tokoh-tokoh kiyai yang bisa kita Nyinauni (dipelajari) segala tindakan lampah beliau dalam kehidupan sehari-hari, untuk dijadikan uswah dan sosok yang selalu kita jadikan semangat dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian juga dalam buku rahasia sukses Fuqoha yang ditulis oleh M. Ridlwan Qoyyum Sa’id sebenarnya sudah banyak di terangkan secara gamblang ihwal semangat santri dalam mempelajari ilmu-ilmu agama di pesantren. mulai dari metode menghafal, metode membaca kitab kuning sampai pada titik pembahasan puncaknya yakni metode muthola’ah dan metode musyawarah.

Dalam kaitannya Sinau dan Nyinau, terkhusus pada babakan mutholaah ini, kitab Ta’lim Muta’alim juga telah mengulas tuntas tersebut tentang metode muthola’ah dan Sinau dan Nyinau lainnya, yakni “Ngaji satu kudu diulang seribu kali”.

Dengan demikian mutholaah menduduki posisi yang tinggi yang tidak dapat disetarakan dengan yang lainnya, karena dengan pentingnya muthola’ah ini para Fuqoha dan para salafus shololih senantiasa mengingatkan kepada kita untuk selalu konsisten dalam bermutolaah, dalam artian istiqomah. Karena Istiqomah ini mempunyai ribuan bahkan jutaan berkah. Bahkan lebih dari itu, Istiqomah lebih baik daripada seribu berkah.

Menurut Imam Al Ghazali, sebenarnya setiap kekuatan memori otak manusia saja, Imam Al Ghazali mencontohkan betapa mudahnya seseorang menghafalkan syair-syair, lagu-lagu, atau anekdot-anekdot lucu.

Dengan demikian Sinau dan Nyinau haruslah segera direspon positif dan diaplikasikan dalam diri pribadi kita, jika ada hal yang mungkin kurang berkenan, atau mungkin salah niat pada awal eksplorasi kita selama ini.

Maka KH. Zainal Abidin Munawwir dalam kitabnya Wadzoiful Mutaalim pada bab awwal memberi panduan bahwa “Tashihun niyat fi Tholabil ‘ilmi” menjadi suatu hal wajib untuk didandani (diperbaiki) dalam bertafaqquh fiiddin, kemudian menanamkan rasa senang dan cinta terhadap apa yang dijalani, tanamkan dalam hati kita sedalam-dalamnya, misalnya :  “Jurumiyah pujaankku Alfiyah kesukaanku, ‘Fathul Qorib Kesayanganku, nDeres atau Muthola’ah atau Ngaji adalah hobiku” .

Allahumanfa’ ‘alaina.

Wallahu a’lam bishowab.


End Note :

I. KH. Zainal Abidil Munawir, Wadhoiful Mutaallim.

II. M. Ridlwan, Ahlu Fuqoha.

III. Pesantrenku Al Munawwir, Buku Sejarah

 

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *