Ustadz Abdus Shomad Sempat Bercita-cita Pengin Mondok di Krapyak

durasi baca: 2 menit

Sebagai seorang ustaz yang kerap mengisi pengajian di berbagai kota bahkan luar negeri beliau merasa sangat bersyukur dapat menjalin tali silaturahim dengan Pondok Al Munawwir.

Rasa syukur itu beliau sampaikan dengan cerita bahwa dari sejak tahun 1998 beliau telah mendengar nama Al Munawwir sebagai pondok tahfidz di Pulau Jawa. Namun karena kondisi yang tidak memungkinkan, beliau tidak sempat merasakan menjadi seorang santri.

“Tahun 1998 saya ke Mesir. Selama masa menunggu keberangkatan, saya mendengar bahwa ada pesantren tahfidz Alquran. Namun, saya tidak tahu bagaimana untuk sampai ke pondok tersebut.” keluh pengarang buku 37 Masalah Populer tersebut.

baca juga : “Inilah Beberapa Hal yang Paling Dirindukan dari Mbah Warson”

“Namun, alangkah membahagiakannya, tepat di tahun 2018 ini dengan ridho Allah, selama kurun waktu 20 tahun tidak kurang tidak lebih, Allah perkenankan saya untuk bersilaturahim di pondok pesantren ini,” lanjut beliau dengan logat Sumatra yang kental.

Selain itu, dalam ceramahnya, Ustaz Abdul Somad menyampaikan tiga poin penting dalam penyambutan dan memperingati haul ini; yakni menyambung tali silaturahim, mengukur diri dengan para kiai, nyai, dan para ulama serta tidak terputusnya hubungan antara orang yang meninggal dan yang masih hidup.

UAS beramah-tamah dengan Masyayikh Krapyak
UAS beramah-tamah dengan Masyayikh Krapyak

Acara haul menjadi momen penting untuk menyatukan kekerabatan, doa bersama, dan pentingnya menjalin silaturahim. Dengan adanya silaturahim akan menyambungkan persaudaraan dunia hingga akhirat kelak.

Menurut beliau, haul bukan perbuatan bid’ah yang menyesatkan. Karena dalam rangkaian haul tersebut terdapat agenda yang baik dan positif.

baca juga : “Ustaz Abdus Shomad Kagum dengan Karya Mbah Warson”

Sebagian masyarakat yang hadir menyatakan sepakat bahwa haul merupakan tradisi yang baik, yang perlu dilestarikan oleh lingkungan pesantren. Melalui haul, masyarakat dan santri bisa meneladani kepribadian, pemikiran, dan perjuangan para ulama yang telah wafat.

“Haul adalah tradisi yang penting dan memiliki hikmah yang banyak serta memberikan banyak pelajaran atas keteladan para masyayikh yang telah wafat”. jelas ibu Muslikhah Mufid, Pandanaran. Hal serupa juga disampaikan oleh tamu undangan dari Sleman bernama Mudidarmadji dan bapak Soerono (Banser, Sewon). (Lis/Reza)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *