Tradisi Posonan dan Momentum Ramadan

4 months ago
durasi baca: 3 menit


Oleh: Irfan Asyhari*
Diantara khazanah pesantren yang selalu dilestarikan lagi adalah tradisi posonan, dimana pada bulan Ramadan menjadi ajang untuk berkompetisi dalam ‘ngalap berkah’ dan meraih Ridho-Nya. Dan Pesantren-lah tempat yang sangat strategis untuk menimba berbagai macam kajian agama. Posonan adalah istilah yang diambil dari bahasa Jawa “poso” yang berarti puasa.

Posonan berarti mondok alias nyantri di suatu pesantren pada bulan puasa. Dalam bahasa Indonesia lebih sering disebut Pesantren Kilat/Pesantren Ramadan. Yang menarik, kitab-kitab yang dikaji selama posonan ini biasanya selalu khatam sebelum Ramadan usai. Hal ini telah menjadi rutinitas di berbagai pesantren di Indonesia.

Memasuki Bulan Ramadan, para santri berbondong-bondong kembali ke pesantren untuk mengaji posonan. Kebanyakan dari mereka adalah para penghuni lama, namun tidak sedikit juga para “warga” baru dari luar daerah yang sengaja ingin menghabiskan Ramadan dengan mengaji di Pesantren.

Dalam tradisi seperti ini, pengembaraan intelektual seorang santri ke pesantren-pesantren di bulan Ramadan merupakan bentuk baru dari tradisi santri kelana di masa lalu. Kini, dengan kecanggihan teknologi, para santri, alumni, atau siapa pun dan di manapun berada (memiliki kuota dan jaringan internet) bisa “nostalgia” atau mencicipi menjadi santri kelana dengan mengikuti pengajian yang sudah banyak disiarkan secara langsung di dunia maya.

Bagi seorang Muslim, tentu Ramadan adalah kesempatan yang sangat berharga untuk mendapatkan sebanyak mungkin referensi kajian agama. Termasuk kaum muslimin yang “anti kemapanan” pun memanfaatkan momentum Ramadan untuk mengkaji sebanyak mungkin kitab tingkat tinggi yang tidak diajarkan di kelasnya. Teknologi Digital pintar lah yang menjadi camilannya, memang perkembangan teknologi tidak bisa dihindari, peminat pengajian online sungguh luar biasa. Akses pengajian online pun membludak sehingga harus berebut dengan yang lain untuk mendapatkan akses pengajian.

Bagi generasi milenial, ikut serta dalam memburu keberkahan tidak melulu pengajian di masjid, pondok, langgar, musholla, ataupun tempat kajian agama lainnya. Sebab, dengan ponsel pintar (smartphone) di tangan, mereka bisa mengakses konten kajian melalui internet, ngaji digital yang bisa diakses dimana dan kapan saja. Akan tetapi yang lebih unggul tetap saja pengajian tatap muka, hadir di tempat pengajian yang digelar, seperti halnya yang dilakukan diberbagai Majlis ilmu, pengajian di pondok pesantren, dan tempat kajian lainnya.

Pengasuh ataupun santri senior membacakan naskah bahasa arab lengkap dengan arti dan makaudnya sesuai dengan bahasa di pondok itu berada. Namun keduanya menawarkan jalan kebajikan, asalkan diniatkan untuk menyerap pengetahuan ihwal agama demi meraih Ridho Allah Syubhanahu Wa Ta’ala.

Di beberapa hari menjelang Ramadan, aktifitas di pesantren kembali ramai. Para santri kembali ke pesantren untuk mengaji posonan. Tidak seperti hari-hari biasanya, pengajian di pesantren kali ini diikuti oleh santri dari berbagai usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua. Sebagian dari mereka menetap di pesantren, sementara sebagian yang lain memilih pulang-pergi dari rumah ke pesantran, nglaju. Mengaji posonan merupakan waktu yang ditunggu-tunggu untuk belajar agama secara intensif dengan Kyai di pesantren. Pengajian dilakukan di waktu siang, sore, hingga tengah malam. Pengajian seperti ini dapat menjadi kesempatan atau sarana membangun silaturahim. Adanya smartphone kadangkala membuat orang-orang mengabaikan pentingnya silaturahim, bertemunya murid kepada guru, santri kepada kiai, ini yang membawa keberuntungan dan keberkahan sendiri.

Bagi “warga” baru di dunia pesantren, menghabiskan Ramadan di pesantren dapat menjadi pengalaman yang menarik. Pesantren menyuguhkan banyak pengalaman baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti kemandirian, kebersamaan, dan kebersahajaan. Sikap-sikap tersebut tergambar jelas dalam aktivitas sehari-hari para santri.

Adanya prinsip keberkahan inilah yang kemudian diajarkan dengan menekankan pada menjunjung tinggi ilmu pengetahuan yang diajarkan dari pondok pesantren, tidak hanya melalui buku dan kitab, akan tetapi konsep ta’dzim (etika kesopanan, menghormati, menghargai terhadap kiai atau ustadz). Hal inilah yang beraperan besar dalam membentuk karakter santri, baik secara logika, etika maupun estetika.

Disisi lain, Pesantren menjadi tempat tujuan yang tepat untuk mengkaji ilmu-ilmu agama secara intensif, khususnya di Bulan Ramadan. Banyak sekali kebaikan yang dapat diperoleh dengan mengikuti kegiatan mengaji posonan di pesantren selama Bulan Ramadan. Pertama karena pendidikan pesantren tidak semata-mata dilakukan untuk memperkaya wawasan para santri, tetapi mereka juga dilatih untuk menghargai waktu. Kedua, dengan menjadi bagian dari warga di lingkungan pesantren, seorang santri akan dibimbing agar memiliki watak dan perilaku yang agamis.

Hal ini karena pesantren adalah tempat untuk menjaga moral dan mempertajam nilai-nilai spiritualitas dan kemanusiaan. Momentum Bulan Ramadan yang identik dengan kegiatan keagamaan menjadi saat yang tepat untuk ngaji posonan untuk mendalami ilmu-ilmu agama atau sekedar untuk mengenal kehidupan pesantren.

*Santri Komplek CD Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *