Tradisi Khataman Shalat Tarawih, Al Qur’an menjadi Wajah Sinergitas Umat Islam

Krapyak, Masjid tiga lantai itu penuh. Dipenuhi oleh para jama’ah. Belum lagi halaman Masjid, yang dipakai untuk parkir kendaraan para jama’ah shalat Tarawih di Masjid. Ramai dan Meriah. Cahaya bulan yang temaram, pun ikut berteman dengan malam ke dua puluh bulan Ramadhan 1438 H.

Malam kali ini begitu sejuk, sebab di Pondok Pesantren Al Munawwir pada malam 20 Ramadhan 1438 H/14 Juni 2017 didaulat sebagai malam peringatan Nuzulul Qur’an sekaligus Khataman Shalat Tarawih. Para jama’ah—santri dan masyarakat—semenjak adzan isya’ dikumandangkan, mereka berbondong-bondong memadati Masjid Al Munawwir untuk ikut menyemarakkan malam mulia di bulan gelimang pahala. Mulai dari mereka yang masih anak-anak, remaja, bahkan orang tua dan lansia yang tak mau kalah. Sama-sama saling berusaha untuk meraih kebaikan dan keberkahan di bulan yang penuh kemuliaan ini.

Malam kali ini begitu sejuk, sebab angin sebagai tanda kehadiran, semilir berhembus, terasa di pori-pori kulit yang terbuka. Diimbuhi dengan lantunan syahdu ayat-ayat al-Qur’an dari KH. R. M. Najib Abdul Qodir, selaku imam shalat Tarawih Masjid Al Munawwir sejak malam pertama Ramadan sampai malam ke dua puluh Ramadan. Setiap hari, sejak malam pertama bulan Ramadan, satu setengah juz diselesaikan dalam dua puluh rakaat shalat Tarawih, sehingga pada malam ke dua puluh, shalat Tarawih khatam satu kali. Sedang khataman yang kedua, diselesaikan dalam sepuluh hari terakhir dengan tiga juz dalam sehari.

Tradisi seperti ini, adalah tradisi yang tak terpisahkan dari Pondok Pesantren Al Munawwir sejak awal berdirinya. M. Mas’udi Fathurrahaman menyebutkan dalam bukunya yang berjudul “Romo Kyai Qodir” perihal KH. Abdul Qodir (Ayah dari KH. Najib AQ) yang menghabiskan satu setengah juz di setiap shalat Tarawih. Jadi tepat pada malam dua puluh Ramadhan, Al Qur’an 30 juz seluruhnya bisa rampung, atau selesai terbaca. Peringatan khataman shalat Tarawih di Masjid itu sendiri, pertama kali dilaksanakan pada era kepengasuhan KH. Ali Maksum (-Red.).

Demikianlah ciri khas atau keontetikan dari Pesantren Krapyak, yang sejak didirikan oleh KH. Munawwir al Muqri’—Ulama Qur’an Nusantara—pada 1911 M telah laten dalam basic Pesantren Al Qur’an.

Adapun selain khataman shalat Tarawih, di setiap bulan Ramadan, pada dua puluh Ramadan, KH. R. M. Najib AQ juga mengkhatamkan tartilan al-Qur’an bersama para santri yang dilaksanakan sejak hari kedua sampai ke dua puluh Ramadhan.

Malam kali ini begitu sejuk, dan malam-malam setelahnya semoga akan terasa lebih sejuk. Dalam konteks ini, Al-Qur’an menjadi wajah sinergitas umat Islam, wajah kerukunan umat Islam, wajah ke-tasamuh-an umat Islam, yang tercermin pada keguyuban, keramaian, ketertarikannya ikut menghormati Khataman Shalat Tarawih di malam ke dua puluh bulan Ramadan di Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta. (Afqo)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *