“TIGA KALI”

durasi baca: 8 menit

Oleh : Muhammad Najib Murobbi*

“Kalaamun qadimunlaa yumalluu samaa’uhu …” lantunan do’a di malam hari dengan suara merdu serta berjama’ah terdengar indah menembus sampai nadi dan hati.Mengalir dalam nadi, seperti membersihkan tiap darah kotor yang mengalir dalam tubuh manusia. Menembus dalam hati, seperti angin yang menembus sela-sela ventilasi di antara satir[1]santri putra dan putri yang saling menunggu surat balasannya.

Para santri terlihat menunduk, serta ada beberapa yang mengantuk.Menunduk seraya tegang menunggu panggilan untuk imtihan[2]Al-Qur’an dengan meneruskan ayat-ayat yang dibaca oleh Ustadz Masnun.Mengantuk dengan peci hitamnya yang berpindah miring arah selatan-utara sambil menunggu kapan acara imtihan cepat selesai.

Endin, santri putra dengan badan sedikit gemuk namun terlihat ramping karena tinggi badannya mendapatkan giliran untuk imtihan Al-Qur’an. Lalu dibacanya surat Ali ‘Imron hingga sampai pada awal surat An-Nisa

Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakanan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Lalu Ustadz Masnun memerintahkannya untuk mengulangi ayat itu sebanyak 3 kali dengan pelan dan lebih tartil.Seakan memberikan isyarat terhadap Endin. Lalu dibacanya ayat itu dengan merdu dan tartil, hingga imtihan dinyatakan selesai serta santri calon Hafidz dinyatakan lulus dan siap “Khataman dan Wisuda.” Dan waktu itu menjadi kebahagiaan bagi santri yang mengantuk.

“Neng, Bapak jadi kagum sama santri Bapak.Dia santri yang baik, dan Insya Allah akan segera khatam Al-Qur’an beberapa hari lagi, Bapak jadi ada satu keinginan dengannya.”Sahut Ustadz Masnun saat perjalananmenuju rumah bersama anaknya, Mufi.

Senyum manis serta lesung pipi Mufi terlihat antusias berbincang-bincang dengan  Bapaknya, namun pikiran yang terbayang hanya dengan wajah santri asal Garut.

“Endin namanya. Neng kenal?”

Sejenak Mufi berhenti melangkah, hanya tertinggal beberapa meter dari Bapaknya. Wajahnya memerah, terdiam tanpa kata, sedikit kaku dan “braakkk …” buku-buku yang dibawanya jatuh saat mendengar namaEndin diucapkan melalui lisan Bapaknya.

“En … di …n, iya Neng kenal pak.”Katanya dengan gugup dan wajah menunduk.dengan ta’dzim.

“Hmm, seperti itu. Ya sudah Bapak hanya tanya saja kok, kenapa kamu sampai bertingkah seperti itu saat Bapak menyebut Endin.” Katanya dengan nada menggoda anaknya.

“Hehehe, ndak pak. Anu … lengan kiri Neng sedikit gatel, jadi Neng garuk dulu deh pakai tangan kanan, eh jatuh deh bukunya.”Sambung Mufi dengan wajah melas.

Sepanjang jalan menju rumah, Mufi hanya terus tersenyum lalu terbayang wajah santri terbaik Bapaknya dalam pikirannya. Hatinya benar-benar senang, seakan tidak sia-sia selama bertahun-tahun Mufi mencintai dalam diamnya, sepertinya Allah akan segera menjawab permohonan Mufi yang setiap waktu tahajjud dia sebut nama Endin dalam doa’nya.

Angin yang berhembus pada malam hari itu mengingatkan kisah cinta pertama Mufi terhadap Endin 3 tahun lalu, saat Endin mulai mendekati Mufi. Walau Endin sudah hampir 7 tahun nyantri di pondok pesantren Buntet, namun ketertarikannya terhadap wanita mulai saat pertama kali melihat Mufi naik podium menjadi “Hafidzoh” dalam acara wisuda “Khatimat Al-Qur’an” 3 tahun silam.

“Din, ente bengong aja, kumaha sih Endin.Nyok didaharlah gorengannya,[3] bengong mikirin apa sih?”

Sok mangga, dahar lah Cep.[4] Wah, bakwannya tinggal satu nih? Aku makan ya Cep.” Balas Endin pada Encepsambil mengalihkan pertanyaan. Encep, kawan seperjuangan selama nyantri di pondok pesantren Buntet.

Malam itu setelah acara wisuda selesai, biasanya setiap santri mendapatkan jatah sisa makanan serta hidangan untuk dihabiskan.Tak terkecuali Endin dan Encep yang hanya mendapatkan 1 bungkus nasi, 3 lontong dan 4 macam gorengan. Hampir larut malam pada saat itu, namun Endin dan Encep masih asik berbincang-bincang di saung depan asrama dengan hidangan 2 gelas kopi hitam dan sebatang rokok.

“Aku suka sama Mufi Cep, anaknya Ustadz Masnun.” Katanya sambil melamun, hingga setengah gorengan dilahapnya.

“Serius ente Din? Mufi yang 2 pipinya terdapat bolongan itu dengan wajah manis dan sudah di lamar 4 kali namun ditolak semua oleh Bapaknya? Yang menjadi impian setiap santri, yang menjadi impian tiap anak laki-laki yang lahir dari rahim Ibunya, yang menjadi lamunan sesaat jika melihat wajahnya langsung, yang menjadi … “ suara Encep berhenti, saat Endin menutup mulutnya dengan lontong. “Iya, aku suka dengan Mufi.”Sambung Endin.

Mereka berdua terdiam sejenak, lalu sama-sama menghirup kopi hitam panasnya. Encep setengah tidak percaya dengan ucapan Endin. Endin yang dikenalnya hanya seorang santri biasa saja, tidak terlalu antusias terhadap santri putri. Jauh berbeda dengan Encep yang sering melirik  saat santri putri tatkala lewat di depannya. Endin Hanya belajar dan mengabdi pada guru-guru di pondok pesantren Buntet. Namun, keraguan selama ini ternyata berubah menjadi debu jika selama ini Endin adalah laki-laki normal yang menyukai lawan jenisnya.

“Din,” katanya sambil merangkul bahu kawannya.“Mufi itu anak Ustadz Masnun dan bukan orang sembarangan yang akan menjadi mantunya nanti.Kamu tahu sendiri, orang-orang gede datang namun ditolak.Lah, kamu eh maksudku kita santri biasa hanya orang desa dari Garut yang nyantri.”Sahut Encep dengan berbisik pelan, lalu menyalakan sebatang rokoknya.

“Emangnya dalam aturan nikah Islam ada gitu harus orang gede? Lah kamu gag lihat aku ini orang gede. Hahaha …” Katanya sambil merenggankan badan dan tangannya.

“Badanmu emang gede Din.” Balasnya dengan singkat.

Kopi hitam itu hanya tersisa ampas, namun perbincangan masih berlanjut. Endin menceritakan pada Encep bahwa suatu saat jika Allah mengizinkan, dia akan memberanikan diri untuk melamar pada Ustadz Masnun agar menjadi mantunya. Sangatlah sulit mengambil hati seorang Ustadz Masnun yang terkenal galak namun humoris menjadi sisi yang unik pada diri Ustadz pengajar Al-Qur’an.

 Beberapa masukan dan ide diskusi mereka mengenai pendekatan Endin dan Mufi sudah selesai, layaknya mendapatkan ketuk palu dari seorang hakim. Endin dianjurkan untuk menuliskan sebuah surat bahwa dirinya suka terhadap Mufi. Awalnya Endin menolak, namun Endin seperti terbius suntik oleh anjuran Encep untuk menulis surat cinta. Endin memang tidak pandai dalam merangkai kata-kata puitis atau romantis, Encep adalah tangan kanan Endin untuk hal seperti ini.

3 minggu kemudian ditulislah surat untuk Mufi.Waktu yang cukup lama untuk menuyusun tata bahasa, puluhan kertas disobek karena salah koma, titik, dan tata bahasa. Bahasa yang santun dan sopan tertulis dalam seuntai lembaran kertas putih itu. Bulu pena dengan tinta hitam menjadi lirikan tiap huruf yang tertulis dalam kertas itu. Saat imtihan Al-Qur’an, melaui satir, surat itu tersampaikan untuk Mufi, lalu diterimanya surat itu, tertuliskan dalam bungkus surat itu “Dari: Endin untuk Neng Mufi.”

Lalu dibacanya surat itu oleh Mufi. Surat dengan maksud memperkenalkan diri serta mengajak kenal lebih jauh. Mufi sendiri sudah mengenalEndin dan sering mengintip saat Bapaknya memanggil Endin untuk mengerjakan tugas-tugas di kediaman Ustadz Masnun.

Awalnya hanya sebatas tahu saja, namun Mufi diam-diam juga suka terhadap sifat dan tawadhu’ nya Endin terhadap gurunya. Dari situlah surat-suratan mereka berlanjut hampir setiap seminggu sekali bahkan 2 minggu mereka saling balas surat menyurat mereka melalui satir saat pengajian digabung santri putra dan putri. Satir seakan sudah menjadi saksi dan pelindung untuk para santri-santri sebagai lahan menuangkan cintanya.Surat cinta yang terselip, terlewati, bahkan tertinggal tidak jarang terjadi. Indah, namun sederhana surat itu tersampaikan.“Terima kasih satir” begitu kira-kira ucapan santri yang cintanya berjalan halus.

Pagi di pondok pesantren Buntet memang indah serta syahdu, sawah-sawah dan pemandangan gunung nampak mewarnai indahnya pondok pesantren Buntet.Hanya sawah, rumah-rumah desa dan asrama-asrama yang terbuat dari kayu serta bambu. Kerbau dan para petani terlihat menggarap sawahnya, serta sepada-sepeda ontel terlihat mengelilingi kampung di sekitar pondok pesantren Buntet.

Para santri sibuk dengan memuraja’ah hafalan Qur’annya, ada juga yang terlihat sibuk dengan sendirinya. Hanya tinggal menunggu beberapa hari lagi Endin dan beberapa santri yang dinyatakan lulus untuk wisuda Al-Qur’an. 3 tahun yang penuh dengan perjuangan santri asal Garut itu berusaha menghafal ayat-ayatNya.Endin bukanlah seorang dari keluarga terhormat, namun memiliki kehormatan, juga bukan seorang tokoh dalam kampungnya di Garut, namun memiliki akhlaq yang mulia terhadap semua makhluq.

Endin hanya seorang biasa yang membantu Ibunya berjualan dodol Garut saat di rumah.Namun, Endin dikenal sangat hormat dan berbakti terhadap orang tuanya, serta para guru-gurunya. Hidup dengan sederhana namun penuh usaha dan do’a agar kelak mampu mewujudkan impiannya, mantu dari Ustadz Masnun.

Kobaran semangat dan keyakinan Endin yang tertancap pada jiwa raganya terhadap Allah seperti api yang membara, seperti gunung yang kokoh, tidak akan berpindah, tidak akan hancur, kecuali atas perintah Allah SWT. Hingga malam tiba atas izin-Nya.

Panggung beralaskan karpet masjid berwarna hijau. Dekorasi dengan tanaman hijau dan kursi plastik berwarna hijau untuk tamu undangan dan wali dari tiap-tiap calon Wisudawan Hafidz sudah tersusun rapi. Tercantum masing-masing nama walinya. Wisuda khataman Al-Qur’an terlihat mulai ramai. Nuansa hijau menjadi penghias acara. Para calon hafidz nampak gagah dan berwibawa dengan celana hitam, baju putih, jas berwana hitam dan peci hitam.

Para Hadirin wal Hadirat … “ begitu sahut MC menjalani acara. Hingga para calon hafidz berjalan dengan tegak dan gagah, layaknya seorang tentara. Langkah kaki yang sama serta paras yang tertunduk menandakan simbol tawadhu’. Panggung untuk calon hafidz sudah terisi dengan shaf-shaf lurus mengahadap kiblat.Lantunan surat-surat pilihan begitu merdu dengan tartil. Mulai dari surat Al-Mulk, Ar-Rahman serta surat lainnya. Lembut, namun menggetarkan hati. Selanjutnya para hafidz membaca surat pilihan, lalu sampai pada Endin membaca surat Adz-Dzariyat ayat 49:

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْناَ زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَ كَّرُوْنَ

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”

Lalu Ustadz Masnun kembali memerintahkan Endin untuk mengulang ayat itu sebanyak 3 kali. Dalam hati Endin berkata-berkata mengapa hanya dia yang diperintahkan untuk mengulang. Namun, ia tetap melakukan sebagai hormat dan ta’at kepada guru. Hingga sampai acara khataman dan wisuda Al-Qur’an selesai.

“Masya Allah … akhirnya ada juga orang Garut yang jadi hafidz Al-Qur’an. Selamat ya Din, bangga aku sama kamu.Do’akan aku suatu saat akan menyusul nanti.” Sahut Encep lalu memeluk Endin usai acara selesai.

“Alhamdulillah Cep hatur nuhun, atuh kamu juga yang setia nyimak hafalan Al-Qur’an aku. Amin, semoga Allah memudahkan.”Balas Endin.

“Alhamdulillah Din, oia belum lama tadi aku dipanggil sama Ustadz Masnun, katanya, “Nanti kalau kamu lihat Endin suruh ke rumah seusai acara khataman ya Cep,” gitu Din. Sepertinya ada hal yang penting.”

“Atuh sok lah kamu ikut juga temenin aku sama Ibuku kerumah Ustadz Masnun.”

Endin, Ibunya Endin dan Encep, mereka berjalan melewati beberapa dusun menuju kediaman Ustadz Masnun. Sepanjang perjalanan, jantung Endin berdetak lebih cepat, namun langkahnya pelan sambil merangkul tangan Ibunya. Ibunya pun bertanya-tanya pada Endin, namun Endin hanya menggelengkan kepala.

“Assalamua’alaikum.” Sahut Endin saat sampai rumah Ustadz Masnun.“Wa’alaikumsalam, ayo nak silahkan masuk.” Jawab Ustadz Masnun.

Nak?Tidak biasanya Ustadz Masnun memanggil santrinya dengan sebutan anak.Begitu hati kecil Endin berbicara.


Ruang tamu dengan karpet bercorak batik dan beberapa hidangan makanan serta teh hangat telah disajikan oleh anaknya, Mufi.Wajah cantiknya terlihat anggun saat menuangkan beberapa gelas teh untuk tamu istimewa Bapaknya.Percakapan dimulai dengan ucapan terima kasih oleh Ibunya Endin. Saat perbincangan terus berlanjut, Mufi terlihat ikut mendengarkan di balik bilik ruang tamu.

“Jadi saya memanggil nakEndin untuk meminta suatu hal dan barangkali Ibu berserdia memberi restu.” Ucap Ustadz Masnun, dan suasana berbeda menjadi tegang, sunyi dan sedikit terdengar suara katak.

“Enjeh Ustadz monggo, apa yang bisa saya restui atas permintaan Ustadz.” Balas Ibunya Endin dengan logat jawanya. Endin dan Encep terlihat tertunduk serta menyimak dengan baik perbincangan Ustadz Masnun dengan Ibunya.

Bismillahirrahmanirrahim,” bisik Ustadz Masnun. “Saya meminta nak Endinmenjadi  suami anak saya.”

Tersentak Endin menegakkan kepalanya dan detakan jantungnya mulai kencang. Seakan tidak percaya dan merasakan pendengarannya sakit atau salah mendengar atas permintaan Ustadz Masnun terhadap Ibunya. Ibunya Endin memandang Endin, pengelihatan yang menandakan sebuah pertanyaan, dan Endin hanya tersenyum kepada Ibunya menandakan Endin bersedia.

“Enjeh, saya dengan senang hati merestui jika Endin menjadi bagian dari keluarga Ustadz Masnun.” Jawab Ibunya Endin, dan Endin mulai mengerti isyarat “3 kali.”

“Alhamdulillah.”Serentak orang yang berada dalam ruang tamu bertahmid.Tak lepas Mufi yang mendengarkan turut bertahmid kepada Allah, lalu air matanya membasahi pipinya.

Jantung Endin mulai berdetak normal. Peredaran darahpun ikut normal seusai membicarakan lamaran itu. Malam itu seusai meminta restu dari pihak keluarga Endin. Tidak lama kedua belah pihak membicarakan untuk khitbah dan acara pernikahan.Mahar yang di berikan Endin 30 juz hafalan Al-Qur’an yang telah dihafalnya.

Hingga acara pernikahan berlangsung dengan lancar, tamu undangan dari berbagai pondok pesantren, serta lantunan marawis dan gambus memeriahkan acara pernikahan Endin dan Mufi.15 Syawal 1414 H menjadi hari yang istimewa bagi Endin dan Mufi.

“Assalamua’laikum.” Sahut seorang laki-laki

“Wa’alaikumsalam, Masya Allah … Encep, sok atuh masuk-masuk.” Lalu Endin mempersilahkan kawan seperjuangannya duduk di ruang tamu.

“Ya Allah, bagaimana kabar kamu Cep?Sehat-sehat saja?Oia bagaimana keadaan keluarga di Garut pada sehat juga?”Tanya Endin terlihat memendam rasa kangen terhadap kawannya.Sudah hampir 5 tahun mereka tidak betemu.Encep yang mendapatkan musibah di keluarganya hingga akhirnya pulang kampung menuju Garut untuk selamanya.“Alhamdulillah semua sehat Din.” Balasnya dengan senyum.

Mereka berdua saling berbincang-bincang, tawa dan canda menyelimuti pertemuan mereka.Puluhan kabar dan cerita di Garut diceritakan pada Endin.Namun hanya nostalgia dan masa-masa saat nyantri di pesantrenlah yang lebih menarik.

Endin yang sekarang menjadi pengajar Al-Qur’an menemani mertuanya, Ustadz Masnun, dan Encep menjadi pedagang juragan dodol Garut. Kesuksesan telah menghampiri mereka.Kedatangan Encep adalah membawa kabar kebahagiaan untuk sahabatnya, bahwa Encep akan menikah dengan seorang gadis dari Garut. Dan meminta Endin ceramah saat pernikahan Encep nanti. “Insya Allah.” Sahut Endin.


*Santri Krapyak, Asrama Taman Santri/ Askis (Asrama Kidul Sakan)

Najibmurobbi@gmail.com


[1] Penutup atau batas, biasanya menggunakan triplek dengan ukuran tebal

[2] Ujian

[3]Din, kamu kok bengong aja, gimana sih Endin.Ayodi makanlah gorengannya.

[4] Silahkan makanlah duluan Cep

baca juga :

Sekumpulan Sajak Kemenyek Fatma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *