Teladan Pengabdian & Potret Nahdatul Ulama Kontemporer

by Februari 5, 2017
Warta 0   203 views
durasi baca: 2 menit

Krapyak, 05 Februari 2017, bertempat di Aula MTs. Ali Maksum Krapyak Yogyakarta dalam serangkaian acara menyambut Haul Ke – 28 KH Ali Maksum, Halaqah atauSilaturrahim Kiai-Alumni Pondok Pesantren Krapyak berlangsung begitu tenang. Meskipun cuaca di luar demikian menyengat, tapi para peserta yang notabene alumni Pesantren Krapyak itu, sama sekali tidak disibukkan dengan kondisi cuaca tersebut. Secara bertahap, ruangan Aula menjadi penuh.

Silaturrahmi ini bertajuk “Teladan Pengabdian & Potret NU Kontemporer” yang berkesempatan menjadi Narasumber adalah KH. As’ad Sa’id Ali (Waketum PBNU 2015-2020), KH. Azhari Abta (Musytasyar PWNU DIY), KH. Zaim, dan masih banyak lagi.

Tema tersebut dipilih sebagai keresahan yang dialami oleh para Kiai di kalangan Pesantren NU yang merasa dirugikan dari dinamika sosial-politik yang terjadi dewasa ini. Dinamika tersebut, seolah-olah mengesankan reaksi yang kontraproduktif di antara satu golongan dengan golongan lain. Hal ini tidak lain disebabkan pula oleh mengentalnya politik identitas. Politik yang menyaratkan nilai-nilai segmentasi atas ideologi masing-masing, sehingga seolah-olah para penyandang ideologi tersebut berhak atas pemenangan ideologinya sendiri.

Selain itu, muslihat di media massa pun tak bisa dihindari. Beberapa kali fitnah dan propaganda hingga pemberitaan yang ngawur dibagikan dalam hitungan detik. Itu pun masih dalam satu sasaran, yang tidak lain adalah NU khususnya dan umat Islam di Indonesia umumnya.

Hal ini disikapi oleh KH. Azhari Abta dengan “upaya memperbaiki internal NU secara organisatoris. NU perlu dikuatkan dengan kaderisasi. Jangan sampai NU dipimpin oleh orang-orang yang tak paham organisasi. Bisa-bisa paham monarkhi yang akan dipakai”.

Statement seperti itu pun diamini oleh KH. Zaim, Gus Zaim sapaan akrab beliau mengatakan “NU secara organitasoris (PR, PAC, PC, PW, PB) harus bubar! Nantinya NU akan dengan sendirinya tumbuh kembali dari bawah. Sebab basis NU sendiri yang diyakini dari dulu sampai sekarang berakar pada masyarakat pedesaan yang heterogen.”

Ahmad Muttaqin, selaku perwakilan dari panitia pun memaparkan, bahwa “Tajuk atas halaqah ini, didasarkan pada kealphaan peran pesantren. Atau pesantren yang dilalaikan. Padahal pesantren adalah basis NU. Selain itu perihal kemandirian NU, yang harusnya diperbaiki, bidang perekonomian apalagi.”

Selain acara halaqah, dalam serangkaian acara menyambut acara Haul Ke- 28 KH Ali Maksum, diwarnai pula dengan Sema’an, Ziarah Ke Maqbarah dan Pengajian sebagai puncak acaranya”, sambung Muttaqin. [Afrizal Qosim]

Tinggalkan Balasan