Tata Cara Bersuci dalam Kitab Safinatun Najah (2)

durasi baca: 3 menit

Oleh: Khoniq Nur Arifah

Tayamum
Tayamum suatu tindakan inti bersuci tidak menggunakan air melainkan menggunakan debu sehingga tayamum bisa disebut sebagai pengganti wudu, apabila sesorang tidak bisa melakukan wudu ataupun mandi wajib.

Adapun tayamum dapat dilakukan karena beberapa sebab. Sebab-sebab tayamum itu ada 3. Pertama, tidak air (فقد الماء). artinya seseorang bisa melakukan tayamum jika sudah tidak ada air untuk bersuci.

Kedua, sakit(مرض) . artinya boleh melakukan tayamum jika dalam keadaan sakit. Maksudnya apabila seseorang yang sakit tersebut menyentuh air atau terkena air justru semakin memperparah pernyakitnya. Maka dalam keadaan tersebut seseorang diperbolehkan untuk bertayamum.

Dan yang ketiga adalah ada air tetapi air tersebut digunakan untuk memberi minum binatang yang kehausan dan muhtaram (dimuliakan oleh syara’)(أحتياج اليه لعطش حيوان محترم), sehingga air tersebut terbatas dan dibutuhkan untuk hal yang lebih primer yaitu demi kelangsungan hidup makhluk yang dimuliakan oleh syara’.

Dalam kitab Safinatu an-Najah ini mushonif menjelaskan lebih lanjut yang dimaksud dengan makhluk yang dimuliakan oleh syara’, dengan sebuah pengecualian tentang enam mahkluk yang tidak dimuliakan ;
1) Orang yang enggan mengerjakan salat (تارك الصلات),
2) Pezina mukhson (yang sudah menikah) (زّاني المحصن)
3) Orang yang keluar dari Islam (murtad) (مرتد)
4) Orang kafir yang boleh diperangi (كافر الحربيّ)
5) Anjing gila yang galak dan (كلب العقور)
6) Babi.(خنزير)

Dari enam pengecualian tersebut bisa ditengarai siapa makhluk yang dimuliakan oleh syara’, dan jelas bahwa makhluk mana saja yang perlu ditolong saat kita sedang kekurangan air dan diperbolehkan untuk bertayamum.

Setelah membahas apa saja sebab-sebab tayamum, selanjutnya perlu diketahui apa saja syarat-syarat sehingga diperbolehkan untuk bertayamum.

Syarat tayamum ada sepuluh;
1) Menggunakan debu, (أن يكون بتراب) sehingga bedanya tayamum dengan wudu adalah sesuatu yang digunakan untuk mensucikannya yakni debu, sedangkan wudu menggunakan air.
2) Debu yang suci (أن يكون التراب طاهرا)
3) Debu suci yang belum musta’mal, (ألاّ يكون مستعملا)artinya debu yang sudah digunakan untuk bersuci maka tidak bisa digunakan untuk bersuci kembali.
4) Debu yang tidak tercampur dengan gandum dan semacamnya. (ألاّيخالطه دقيق ونحوه)
5) Niat bertayamum. (أن يقصده)
6) Membasuh wajah dan kedua tangan dengan dua kali tepukan. (أن يمسح وجهه ويديه بضربتين)
7) Membersihkan najis yang ada di badan sebelum melakukan tayamum,(أن يزيل النجاسة أولا) ,memastikan jika terdapat najis-najis yang ada di badan sudah suci sebelum melakukan tayamum. Terutama pada selain anggota-anggota tayamum (dubur, qubul, kaki, badan).
8) Ijtihad menentukan kiblat, sehingga telah di posisi yang sudah mengetahui dan menghadap kiblat sebelum bertayamum.
9) Bertayamum setelah masuk waktu, sebab tayamum hanya bisa digunakan untuk sekali salat fardu.
10) Dilakukan setiap kali akan melakukan sholat fardu. Tidak seperti wudu yang semisal saat masuk waktu magrib kita salat magrib dan dilanjut dengan solat isya’ hanya menggunakan satu wudu. Tetapi jika tayamum harus melakukan dua kali tayamum untuk dua kali salat, dan seterusnya.

Adapun rukun-rukun tayamum dalam kitab Safinatu an-Najah dijelaskan ada lima;
1) Menggunakan debu, ini yang selanjutnya membedakan apa itu wudhu dan apa itu tayamum.
2) Niat, tentu ini juga yang akan membedakan mana yang beribadah dan mana yang bukan ibadah, semisal hanya bermain debu dengan gaya seperti tayamum maka tidak bisa dikatakan tayamum jika tidak berniat untu tayamum atau bersuci.
3) Mengusap wajah.
4) Mengusap kedua tangan hingga siku-siku.
5) Tertib dalam mengusap.

Baca juga : Membincang Keluarga Maslahah, dari Positive Parenting Hingga Kiat Memilih Pasangan”

Dalam pengamalannya, tayamum sebenarnya mirip-mirip dengan wudu hanya saja yang digunakan untuk bersuci adalah debu bukan air. Sehingga jika ada rukun yang berupa mengusap tentu tata caranya mirip dengan saat mengusap dalam wudu.
Adapun hal-hal yang membatalkan tayamum ada tiga;
1. Semua yang membatalkan wudu, artinya semua hal yang membatalkan wudu juga pasti membatalkan tayamum. Adapun yang membatalakn wudu dalam kitab Safinatu an-Najah ada empat;

1) sesuatu yang keluar dari salah satu dari jalan keluar, yaitu baik qubul (jalan depan) ataupun dzubur( jalan belakang), baik kentut ataupun yang lainnya, kecuali mani.

2) Hilangnya akal sebab tidur ataupun yang lainnya, semisal karena bius atau obat-obatan yang dapat memberikan efek hilangnya ingatan. Mengenai tidur yang tidak membatalkan puasa ialah orang yang duduk sambil mengokohkan duduknya di atas tanah.

3) Persentuhan antara dua kulit laki-laki dan perempuan dewasa tanpa adanya pembatas, artinya bersentuhan yang bukan mahromnya dan tanpa ada batasan atau aling-aling. Adapun jika yang bersentuhan itu kuku dan rambut maka tidak membatalkan wudu.

4) Menyentuh qubul manusia atau lingkaran dzuburnya dengan telapak tangan atau jari-jari tangannya baik milik sendiri ataupun orang lain.
2. Murtad.
3. Ragu adanya air. Sebab diperbolehkannya bertayamumn adalah karena tidak adanya air.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *