Aku Terbangun di Sepertiga Malam

Oleh: ikhwan din* Tulisan ini untuk diriku dan kalian—siapapun yang sedang berjuang di perantauan. Tuhan, malam ini aku terbangun di sepertiga malam. Ya, tak seperti biasa santri santri lakukan di tengah malam yang bangun untuk menunaikan “tahajud”. Kali ini aku terbangun. Dengan wajah yang masih berantakan, aku duduk di atas alas tempat tidurku. Sambil menengadahkan kepalaku ke atas, menatap langit-langit kamar yang sengaja kugelapkan. Bagaimana bisa aku tertidur lelap? sedang orangtuaku disana hanya mampu memejamkan mata barang satu jam-dua jam saja Bagaimana aku bisa makan dengan lauk yang enak? sedang orangtuaku di rumah, hanya makan dengan lauk yang sangat sederhana. Bapak Baca Selanjutnya . . .

Sekumpulan Sajak Kemenyek Fatma

Cacing dan Semut Musuh Terhebat Ku    Tak dapat ku cincang Cacing, Semut dan teman-temanya Meski aku tuan rumah Yang kaya harta dan segalanya!   Kaleng    Joget-joget molek Tangan melambai Menjinjing rok mini Gemolet suara Gincu tebal menghiasi bibir Kecup, kesana kemari Demi dunia Kemerlap kota Nyenyet Senyum menusuk Bahkan! nyenyet, membunuh nyenyet, mengepal suara nyenyet, membungkam mata Hingga! Bisik menghantui telinga Jenuh Jenuh Mata mendengar Bisik Telinga Kepada diri Kecewa terbelenggu Mencekik leher Sampai empunya Petik kembang Mata sembab Sembab mata Tanpa kira-kira Petik kembang Mencomot senyum girang Kini tumbang Berlari mencari cabang Dan, harus tenang   Do’a Baca Selanjutnya . . .