Pesantren, Kitab Kuning dan Solusi Zaman Baru

Oleh: Irfan Asyhari* Khazanah dan keunikan pesantren memang tak ada habisnya untuk dibicarakan. Baik persoalan karakteristik santri, maupun kajian kitab gundul (kitab tanpa harokat), atau yang biasa disebut dengan kitab kuning. Sudah menjadi hal yang lumrah bagi santri, yang saban harinya disuguhi sederet rangkaian huruf hijaiyah, kalimat-kalimat berbahasa Arab, dan seabrek persoalan di dalamnya. Meskipun di era saat ini, pesantren sangat mudah diakses dari berbagai arah, seperti lewat akun instagram maupun website, hal ini menunjukkan jika pesantren mencoba beradaptapsi dengan seluruh kalangan masyarakat luas, memperkenalkan dunia pesantren melalui media guna mengejawantahkan Islam yang rahmatan lil alamin. Meski di tengah era Baca Selanjutnya . . .

Pesantren “Character Building” Bangsa

Oleh : KH Ali Maksum Pesantren kita seluruhnya didirikan, dibina dan dikembangkan dengan cara-cara yang penuh mandiri, atau istilahnya wiraswasta penuh. Sehingga segala segi kehidupan pesantren selalu berada pada kompetensi mandiri tersebut. Para santri diarahkan pada kesadaran yang tinggi tentang tangggung jawab hari depan dan nasib umat secara mandiri. Bukan menggantungkan pada semua pihak, bahkan menurut rabaan kami, jiwa mandiri ini telah menyatu dengan jiwa kesantrian. Dalam arti, siapa tidak mandiri maka kesantriannya kurang sempurna. Karena sikap mandiri yang penuh inilah, kemudian menimbulkan berbagai dampak baru. Mandiri dalam kurikulum, mandiri dalam usaha pengembangan pesantren, dan dalam berbagai hal. Dari sini Baca Selanjutnya . . .

Pesantren: Benteng Terakhir Ajaran Islam

Oleh : KH Ali Maksum Kalau kita mau mempelajari sejarah dan mengenali hakekat pesantren, maka akan jelas bahwa pesantren tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan Islam di Indonesia dari kemurnian ajarannya. Di pesantren, diajarkan makna Alquran kata demi kata, makna hadis kata demi kata, juga diajarkan kitab kitab tafsir karangan para sahabat dan tabiin, kitab-kitab fiqih, tauhid, usul fiqh, tauhid, hasil penulisan para ulama mujtahid yang benar-benar ahli Alquran dan Sunnah secara langsung. Pesantren juga mengenal kita-kitab karangan orang sekarang, baik yang berbahasa Arab maupun Bahasa Indonesia. Tapi hal itu sekedar dipakai perbandingan, bukan pelajaran pokok, dan justru pesantren menempuh cara Baca Selanjutnya . . .

KH Bisri Mustafa di Mata KH Ali Maksum

Tulisan ini bersumber dari tulisan KH Ali Maksum (1915-1989) sendiri yang berjudul “Referen Santri”. Tulisan itu tersusun dengan rapi dalam sebuah buku berjudul “Ajakan Suci” yang terbit tahun 1993. Sengaja kami ketik ulang mengingat pemahaman keagamaan tekstualis yang keluar dari pakem yang kini kian menguat. Di mata saya, al Maghfurlah KH Bisri Mustafa (1915-1977) adalah ulama besar yang mempunyai kepribadian istimewa. Meskipun ada juga kiai lain yang menganggap beliau bukan ulama besar sekaliber KH Kholil Harun atau KH Chamzai misalnya, sebab beliau belum nampak khusuk, belum tertib puasa senin-kamis, tidak ikut tarekat manapun, malahan kalau ngobrol kuat semalam suntuk. Tapi Baca Selanjutnya . . .

Meneliti Pesantren Krapyak, Miss Claire Hefner Kagum Potensi Diri Santri

Ruangan yang tak kuasa membendung deru suara itu terpaksa menyilakan godam palu dan timba jatuh dari pekerja bangunan untuk menyertai diskusi rutin bertajuk “Ngobrol Asyik dengan Miss Cantik” yang dihelat di aula komplek H Pondok Pesantren Ali Maksum, Jumat 27/07/2018. Sementara Ms. Claire terlihat sangat menikmati suasana. Anak dari Prof. Robert W. Hefner itu terlihat nyaman dengan kepala berbalut jilbab, berpakaian serapi santri, dan benar dialah Miss Cantik. Ia membaur, dengan sesekali mata cemerlangnya mengamati wajah para santri. Menyejukkan. Diskusi rutin yang digelar dan itu berjalan dengan asik. Perkenalan, bertukar ide dan pengalaman akademis, sampai cerita keseruan hidup di Yogyakarta Baca Selanjutnya . . .

Dinamika Pesantren Krapyak : “Mulai dari Pendidikan Al-Qur’an hingga Membangun Karakter Qur’ani”

Oleh : Nur Lailatil Mubarokah* Fakta sejarah mengungkapkan bahwa lembaga pendidikan Islam merupakan faktor yang cukup berpengaruh dalam dinamika perkembangan Islam di Nusantara. Salah satu lembaga pendidikan Islam tradisional yang sampai saat ini masih memberikan kontribusi positif bagi dinamika Islam di Nusantara adalah pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang pertama kali berdiri di Indonesia. Sampai di era modern, pesantren tetap mampu menunjukkan vitalitasnya sebagai kekuatan sosial, kultural dan keagamaan yang, turut membentuk bangunan dari kebudayaan Indonesia modern. Pesantren memberikan peluang dalam menghidupkan syiar Islam kepada masyarakat. Karena tidak jarang di lembaga-lembaga pendidikan formal, seperti universitas, diadakan kajian-kajian Baca Selanjutnya . . .