5 Prinsip Supaya Hidup Tanpa Musuh

Kalau ada orang tidak merasa butuh orang lain, apakah besok kalau mati mau mandi sendiri? Bungkus kain kafan sendiri? Nyolati sendiri terus ngesot sendiri ke maqbaroh? Oleh : KH. Hendri Sutopo Saat duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, aku pernah mengaji kitab Akhlak At Takhliyah wa at-Targhib fi at-Tarbiyah wa at-Tahdib karya Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki. Di dalamnya ada Syair yang, alhamdulillah sampai sekarang masih kuhapal. Syair yang saya maksud itu berbunyi demikian “Wamaa bikatsiirin alfu khillin wa shookhibin & Wainna ‘aduwwan waakhidan lakatsiiru“. “Tidaklah terasa banyak orang punya seribu teman, tetapi yang akan terasa banyak kalau punya musuh satu” Baca Selanjutnya . . .

KH. Buchori Masruri tentang KH. Ali Maksum (Bagian III-habis)

~ Gus Dur Ceramah depan Pendeta dan Ajakan Doa Menteri Agama ~ Oleh : Ustadz M. Zaky Mubarok  Pernah suatu saat Gus Dur ceramah di hadapan 40 Pendeta Kristen di Surabaya. Masyarakat Indonesia gempar. Suasana menjadi ramai. Saya kemudian sowan ke Pak Ali. “Kados pundi Pak, niki tiang2 sami rame. Gus Dur kog dibahas teng pundi-pundi ceramah teng ngajenge pendeto Kristen.” (Bagaimana Pak, ini semua orang pada ramai. Gus Dur kok dibahas di mana-mana tatkala ceramah di depan Pendeta Kristen). Pak Ali kemudian menjawab dengan begitu entengnya. “Lah nek Durraahman Wahid ora gelem ceramah ngarepe Pendeto, sok kapan maneh Pendeto ngerukno Quran”. Baca Selanjutnya . . .

KH. Buchori Masruri tentang KH. Ali Maksum (Bagian II)

~ Disiplin dan Bersahabat ~ Oleh :  M. Zaky Mubarok  Pernah suatu malam saya diutus Pak Ali untuk “mijeti idak-idak“. Tapi itu dimulainya dari ba’da Isyak sampai Subuh loh. Kalau beliau tidur saya turun dan berhenti, sambil makan minum apa saja yang ada, untuk sekedar menstabilkan staminaku. Ada Kopi saya minum Kopi, ada Air saya minum Air, ada Roti ya saya makan. Kalau Pak Ali bangun saya naik dan mijeti idak idak lagi. Tiap kali saya mijeti idak idak, tembok beliau saya tulisi. Tanggal sekian mijeti, tanggal sekian mijeti. Sampai Pak Ali dawuh “temboke kyai kog digawe agenda” (temboknya Kyai kok Baca Selanjutnya . . .

KH. Buchori Masruri tentang KH. Ali Maksum (Bagian I)

Oleh :  M. Zaky Mubarrok* Pak Ali itu punya aturan nyleneh. Unik, langka. Takkan pernah ada di dunia ini. Bagaimana tidak, pada satu kesempatan, beliau pernah dawuh, “Siapa saja santri mengambil barang milikku, maka halal baginya selama tidak ketahuan.” Tegas Pak Ali saat itu. “Ayo kiai siapa coba yg berani meniru?” Tantang Pak Buchori kepada seluruh hadirin sambil tertawa lepas. Pernah suatu malam ada 2 orang santri bermaksud mencuri Kelapa milik Pak Ali. Yang satu manjat pohon yang satu lagi menunggu di bawah sambil membawa senter. Santri yang manjat pohon itu berpesan pada temennya yang menunggu di bawah, bahwa jangan sampai Baca Selanjutnya . . .