Kisah Mbah Ali, Karib Tokoh Muhammadiyah dan Celana

durasi baca: 3 menit Mbah Ali sering dianggap punya kemampuan spektakuler serta berpandangan luas. Baik dari segi keilmuan, persahabatan, sampai hal-hal seperti pesepakbola legendaris; Diego Armando Maradona dan petinju kenamaan—yang kebetulan memiliki kesamaan nama dengan beliau—Muhammad Ali. Dalam khasanah pesantren, kisah cerita seorang kiai yang memiliki kemampuan spektakuler kerapkali muncul. Cara-cara mendidik santri yang kerap aneh membuat dugaan kemampuan spektakuler itu muncul. Ketangkasan Mbah Ali dalam placing dan membaca peluang strategis sulit diragukan, juga pengalamannya dalam pembaruan pendidikan pesantren yang sangat mashur. Dimulai dari Tremas, Krapyak sampai PBNU pembaharuannya menuai banyak pujian. Lantas KH Masdar Farid Mas’udi menyebutnya sebagai kiai yang berpandangan modern. Mbah Baca Selanjutnya . . .

Kembali Kepada Kepemimpinan Ulama

durasi baca: 4 menit Oleh : KH Ali Maksum Perkenankanlah di sini kami mengkaji sedikit tentang NU di hari-hari pertama didirikannya. Dengan harapan agar dapat kita petik intinya, lalu kita pegangi dalam menjalankan roda jam’iyah. Sebab bagaimanapun, para leluhur NU kita tetap lebih utama daripada kita. الفضل للمبتدي وإن احسن المقتدي “Keutamaan tetap di tangan perintis, kendati si penerus lebih baik adanya” Dalam Anggaran Dasar NU yang pertama, seperti tertuang “Statuten 1926”, didirikannya jam’iyah NU ini dimaksudkan untuk keteguhan bermadzhab empat dan juga untuk kegiatan apa saja yang menjadikan kemaslahatan agama Islam. Lalu dalam pasal berikutnya, dikemukakan beberapa cara untuk mencapai maksud tersebut, yaitu: Baca Selanjutnya . . .

Pesantren “Character Building” Bangsa

durasi baca: 3 menit Oleh : KH Ali Maksum Pesantren kita seluruhnya didirikan, dibina dan dikembangkan dengan cara-cara yang penuh mandiri, atau istilahnya wiraswasta penuh. Sehingga segala segi kehidupan pesantren selalu berada pada kompetensi mandiri tersebut. Para santri diarahkan pada kesadaran yang tinggi tentang tangggung jawab hari depan dan nasib umat secara mandiri. Bukan menggantungkan pada semua pihak, bahkan menurut rabaan kami, jiwa mandiri ini telah menyatu dengan jiwa kesantrian. Dalam arti, siapa tidak mandiri maka kesantriannya kurang sempurna. Karena sikap mandiri yang penuh inilah, kemudian menimbulkan berbagai dampak baru. Mandiri dalam kurikulum, mandiri dalam usaha pengembangan pesantren, dan dalam berbagai hal. Dari sini Baca Selanjutnya . . .

Pesantren: Benteng Terakhir Ajaran Islam

durasi baca: 3 menit Oleh : KH Ali Maksum Kalau kita mau mempelajari sejarah dan mengenali hakekat pesantren, maka akan jelas bahwa pesantren tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan Islam di Indonesia dari kemurnian ajarannya. Di pesantren, diajarkan makna Alquran kata demi kata, makna hadis kata demi kata, juga diajarkan kitab kitab tafsir karangan para sahabat dan tabiin, kitab-kitab fiqih, tauhid, usul fiqh, tauhid, hasil penulisan para ulama mujtahid yang benar-benar ahli Alquran dan Sunnah secara langsung. Pesantren juga mengenal kita-kitab karangan orang sekarang, baik yang berbahasa Arab maupun Bahasa Indonesia. Tapi hal itu sekedar dipakai perbandingan, bukan pelajaran pokok, dan justru pesantren menempuh cara Baca Selanjutnya . . .

Membentuk Intelektual Ulama

durasi baca: 2 menit Oleh : KH Ali Maksum Apabila kita berbicara masalah pendidikan di Indonesia, memang sedikit pun tidak bisa lepas dari kepesantrenan. Bukan saja karena pesantren itu adalah satu-satunya lembaga pendidikan yang tertuta di Indonesia, tetapi juga karena pesantren itu mempunyai berbagai fungsi. Dan karenanya maka sesungguhnya sistem pesantren adalah sistem yang terbaik. Pesantren mengajarkan ilmu pengetahuan, mendidik kepribadian yang luhur dan menuntut pengalaman ilmu tersebut; pesantren tetap memimbing alumninya setelah pulang, kendatipun berada di tempat yang jauh. Pesantren menjadi kekuatan spiritual, kubu pertahanan dakwah Islam. Pesantren menciptakan konsepsi, mendadar dan menguji konsepsi tersebut sekaligus memimpin operasionalnya; pesantren menanamkan jiwa yang militant Baca Selanjutnya . . .

Urgensi Sikap dalam Perjuangan

durasi baca: 3 menit Oleh : KH Ali Maksum Kekuatan pertahanan diri ulama, bukanlah barang murahan, bukan pula mudah membuatnya. Hal itu muncul sebagai buah dari sikap keimanan yang kuat, loyalitas penuh kepada Allah, dan keberanian menanggung resiko demi mempertahankan yang haq. Dalam bahasa agama kita, loyalitas penuh kepada Allah ini, disebut dengan ikhlas. Imam Ghazali menyatakan: تجرد الباعث الواحد لله تعالى “Ketunggalan motivasi diri, yaitu hanya karena Allah” Dengan keikhlasan ini, kita selalu stabil dalam membawa diri, sebab pangkal pandangannya hanyalah Allah SWT. Lebih jauh dapat dikatakan, bahwa keikhlasan adalah suatu jenjang (dimensi) di mana bertemu antara prakarsa Allah dan keluhuran budi manusia. Baca Selanjutnya . . .

NU dan Kemaslahatan Dunia

durasi baca: 4 menit Oleh : KH Ali Maksum Tidak saja warga dan pengurus NU, tetapi seluruh bangsa Indonesia mengharapkan agar seluruh program-program NU sejalan dan mendukung program pembangunan nasional. Kalau ini terjadi berarti kemanunggalan ulama umara secara terbuka dan wibawa, InsyaAllah akan tercapai. Dengan demikian terpenuhi modal dasar dalam ikhtiar mewujudkan kemaslahatan bangsa dan negara. Dalam kitab “Adabud Dunya wad Din”, Imam al Mawardi menyebutkan enam hal yang harus dipenuhi guna kemaslahatan dunia, yaitu: 1. الدين المتبع atau agama yang dianut. Kita jelas mempunyai agama dan bahkan hal ini menjadi isyarat mutlak bagi pengamalan Pancasila. Dalam kaitan ini, agama berfungsi antara lain menjadi Baca Selanjutnya . . .