Mengenal Budaya ‘Mengaji’ Alquran Kaum Orientalis

durasi baca: 3 menit Oleh : Hana Rosita* Sebelum mengenal bagaimana budaya kaum orientalis dalam ‘mengaji’ Alquran, ada baiknya tulisan ini dimulai dengan mengenal terlebih dahulu siapakah itu orientalis. Secara sederhana orientalisme dapat diartikan sebagai sebuah gerakan pemikiran terhadap luar Eropa. Jadi, orientalis adalah seseorang yang melakukan kajian tentang masalah-masalah ketimuran, mulai dari sastra, bahasa, antropologi, sosiologi, psikologi sampai agama dengan menggunakan paradigma eurosentrisme (pengalaman barat), hingga menghasilkan konklusi yang distortif tentang objek kajian yang dimaksud. Belum diketahui secara pasti sejak kapan dan siapa orang Eropa yang pertama kali memiliki perhatian terhadap studi ketimuran. Orientalisme dimulai oleh kaum orientalisten dengan mempelajari bahasa Arab dan Baca Selanjutnya . . .

Pengantar Sejarah Alquran (9): Penambahan Titik dan Harakat Pada Penulisan Alquran

durasi baca: 3 menit #Pengantar_Sejarah_Alquran (9)Oleh: Ust. Abdul Jalila Muhammad, M.A Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa Alquran di masa khalifah Usman masih belum atau tanpa titik dan harakat. Fakta itu menimbulkan pertanyaan, apakah para sahabat belum mengenal titik, harakat atau tanda-tanda lain dalam penulisan kata dan kalimat?. Keraguan itu terjawab dari beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa sahabat sudah mengenal al-Naqth dalam penulisan. Akan tetapi tidak ada penjelasan detail mengenai hal ini. Misalnya, diriwayatkan bahwa sahabat Ibnu Umar tidak suka penulisan “al-naqth” pada mushaf. Begitu juga diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud berkata: “Jangan campurkan dalam penulisan Alquran/mushaf dari selain Alquran”. Namun, para sahabat yang menolak menyertakan al-naqth bukan Baca Selanjutnya . . .

Pengantar Sejarah Alquran (2): Kondisi Masyarakat Arab Sebelum Turunnya Alquran

Sumber Foto: globalvillagespace.com

durasi baca: 3 menit Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Di dalam studi Islam, pembahasan mengenai masyarakat Arab pra-Islam serta kawasannya merupakan hal yang sangat penting. Karena ia menjadi tempat awal munculnya Islam. Mengenai hal tersebut terdapat beragam buku yang membahas sejarah Arab pra-Islam, salah satu buku yang cukup komprehensif dalam topik ini adalah : al-Mufashshal fi Tarikh al-‘Arab Qabl al-Islam karya Jawad ‘Aly seorang sejarawan asal Irak. Selain karya tersebut, ada Ahmad Amin, seorang pemikir Mesir yang juga menulis tentang aspek ilmu dan pemikiran Arab pra-Islam yang ia beri judul Fajr al-Islam. Sebagai informasi, buku tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Baca Selanjutnya . . .

Pengantar Ilmu Qira’at (Bagian IV)

durasi baca: 2 menit Oleh : Ustadz Abdul Jalil Muhammad SYARAT-SYARAT “AL-QIRA’AH AL-SHAHIHA” Jika kita bisa mengatakan bahwa ada qira’ah yang diterima dan yang ditolak, ini berarti terdapat tolak ukur diterimanya suatu qira’ah/bacaan, atau dapat disebut al-qira’ah al-shahiha al-maqbula. Siapakah ulama yang pertama membicarakan soal ini? Ada yang mengatakan Ibnu Mujahid al-Baghdadi (w. 324 H)[1], ada juga yang berpendapat Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam (w. 224 H). Secara umum ada tiga syarat untuk diterimanya suatu qira’ah, yaitu: (1) Sanadnya Shahih, (2) Sesuai dengan rasam salah satu mushhaf Utsmani, dan (3) Sesuai dengan kaidah dan tata bahasa Arab. Konsekuensi dari qira’ah shahiha dan syadzah adalah: Baca Selanjutnya . . .

Pengantar Ilmu Qira’at (Bagian III)

durasi baca: 2 menit Oleh : Ustadz Abdul Jalil Muhammad HADIS-HADIS TENTANG AL-QURAN DITURUNKAN DENGAN “SAB’AH AHRUF” Tema ini masih berkaitan dengan pertemuan kemarin, sejarah qira’at. Hadis- hadis ini sudah banyak dibahas oleh ulama sampai masa kini. Ada yang membahasnya dalam buku khusus, ada pula yang membahas dalam salah satu bab Ulumul Qur’an atau Ilmu Qira’at. Hadis ini diriwayatkan oleh banyak sahabat (lebih dari 20 sahabat), menurut ulama Sunni hadis ini shahih, bahkan mencapai mutawatir. Beda dengan sebagian ulama Syiah. Terdapat beberapa redaksi riwayat: sab’ah ahruf, tsalatsah ahruf, atau harf wahid? Di antaranya hadis tentang sahabat Umar bin Khathab dan Hisyam bin Hakim yang Baca Selanjutnya . . .

Pengantar Ilmu Qira’at (Bagian I)

durasi baca: 2 menit Oleh : Ustadz Abdul Jalil Muhammad RUANG LINGKUP ILMU QIRA’AT Qira’at adalah bentuk jamak dari kata qira’ah yang artinya bacaan. Makna dasar dari kata qara’a adalah: (1) al-jam’u wa al-dhamm (mengkumpulkan dan menggabungkan), (2) tilawah. Sedangkan salah satu definisi qiraat sebagai disiplin ilmu adalah yang dijelaskan oleh ibnul Jazari (w. 833H): ilmu tentang tata cara membaca kata-kata Alquran dan perbedaannya yang disandarkan kepada perawinya. Yang dapat digaris-bawahi dari definisi tadi terkait ilmu qiraat: (1) Cara membaca lafal Alquran dan perbedaannya, (2) siapa yang membaca. Jika dikaitkan dengan ilmu tajwid, maka di antara sisi hubungan tajwid dan qiraat ialah tajwid menjelaskan Baca Selanjutnya . . .