Suka – Duka menjadi Muadzin Krapyak dan Pendengaran adalah Kunci

by Oktober 26, 2017
Esai Uncategorized 0   322 views
durasi baca: 4 menit

 


Kita susah menyadari bahwa telinga kita adalah organ pertama yang sanggup kita gunakan sejak pertama kali dilahirkan. Pendengaran akan merespon penglihatan serta mulut untuk bekerja. Akan sia-sia bila kita mencoba untuk menahan telinga kita untuk tidak mendengar, barang sekali pun. Meskipun kita sedang terkonsen pada satu hal, pasti hal lain disekitar kita akan terdengar pula. 


Oleh : AFQO*

Mencoba merasa dekat dengan Tuhan adalah impian semua orang beriman. Jangankan hanya ingin dekat, memanggil Tuhan dalam adzan pun, terkadang diidam-idamkan. Bahkan suatu persaingan.

Tapi ini bukan soal bersenandung enak di bawah lindungan payung Adzan. Sama sekali bukan. Ini persoalan penghargaan terhadap hak publik. Kalau soal ber-adzan saja, anak kecil juga bisa.

Ada perbedaan jelas ketika kita mencoba adzan sendiri dalam kamar misalnya, dengan mengumandangkan adzan di Masjid.

Sama-sama mengumandangkan adzan, tapi yang satu di ranah privat sedangkan satu yang lain di ranah publik. Otomatis pertimbangan-pertimbangan publiklah yang fardhu terlebih dahulu harus diselesaikan. Jadi sebelum Anda Adzan, mbok dikiro-kiro, apakah adzan Anda sudah enak dan pantas didengarkan khalayak. (Tidak seharusnya) Anda langsung nyelonong menyalakan mikropon dan lantas adzan. Kecuali, kalau tidak terpaksa juga, misal sudah menanti lama, tapi muadzin belum juga datang.

Kita susah menyadari bahwa telinga kita adalah organ pertama yang sanggup kita gunakan sejak pertama kali dilahirkan. Pendengaran akan merespon penglihatan serta mulut untuk bekerja. Akan sia-sia bila kita mencoba untuk menahan telinga kita untuk tidak mendengar, barang sekali pun.

Meskipun kita sedang terkonsen pada satu hal, pasti hal lain disekitar kita akan terdengar pula. Orang yang berbicara lebih dari lima meter, sedikit banyak akan kita dengar. Bahkan dalam kondisi tidur pun, telinga masih bisa berfungsi.

Seperti yang dialami oleh Srintil yang meskipun tubuhnya lemas, matanya  terlelap, dia tertidur di area Pasar Dawuan musabab hanyut mendengarkan Wirsiter yang sedang bersenandung Asmara Dahana. Pun ketika dia bangun, juga musabab telinganya sanggup menangkap suara dari Wirsiter tersebut (dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk).

Lain dengan mata dan mulut yang bisa ditahan dan atau dibatasi fungsinya dengan menutup. Karenanya kita diadzani di telinga sebelah kanan dan diiqomahi di sebelah kiri.

Pun tatkala kita sensitif lantas agresif dengan omongan orang, itu sebab kita mendengarkan. Pendengaran adalah kunci. Agresifitas kita itu bukan semata karena mereka yang berbicara. Melainkan kita yang benar-benar tidak bisa menahan telinga untuk tidak mendengar.

Sejalan dengan itu, di Krapyak ada hal yang sedemikian menarik, yang telah ada dan hampir pasti dilakukan, yaitu sikap ketidakseganan bila ada santri adzan di Masjid pusat atau di sekitaran komplek pesantren Krapyak yang kebetulan terdengar kurang nyaman di telinga.

Lantas adzan yang terdengar seketika itu pula banjir reaksi dengan berkoar-koar, “Mudun Kang! Mudun!”, “Suoromu Elek Kang!”, “Jo Baleni Maneh Kang!”, “Adzan nang Masjid liyo wae Kang!”, bahkan sindiran “Adzano maneh Kang! Adzanmu enak dewe!”. Kecaman ini mencuat sebab publik merasa haknya untuk mendengar keindahan telah dirampas. Sebenarnya saya dulu sempat shok dan gumun, “ini ada orang adzan kok malah dibalas kek gini. Mending dia, mau adzan meskipun ya kayak begitu suaranya. Daripada kalian yang hanya sanggup berkoar-koar”, geremangku dulu pas awal lihat kek gituan.

Jelas lain cerita jika adzannya bagus dan enak. Umpatan-umpatan “macam mencegah kedholiman” seperti itu, mustahil terdengar (Sebentar, ini bukan soal umpatannya. Tetapi soal reaksi mencegah kedhaliman). Berganti dengan suasana yang tenang, adem ayem toto rahardjo. Bahkan, sekarang ini tidak sedikit pula, santriwati-santriwati yang kagum, hingga menjadikan adzannya sebagai story di WA ataupun Instagram. Eh. Dan tidak jarang pula, adzan itu mengantarkannya pada tangga ketenaran dan fans yang melimpah ruah, seperti yang dialami teman sekamarku yang rempong ngurusi para fans-nya.

Pernah suatu ketika, dikala Mbah Zainal Abidin Munawwir masih sugeng, ada santri adzan di Masjid Krapyak, ketika adzan, ekspresi dia terlihat tenang, santai dan menjiwai. Di luar itu, para santri yang kebetulan kompleknya berada di sekeliling masjid, berkoar-koar kurang bersahabat. Kemudian, semua itu berubah ketika ada seorang santri yang menghampirinya tatkala ia selesai adzan, dan berbicara dengan lirih,

“Kang, sampean dipadosi Mbah Zainal. Ken rawuh ten ndalem. Sakniki.”.

Sontak dia kaget. Ekspresinya berubah antara bingung dan sumringah.

“Wah, tumben-tumben Mbah Zainal manggil saya. Jangan-jangan mau….”

Setelah menuruti apa kata santri itu, muadzin tadi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ndalem Mbah Zainal, yang tempatnya bersebelahan dengan Masjid. Tak disangka-sangka, sekembalinya dari ndalem, wajah muadzin itu sangat lusuh, pucat dan diam seribu bahasa.

Usut punya usut, ternyata Mbah Zainal tidak menghendaki dia untuk adzan di Masjid Krapyak lagi. Alasan Mbah Zainal kurang menghendaki adalah pertama, kurang sepaham dengan makhrojnya. Kedua, kualitas suaranya tidak untuk konsumsi umum. Ya bagaimana lagi, mafhum mukholafahnya demikian, adzan merupakan panggilan salat. Jika panggilan menyerukan sembahyang tersebut kurang menarik perhatian, jangan salahkan bila masyarakatnya pun enggan menerima panggilan tersebut. Masjid pun menjadi sepi. Nah, dari sini persoalan adzan pun, harus memafhumi publik.

Belajar dari peristiwa itu, istri Mbah Zainal yakni Ibu Nyai Ida Fatimah Zainal melakukan semacam pen-taskhih-an bagi para muadzin-muadzin di Masjid Krapyak hingga saat ini. Semacam tes untuk bisa menjadi muadzin tetap di Krapyak. Diam-diam, musabab ini pula yang membuat saya menghindar untuk mengumandangkan Adzan di Masjid Krapyak lagi. Saya menyadari, ternyata ora gampang lur dadi muadzin Krapyak iku.


Telinga itu sendiri, menurut saya, adalah kristal literatur Islam yang membedakannya dengan keilmuan barat yang berdasar hanya dengan panca indera. Kita sering membaca riwayat hadis dengan redaksi “saya mendengarkan dari”, “saya mendengarkan begini”, dan semacam itu. Bahkan hampir keseluruhan hadis itu diriwayatkan dari hasil “mendengarkan”.

Al-Qur’an juga mendahulukan “pendengaran” daripada “penglihatan” (QS.2:07,20, QS.6:46, QS. 10:31, QS. 16:108, QS. 19:38, QS. 45:23). Mungkin, barangkali tradisi lisan sempat disepelekan oleh Barat, akan tetapi, faktanya tradisi lisan telah melahirkan peradaban yang unggul bagi masing-masing peralihan peradaban. Penonjolan atas kekuatan pendengaran dalam tradisi keilmuan Islam merupakan nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an.

*) Afrizal Qosim – Santri Al Munawwir Krapyak

baca juga : Apa salah dan dosa santri putri, hingga kungapusi Mbah Kiai

Tinggalkan Balasan