Silaturrahmi dan Rilhlah Ilmiah : Ma’had ‘Aly At Tarmasi

by Februari 11, 2017
Event Warta 0   199 views
durasi baca: 3 menit

KRAPYAK – Bertempat di Aula AB (11/02/17) Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta berkesempatan menjadi tuan rumah dalam acara kunjungan atau study banding yang di lakukan rombongan Ma’had ‘Aly Al Tarmasi, Pondok Pesantren Termas, Pacitan yang terdiri dari 95 mahasantri dan beberapa pengasuh.

Rombongan sampai kurang-lebih pukul setengah lima pagi dan menyempatkan diri untuk sholat subuh di masjid utama Pondok Pesantren Al Munawwir. Sebelumnya romongan pertama kali di sambut oleh pengurus pusat dan selanjutnya sowan ke nDalem Ibu Nyai Ida Fatimah Zainal.

Sekitar pukul 06.30, rombongan berpindah posisi ke Aula AB untuk mengadakan acara secara formal dan audiensi bersama Ibu Ida.

Dalam acara ini, sambutan yang pertama disampaikan oleh bapak KH. Abdillah selaku perwakilan dari  Ma’had ‘Aly Al Tarmasi.  Beliau mengungkapkan sejarah Ma’had ‘Aly Al Tarmasi sendiri yang berdiri sejak tahun 2008.

Ma’had ‘Aly Al Tarmasi  merupakan lembaga pendidikan yang berbasis pondok yag mengkaji karya-karya ulama klasik yang bersumber dari kitab kuning. Menariknya, lembaga pendidikan satu ini merupakan salah satu dari Ma’had aly yang ijazahnya diakui oleh pemerintah.

Sambutan kedua disampaikan oleh Ustadz Wahid Luthfi selaku pengurus pusat Pondok Pesantren Al Munawwir. Beliau menyampaikan bahwasannya Ma’had ‘Aly Al Munawwir merupakan ma’had aly yang sudah lama tetapi masih merupakan lembaga pendidikan yang berbasis pondok salafiyah.

Tausyiah disampaikan oleh Ibu Nyai Hj. Ida Zainal M.S.I. yang mana beliau sangat bengga dengan apa yang telah dirintis oleh para masyayikh baik di Termas maupun di Al Munawwir.

Ma’had ‘Aly Al munawwir krapyak merupakan Ma’had ‘Aly tertua kedua setelah Pondok Asembagus Situbondo, namun Ma’had ‘Aly ini masih belum diakui oleh pemerintah sebagai perguruan tinggi Formal. Hal tersebut dikarenakan ketidaksediaan Mbah Zainal Abidin Munawwir selaku pendiri Ma’had ‘Aly Al Munawwir, yang mana untuk bisa diakui harus melibatkan tenaga guru yang telah menepuh S2. Sedangkan gelar belum tentu menguasai secara mendalam apa yang dipelajari atau diajarkan.

Beliau juga menyampaikan bahwasannya Ma’had ‘Aly Al Munawwir tidak hanya sekadar membaca tetapi harus memahami isi kitabnya, karena apabila hanya sekedar bisa membaca maka tidak akan faham apa yang dimaksud oleh pengarang yang tidak tulis didalam kitabnya.

Namun disisi lain juga harus mempunyai waktu untuk Muthola’ah secara Istiqomah, supaya dalam memahami materi kitab dapat difahami secara mendalam dan benar-benar sesuai dengan manhaj tafaqquh fiddin.

Setiap malam Sabtu, Rabu dan Kamis pada jam 21.00 (bada ngaji kitab) sampai jam 12.00 (sampai tuntas pembahasan), Ma’had ‘Aly Al Munawwir selalu diadakan musyawaroh, guna untuk memperdalam pemahaman kajian syari’at Fiqhiyyah.

Dalam musyawarah ini Kitab Minhajut Thullab merupakan kitab karangan Syaikh Abu Yahya Zakariya Al-Anshori (w. 926 h) membuat ikhtishor dari kitab minhajuttholibin karya imam nawawi ad-dimasqi.

Ikhtishor ini merupakan kajian fikih madzhab imam syafi’i yang ringkas dan padat. Tidak hanya meringkas, Syaikh Zakariya juga memberikan catatan pencerahan atas ikhtishor tersebut dengan bahasanya sendiri.

Kitab ini menjadi kajian utama dalam pembahasan Musyawarah, dengan menggunakan sistem begilir, dimana dalam musyawarah ini terdapat 4 petugas dan santri lainnya menjadi Musyawirin atau pemantik materi,  dua orang santri sebagai Qori‘ (pembaca kitab dan penerjemah), satu orang santri sebagai moderator (pemandu jalannya musyawaroh) dan satu orang lagi sebagai katib (penulis hasil musyawarah).

Kemudian pada malam Ahad diadakan musyawarah Waqi’iyyah dalam kata lain biasa disebut dengan Bahtsul Masa’il, yakni musyawarah yang khusus membahas persoalan terkini, penentuan hukum dan haluan fiqih dalam konteks kehidupan modern, Imbuh keterangan dari salah satu santri Ma’had ‘Aly Al Munawwir.

Adapun kelasnya di Ma’had ‘Aly ada 4 tingkatan, yakni Tobaqoh Ula, Tobaqoh Tsani, Tobaqoh tsalis dan Tobaqoh robi’. Sedangkan kelas lanjutan dari ma’had ‘Aly (Mutammimah) ada 4 tingkatan juga yakni Mutammimah Ula, Mutammimah Tsani, Mutammimah Tsalis, dan Mutammimah robi’.

Dan Tugas akhir di ma’had ‘aly di Al Munawwir krapyak yaitu menulis skripsi (Talkhis) yang termuat didalamnya yaitu rangkuman dari semua kitab yang telah dikaji selama mengikuti program dan kegiatan di Ma’had ‘Aly Al Munawwir.

“Kita tidak akan seperti batsul atau apa, kita hanya ingin mengerti perjalanan dari Ma’had ‘Aly di Al Munawwir itu seperti apa, tutur Eka Purwasari selaku Panitia Study Tour Ma’had Aly al Tarmasi saat ditanyai tujuan dari study banding kali ini.

Acara ini diakhiri dengan pembacaan do’a oleh pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwir yaitu KH. R. M. Najib Abdul Qodir Munawwir kemudian diteruskan dengan saling tukar cinderamata. Kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama dengan pengasuh.[Sa’adah/AfQo]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *