Santri Zaman Now

oleh : Rr. Aninda Wibowo*

Sekarang kalau dipikir-pikir orang lebih senang yang langsung jadi. Kalau di amati orang lebih gemar gak capek-capek lalu cling. Semuanya sudah di depan mata.

Sekarang saja, sebagian santri lebih senang sibuk dengan hapenya daripada nderes. Suka lupa saja dengan visi misinya mondok. Katanya bentar, kalau ada waktu luang.

Ngeles sekali, istilah kalau ada waktu luang kalah dengan lombanya waktu. Bukankah baiknya meluangkan waktu? Bukan mencari waktu luang?! Boro-boro nderes. Sebagian jamaah subuh saja tak menyat. Jangankan subuh, jamaah asar yang ganjarannya tiada tara saja masih kalah dengan drama laptop yang bikin baper.

Sekarang kalau dipikir-pikir orang lebih senang yang langsung jadi. Kalau di amati orang lebih gemar gak capek-capek lalu cling. Semuanya sudah di depan mata.

Sekarang saja, sebagian santri lebih senang sibuk dengan hapenya daripada nderes. Suka lupa saja dengan visi misinya mondok. Katanya bentar, kalau ada waktu luang.

Ngeles sekali, istilah kalau ada waktu luang kalah dengan lombanya waktu. Bukankah baiknya meluangkan waktu? Bukan mencari waktu luang?! Boro-boro nderes. Sebagian jamaah subuh saja tak menyat.

Jangankan subuh, jamaah asar yang ganjarannya tiada tara saja masih kalah dengan drama laptop yang bikin baper.

Kalau pulang atau disambang. Ditanyakan oleh Ibu. Sudah sampai juz berapa? Lalu menggeleng dan tersenyum malu. Katanya susah. Masih belajar pelan-pelan. Sang tumpuan tengah mengeles. Entah mengeles atau memang kata hati.

Tak tahu juga.

“Ngaji seng sregep Le. Sesuk nek wes lulus dadi ulama. Ben Bapak Ibu seneng.”

Iku pesannya dulu. Entah sekarang masih ingat atau tidak. Atau yang diingat, sudahkah dapat calon penggenap iman?

Tak tahu juga.

“Santri saiki ora koyo santri biyen,” Kang Nur menyalakan korek untuk rokoknya.

“Yen Santri biyen ki takzim ey ora ngelok-elok ro kyai lan nyaine. Saiki mboh, aku ngeroso wes pudar wae.”

Aku menyerup kopiku.

Santri saiki ora koyo biyen?

Sekali lagi entah. Itu subyektif.

“Lah piye kang? Reti seko endi sampeyan?”

“Wes tau mergoki wae Qih.”

Aku manggut. Kembali menyerup kopiku. Gerimis di luar tenda angkringan masih bersautan. Jam tangan juga baru tunjukkan pukul setengah tiga sore.

“Lah wong saiki wae santri ki aneh. Yen biyen santri ki teko luweh simek seko gurune. Tetep ngenteni mbok suwi kae, terus yen gurune ora sido teko yo bali. Nek saiki, wes ono hape. Takon-takonan nang WA. Guru ne dienteni nang kamar. Basan wes teko lagi siap-siap. Ngulur wektu ben rampung cepet yok terus langsung turu. Duh santri saiki.”

Aku tertawa. Menepuk bahu Kang Nur.

“Sabar Kang. Lah piye to. Wes jaman modern. Mosok arep koyo jaman biyen to Kang?”

Kang Nur guyu cengengesan saja. Menyentil sebatang rokoknya.

“Kabeh ki yo gari pribadi masing-masing Kang. Butuh yo moro. Ora butuh luweh-luweh.”

Kang Nur manggut.

“Bener Qih. Jaman saiki cen simpulane ngono wae. Butuh moro wae. Semoga awak dewe dadi wong seng koyo ngono. Selalu butuh ilmu agama.”

Aku ngangguk maning. Ngelirik kopi eh, uwis entek ternyata. Kang Nur menyodorkan rokoknya, aku menggeleng.

“Ora, ora biasa ngerokok Kang.”

Kang Nur menyeringai. Manggut mengerti.

“Yo apeklah. Jaman ra jelas.”

“Nah kui Kang, karang iki jaman ra jelas. Mane Kang ungkapane Latihanlah mencari kebenaran yang jelas di jaman tidak jelas ini.”

Kang Nur mengerti. Guyu cengengesan setelah menghabiskan rokoknya.

Ia membuang putung rokoknya.

“Yo intine ojo melu-melu jaman ora jelas to Qih?”

Aku mengiyakan. Benar. Intinya jangan ikut-ikutan jaman tak jelas ini.  Jaman sekarang memang sudah memasuki jaman tak jelas.

Penghinaan dimana-mana. Saling menyalahkan jadi santapan sehari-hari. Jo meneh, saling merasa benar wes merajalela. Koyo ora ngerti diri sendiri wae.

Duh Gusti, kiamat wes arep nyedak yo?

Kang Nur benar, santri sekarang berubah. Gelem ngakoni opo ora. Kabeh berubah.  Aku ora tau ngerumongso bener.

Seperti pesan Ibu, “Faqih, mondoklah. Cari ilmu. Jangan merasa pintar, jangan merasa benar dan jangan merasa sudah selesai.”

Aku mengerti. Sejatinya semua berawal dari napsu. Rasa puas dan nyaman. Terlalu nyaman dengan keadaan modern yang sebenar-benarnya tipu daya. Mengakui atau tidak, aku juga sama. Hanya manusia yang sering lalai. Tapi, pondok menjaga. Santri memantapkan.

Aku sadar, sebagian satri telah bertransformasi menjadi santri modern. Menjadi ulama yang mengerti jaman. Mengikuti jaman tapi memilah. Aku mengerti. Sejatinya semua jangan berlebihan. Jangan di buat terlalu nyaman. Karna sebaik-sebaiknya nyaman adalah saat semua amal telah terhitung dan berat baik lebih menjanjikan.

“Kang Nur. Santri pancen wes berubah. Tapi tak rasani ora kabeh.”

Kang Nur nengok padaku. Menatapku.

“Ono ungkapan manusia lebih banyak dinilai bukan dari banyak yang baik darinya tetapi dari satu yang buruk darinya.”

“Kui seng marake sampeyan nilai santri wes berubah Kang. Padahal kui subyektif. Ora kabeh santri berubah. Akang ora to?”

Kang Nur menepuk bahuku.

“Duh Qih sampeyan ki jan. Ngerti wae nek aku wonge kakehan menilai. Suwun Qih neng faktanya uwong cen do koyo ngono. Satu keburukan marake nilai seseorang.”

Aku manggut. Aku juga sadar. Tertampar.

“Yoweslah, intine awak dewe ojo melu jaman ora jelas iki. Pilih seng bener Qih.”

“Iyo Kang. Aku paham kok.”

“Yowes, ayo asaran. Sampeyan jadwal azan to?”

Aku cengengesan. “Kang Nur wae po?”

Aku merangkul Kang Nur. Membayar kopi dan mulai guyon lagi. Berjalan menuju masjid utama. Membelah gerimis sore.

“Yo ora, sampeyan wae Qih. Ben mantep. Sopo reti bar kui akeh santriwati seng klepek-klepek.

Aku menonyor bahu Kang Nur.  “Wes jan. Mikire. Mondok mek lagi golek bojo.”

Kang nur tertawa.  “Lah aku kan ora ngomongke bojo ecieee kepekaan sampeyan qih.”

Aku berdecak. “Iyo-iyo uwislah. Isin aku.”

“Haha kupingmu abang Qih.”

Aku menggosok telingaku lalu berpura-pura melumpuhkan leher Kang Nur. Ia tertawa dan kami meloncat-loncat menuju masjid.

Hah, sore yang menyenangkan.

Hei, aku Santri dan jangan pernah percaya jika aku santri yang sudah sempurna karna realitanya, seperti di atas. Aku sangat buruk. Sampai aku selalu takut barang takbir saja. Sudah pantaskah? Lalu aku bertanya, mana yang lebih baik. Apa yang harus aku lakukan atau aku perbaiki? [Aninda]

*Santri Komplek  R2 PP. Al Munawwir

Tinggalkan Balasan