Santri Almunawwir Selenggarakan Upacara Peringati HUT Ke-74 Negara Kesatuan Republik Indonesia

3 months ago
durasi baca: 3 menit

Krapyak – Tepat 74 tahun Republik Indonesia merdeka. Belajar menjadi bangsa yang baik salah satunya adalah dengan mengikuti upacara kemerdekaan RI yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Kata Bung Karno ‘JAS MERAH’ Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Sabtu, 17 Agustus 2019. Sejak pukul 07.30 pagi, halaman pusat Masjid Jami’ Munawwir Krapyak sudah dipenuhi oleh ratusan santri dari berbagai macam komplek untuk mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan RI (atau orang Jawa biasa menyebutnya ‘Agustusan’).

Petugas upacara berasal dari komplek Nurussalam Putra, sedang tim paduan suara ditugaskan kepada komplek Nurussalam putri. Tepat pukul 08.00 upacara dimulai, setelah sebelumnya diadakan sedikit gladi bersih upacara. Upacara kemerdekaan juga dihadiri oleh para Kiai dan bu Nyai pengasuh PP. Al-Munawwir Krapyak, seperti Romo KH.R.M Najib Abdul Qodir Munawwi, Ibu Nyai Hj Ida Fatimah Zainal, KH Fairuzi Afiq Dalhar dan KH Ijtabahu Rabbahu.

Pembina upacara kali ini adalah Gus Faik Muhammad, yang merupakan buyut dari KH. M. Moenawwir.

Khotbah beliau banyak berisi petuah untuk para santri. Beliau mengingatkan, bahwa ketika ada suatu peringatan maka pasti ada suatu hal yang diperjuangkan, yang tak lain adalah “Kemerdekaan Republik Indonesia”. Bangsa Indonesia memiliki 4 pilar, yaitu:
1. NKRI. Suatu bentuk negara yang saat ini menjadi acuan dunia untuk belajar bagaimana sistem bernegara ala NKRI.

2. Pancasila merupakan dasar negara kita. Nabi Muhammad Saw memberi contoh ketika mendirikan negara Madinah, beliau meletakkan dasar sebuah negara dengan Piagam Madinah. Oleh karena itu, para pendiri bangsa kita meletakkan dasar negara, karena di dalam negara ini terdapat berbagai suku bangsa, etnis, dan agama yang harus direkatkan dengan dasar negara yaitu Pancasila.

3. UUD 1945 merupakan sebuah pembahasan yang didalamnya terdapat hukum-huku bernegara, hukum-hukum beragama, yang menganut nilai-nilai keagamaan dari berbagai agama.

4. Pembukaan UUD 1945. Dengan adanya pembukaan UUD 1945, kita sadar dan terhentak bahwa kita butuh merdeka, kebebasan, dan perdamaian untuk mengisi suatu kemerdekaan yang telah kita terapkan.

Tak lupa beliau menyampaikan khazanah tradisi pesantren-pesantren di Indonesia yang melekat kuat dan menjadi pilar bagi santri di pondok pesantren ada empat, yaitu:

1. Bandongan: bandongan menjadi ciri khas pesantren. Nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh para pendahulu( terutama walisongo) yang telah mengajarkan bagaimana cara untuk mengajarkan sebuah ilmu, yaitu dengan bandongan.

2. Sorogan: Sistem pengambilan ilmu dengan adanya pengamatan langsung dari seorang guru, sehingga guru dapat langsung mentashih kesalahan murid tersebut. Maka, murid benar-benar mendapatkan ilmu yang silsilahnya menyambung hingga Nabi Muhammad Saw.

3. Khidmatan: Berkhidmah kepada pesantren, pada guru-guru, agar ilmu yang kita cari bermanfaat bagi diri kita, anak turun kita , dan bermanfaat untuk nusa dan bangsa. Karena santri percaya dengan barokah para guru, para kyai, Allah akan memberi keberkahan pada kita semua.

4. Tirakatan: Menahan hawa nafsu untuk membersihkan jasad kita yang akan diisi ilmu-ilmu yang suci dari Allah Swt. Maka, kesuacian ilmu memerlukan jasmani yang suci dengan melaksanakan tirakat atau dalam bahasa Arab adalah riyadloh.

Ketika semua berhasil dilaksanakan, fainsyaallah kita akan menjadi seorang santri yang bisa memahami negaranya, seorang santri yang bisa memahami posisinya bahwa ia adalah seorang penuntut ilmu.

Sehingga, di kemudian hari akan muncul dalam dirinya sikap tasamuh, tawasuth dan tawazun seperti yang telah digariskan oleh para pendahulu kita. Oleh karenanya, ketika ada tasamuh, tawasuth dan tawazun maka santri tidak mudah kaget melihat fenomena-fenomena sosial yang muncul pada saat-saat ini.

Demikian, santri tetap tenang, santri tidak mudah mengalir mengikuti arus yang tidak ada arahnya, santri akan menjadi safinah (perahu) yang bisa menyelamatkan diri nya, masyarakat, nusa dan bangsanya.

Setelah pidato selesai, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu wajib ’17 Agustus 1945’ oleh tim paduan suara. Sebagai penutup, KHR. Najib Abdul Qodir membacakan do’a serta tak lupa berdo’a untuk kemanan dan keutuhan NKRI.

Reporter: Alma/R2
Editor: afqo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *